PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) berencana melaksanakan kuasi reorganisasi dengan memanfaatkan laporan posisi keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025. Perusahaan kelapa sawit tersebut bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 29 Juni 2026.
Langkah korporasi ini dilandasi oleh keyakinan manajemen untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memacu pertumbuhan di masa depan, sebagaimana dilansir dari Investasi dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Penataan ini mendesak dilakukan karena emiten CPO tersebut mencatat saldo defisit hingga Rp3,70 triliun akibat akumulasi kerugian tahun-tahun lalu.
Kondisi keuangan historis BWPT terpukul oleh beban bunga, kenaikan kewajiban keuangan untuk ekspansi, serta dampak pandemi COVID-19. Meski demikian, laporan keuangan sepanjang 2022 hingga 2025 menunjukkan pemulihan performa secara konsisten melalui peningkatan laba bersih.
Pihak manajemen mengincar perbaikan struktur modal agar posisi keuangan konsolidasian menjadi lebih sehat dan mencerminkan kondisi riil yang wajar tanpa beban masa lalu. Hilangnya saldo defisit juga membuka peluang bagi emiten untuk kembali mendistribusikan dividen kepada para pemegang saham sesuai regulasi.
ÔÇ£Terakhir, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, investor, kreditor, dan mitra usage, terhadap prospek usaha Perseroan di masa mendatang,ÔÇØ tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Pertumbuhan laba tahun berjalan secara berturut-turut dicatatkan sebesar Rp159,97 miliar pada 2023, Rp272,13 miliar pada 2024, dan melonjak hingga Rp379,10 miliar pada 2025. Tren positif ini didorong oleh kenaikan harga minyak nabati global termasuk minyak sawit, di samping efisiensi operasional.
ÔÇ£Selain itu, Perseroan melaksanakan berbagai inisiatif strategis untuk meningkatkan produktivitas operasional, antara lain melalui perbaikan fasilitas produksi, peningkatan infrastruktur pendukung termasuk jalan dan jembatan, penyelesaian pembangunan extension pabrik kelapa sawit untuk meningkatkan kapasitas produksi, serta investasi dalam peremajaan dan pengadaan alat berat guna meningkatkan efisiensi operasional,ÔÇØ ungkap manajemen.
Aksi pembersihan pembukuan ini bakal mengeksekusi eliminasi saldo laba negatif senilai Rp3,70 triliun dengan agio saham yang tercatat pada tambahan modal disetor. Melalui strategi tersebut, akumulasi rugi perseroan setelah kuasi reorganisasi akan disesuaikan menjadi nol.
ÔÇ£Dampak positif dari pelaksanaan Rencana Kuasi Reorganisasi terhadap posisi ekuitas Perseroan adalah Perseroan dapat memulai awal yang baru dengan menunjukkan posisi keuangan yang lebih baik tanpa dibebani oleh defisit masa lalu,ÔÇØ paparnya.
Manajemen memproyeksikan industri kelapa sawit nasional tetap prospektif, sejalan dengan dorongan hilirisasi, ketahanan pangan, dan energi dalam RPJMN 2025ÔÇô2029. Guna mendukung target tersebut, BWPT menerapkan digitalisasi pemantauan produksi dan meremajakan tanaman secara berkala.
Ekspansi fisik juga terus berjalan setelah selesainya proyek perpanjangan pabrik kelapa sawit pada tahun 2025. Perusahaan kini berfokus menyelesaikan Pabrik Pengolahan Inti Sawit (Kernel Crushing Plant/KCP) yang ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2026.
ÔÇ£Fasilitas ini akan mendukung program hilirisasi dengan menghasilkan Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Meal (PKM), meningkatkan nilai tambah produk perkebunan, dan mendukung praktik keberlanjutan yang diterapkan oleh perseroan,ÔÇØ kata manajemen.