Mayoritas eksekutif bisnis global kini mengaitkan kesuksesan perusahaan mereka dengan efektivitas performa dalam menjaga kelestarian lingkungan pada tiap operasional kerja. Hubungan erat ini dipaparkan dalam survei global terbaru dari perusahaan solusi berkelanjutan Onterris, seperti dilansir dari Lestari.
Riset tersebut mendapati bahwa korporasi yang memiliki program lingkungan lebih maju mempunyai peluang tiga kali lebih besar untuk mewujudkan target mereka secara lebih cepat. Selain itu, mereka juga berpeluang dua kali lebih besar untuk memperoleh modal usaha sekaligus tampil lebih kompetitif di pasar.
Berdasarkan data penelitian, sebanyak 90 persen dari 500 pemimpin perusahaan senior yang disurvei mengaku lebih mudah memperoleh modal selama lima tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 43 persen di antaranya mencatatkan keuntungan yang sangat besar.
Laporan itu juga menunjukkan bahwa bagi hampir 8 dari 10 pemimpin perusahaan, kinerja menjaga lingkungan yang baik memberikan dampak positif bagi posisi persaingan komersial mereka. Langkah ini dinilai efektif dalam mempertahankan loyalitas konsumen serta menjadi pendorong utama ekspansi bisnis.
Jajak pendapat yang berlangsung pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 ini menghimpun respons dari 500 pengambil keputusan tingkat tinggi, termasuk jajaran direktur utama (C-suite). Komposisi peserta mencakup 60 persen perwakilan perusahaan di Amerika Utara, 20 persen di Eropa, serta 20 persen di Australia dan Selandia Baru, dengan rentang pendapatan 250 juta hingga 5 miliar dolar AS.
Hampir seluruh pemimpin yang terlibat menegaskan telah memiliki panduan spesifik terkait urusan lingkungan. Sebanyak 76 persen di antaranya meluncurkan target terukur, dan 75 persen melaporkan realisasi program yang berjalan sesuai jalur.
Sebanyak 54 persen peserta menempatkan kinerja lingkungan sebagai pilar inti dari strategi pertumbuhan jangka panjang mereka. Sementara itu, 30 persen menganggapnya pendorong inovasi pasar, dan hanya 16 persen yang melihat agenda ini sekadar kewajiban regulasi atau mitigasi risiko.
Perusahaan juga memetik keuntungan finansial berupa efisiensi pengeluaran melalui perencanaan lingkungan yang matang. Sebagian besar korporasi berhasil memangkas biaya pengelolaan serta pembuangan limbah.
Dalam aspek tersebut, 31 persen emiten melaporkan penurunan biaya yang signifikan mencapai 10 persen atau lebih. Sektor pemangkasan pengeluaran energi dan tata kelola air juga mencatatkan angka penghematan yang serupa.
Ditinjau dari rumpun industri, sebanyak 80 persen pelaku sektor pembuatan bahan kimia telah mengadopsi strategi lingkungan khusus dengan target jelas. Angka ini melampaui rata-rata gabungan seluruh sektor yang berada di posisi 76 persen.
Sebaliknya, sektor manajemen sampah, limbah padat, dan manufaktur industri menjadi bidang yang paling banyak berada di tahap awal penerapan. Bahkan, sepertiga pemimpin di sektor pengelolaan sampah mengaku terlambat merealisasikan target lingkungan mereka.
Faktor Pendorong dan Validitas Data Lingkungan
Motivasi internal korporasi dalam merancang program lingkungan meliputi peningkatan manajemen risiko serta ketahanan bisnis (47 persen). Faktor berikutnya ialah peluang menciptakan operasional yang hemat (44 persen) serta transisi menuju adopsi teknologi baru (40 persen).
Sentimen ini diperkuat oleh kebijakan internal perusahaan, di mana lebih dari separuh pemimpin menyatakan bonus atau gaji jajaran direktur utama dikaitkan langsung dengan performa lingkungan mereka. Kendati pencatatan nilai performa lingkungan meluas, prioritas indikator yang diukur belum merata.
Sebanyak 84 persen perusahaan aktif mendokumentasikan emisi gas rumah kaca langsung seperti Scope 1 dan 2, sedangkan 80 persen memantau efisiensi energi. Namun, baru 35 persen korporasi yang mencatat emisi Scope 3 yang berasal dari pihak luar seperti pemasok, akibat kendala pengumpulan data.
Kondisi ini memicu tantangan baru pada aspek akuntabilitas publik. Hanya sekitar setengah dari pemimpin perusahaan yang meyakini akurasi data lingkungan mereka, sementara 49 persen mengonfirmasi bahwa investor dan lembaga perbankan sering mempertanyakan validitas laporan tersebut.
Sebanyak 70 persen responden menyatakan bahwa pemodal menuntut skema perubahan iklim yang terperinci mengenai metode pencapaian target reduksi polusi.
"Kinerja lingkungan telah mencapai titik balik yang sangat penting," kata Direktur Operasional Onterris, James Laws.
"Hal yang dulunya hanya dianggap sebagai kewajiban mematuhi aturan pemerintah, sekarang menjadi faktor yang sangat menentukan dalam cara perusahaan bekerja, mengatur modal uang, dan bersaing," paparnya lagi.
James Laws menambahkan bahwa fase berikutnya terfokus pada implementasi nyata di lapangan. Korporasi yang mampu mengukur, membuktikan, dan bertindak berbasis data lingkungan diproyeksikan memimpin dalam aspek efisiensi biaya, tata kelola risiko, serta kepemimpinan pasar.