Ecolab Perluas Pabrik Citeureup untuk Perkuat Rantai Pasok Asia Tenggara

Ecolab Perluas Pabrik Citeureup untuk Perkuat Rantai Pasok Asia Tenggara
Foto: Ilustrasi Ecolab Perluas Pabrik Citeureup untuk Perkuat Rantai Pasok Asia Tenggara.

Ecolab resmi memperluas fasilitas pabriknya di Citeureup untuk memproduksi produk berbasis polimer dan lateks. Produk ini digunakan dalam proses industri, utilitas, serta aplikasi pengelolaan air limbah di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara, seperti dikutip dari Industri.

Solusi dari fasilitas yang diperluas ini mendukung beragam sektor vital. Di antaranya adalah industri kemasan, pupuk, minyak kelapa sawit, pembangkit listrik, elektronik, kesehatan, panas bumi, pertambangan, kilang, hingga petrokimia.

Greg Lukasik selaku SVP & CEO Ecolab Asia Tenggara menjelaskan bahwa langkah ekspansi ini memiliki nilai strategis yang besar. Proyek ini tidak hanya mendongkrak kapasitas produksi domestik, tetapi juga memperkokoh ketahanan rantai pasok regional.

"Perluasan pabrik ini juga bukan hanya soal volumenya, tetapi jenis produk yang bisa kami hasilkan. Inilah yang membuat ekspansi ini sangat krusial untuk melayani pasar Indonesia, tetapi juga untuk mendukung wilayah regional lainnya," ujar Greg di pabrik Ecolab Citeureup, Selasa (19/5).

Melalui perluasan ini, pabrik Citeureup kini mampu membuat produk baru yang sebelumnya tidak dapat diproduksi di dalam negeri. Langkah ini secara langsung mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap pasokan luar negeri.

"Dulu kami harus mengimpor produk-produk tersebut dari belahan dunia lain," ujarnya.

Langkah strategis ini juga berhasil meningkatkan persentase kandungan lokal dari Ecolab Indonesia. Rangkaian produk polimer yang diproduksi di Citeureup kini telah mengantongi nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 25% sesuai ketentuan Kementerian Perindustrian.

Sebelum ekspansi ini berjalan, seluruh kebutuhan polimer perusahaan harus dipenuhi melalui impor dari Yangsan Plant milik Ecolab Korea. Hal tersebut membuat produk yang digunakan sebelumnya belum memiliki skor TKDN.

Ecolab Indonesia telah memenuhi sejumlah kriteria untuk mencapai standarisasi TKDN tersebut. Kriteria tersebut meliputi investasi fisik, kepemilikan fasilitas produksi di Indonesia, pemanfaatan tenaga kerja lokal yang seluruhnya Warga Negara Indonesia, serta proses manufaktur rangkaian polimer di dalam negeri.

Peningkatan Respon Layanan untuk Pasar Domestik

Presiden Direktur Ecolab Indonesia, Evan Jayawiyanto, menerangkan bahwa ekspansi ini dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan pasar domestik dan pasar regional di Asia Tenggara.

Fokus pada pasar Indonesia ini diambil demi mendukung program pemerintah yang sedang gencar mendorong pelaku industri meningkatkan kandungan lokal. Dengan begitu, produk tersebut dapat diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan langsung oleh industri domestik.

Keberadaan fasilitas baru ini diklaim membuat perusahaan lebih tangguh dan adaptif dalam menyediakan produk. Jarak yang lebih dekat dengan konsumen memungkinkan perusahaan memberikan respon yang jauh lebih cepat.

"Karena di masa lalu kami mengimpor seperti dari Korea, Thailand, dan negara-negara lain, sehingga kami tidak bisa merespons dengan cukup cepat kepada pelanggan kami yang terus berkembang, terutama di sektor industri, energi, pertambangan, dan juga kertas," kata Evan.

Greg menambahkan bahwa proyek ini menjadi bukti komitmen jangka panjang perusahaan untuk kawasan Asia Tenggara. Investasi ini diarahkan untuk menciptakan nilai tambah serta meningkatkan kualitas pelayanan bagi para pelanggan.

Manajemen perusahaan juga memastikan seluruh hasil produksi dari fasilitas ini memenuhi standar kualitas tertinggi. Selain penggunaan bahan baku bermutu tinggi, seluruh peralatan operasional yang diimplementasikan di pabrik saat ini merupakan yang terbaik di kelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi