Data Terbaru 2026: Gadget Keluarga RI Rentan Diretas, Ini Faktanya

Data Terbaru 2026: Gadget Keluarga RI Rentan Diretas, Ini Faktanya
Foto: Data Terbaru 2026: Gadget Keluarga RI Rentan Diretas, Ini Faktanya. (Illustration by Pexels)

Kesadaran akan keamanan siber di lingkungan keluarga Indonesia ternyata masih tergolong rendah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Berdasarkan studi terbaru dari Kaspersky, baru sekitar 38 persen keluarga di tanah air yang telah memasang sistem perlindungan menyeluruh pada seluruh perangkat digital mereka.

Kesenjangan ini menjadi perhatian serius karena aktivitas daring masyarakat terus meningkat setiap harinya. Penggunaan ponsel pintar, tablet, hingga laptop yang semakin masif membuka celah risiko serangan siber yang lebih besar jika tidak dibentengi dengan sistem keamanan yang mumpuni.

Celah Keamanan Digital di Lingkungan Keluarga

Meskipun angka adopsi keamanan siber di Indonesia mencapai 38 persen dan berada di atas rata-rata global sebesar 33 persen, angka tersebut dinilai belum ideal. Banyak keluarga yang belum menyadari bahwa setiap perangkat yang terhubung ke internet memiliki potensi menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan.

Hasil penelitian global Kaspersky menunjukkan bahwa sebanyak 53 persen responden di Indonesia sebenarnya sudah mulai rutin mendiskusikan masalah keamanan daring dengan anggota keluarga mereka. Namun, diskusi tersebut belum sepenuhnya diimplementasikan dalam bentuk pemasangan proteksi teknis pada gawai yang digunakan.

Berikut adalah beberapa langkah perlindungan tambahan yang mulai diterapkan oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga data pribadi mereka:

  • Penggunaan pengelola kata sandi atau password manager oleh 65 persen responden untuk mengamankan kredensial akun.
  • Penerapan autentikasi multifaktor (MFA) yang dilakukan oleh 49 persen pengguna guna menambah lapisan keamanan saat masuk ke akun digital.
  • Pengecekan rutin terhadap pengaturan privasi pada perangkat dan akun daring penting oleh sekitar 50 persen responden.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat sudah mulai mengambil inisiatif mandiri untuk melindungi privasi mereka. Meski begitu, masih terdapat sekitar 4 persen responden di Indonesia yang mengaku sama sekali tidak melakukan proteksi digital bagi anggota keluarga mereka.

Peran Penting Manajer Digital Keluarga

Menanggapi situasi ini, Kaspersky menyoroti pentingnya sosok Family Digital Manager atau Manajer Digital Keluarga di setiap rumah tangga. Sosok ini merupakan anggota keluarga yang memiliki pemahaman lebih baik dan bertanggung jawab memastikan keamanan aktivitas online seluruh penghuni rumah.

Tanggung jawab manajer digital ini mencakup edukasi berkelanjutan serta pemantauan terhadap gawai yang digunakan oleh kelompok rentan, seperti orang tua atau lansia. Secara global, ditemukan fakta bahwa 21 persen responden berusia di atas 55 tahun cenderung tidak melakukan tindakan keamanan apa pun di dunia maya.

Rangkuman perbandingan tindakan keamanan siber antara responden Indonesia dan rata-rata global berdasarkan studi tersebut:

Kategori Tindakan Keamanan Responden Indonesia Rata-rata Global
Pemasangan Proteksi Menyeluruh di Perangkat 38% 33%
Diskusi Keamanan Daring dengan Keluarga 53% N/A
Tanpa Tindakan Keamanan Sama Sekali 4% N/A

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun Indonesia lebih unggul dalam beberapa aspek dibanding rata-rata global, risiko tetap menghantui kelompok yang belum terlindungi. Penjelasan ini menekankan perlunya peningkatan kewaspadaan bagi seluruh pengguna internet tanpa terkecuali.

Urgensi Perlindungan Multi-Perangkat

Marina Titova, Wakil Presiden Bisnis Konsumen Kaspersky, menjelaskan bahwa semakin tinggi ketergantungan manusia pada layanan daring, semakin luas pula area serangan bagi pelaku kejahatan. Setiap jam tambahan yang dihabiskan untuk online tanpa proteksi meningkatkan risiko pencurian data pribadi dan malware.

Ia menegaskan bahwa tidak semua generasi dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lanskap ancaman siber yang terus berevolusi. Oleh karena itu, pendekatan keamanan yang terintegrasi pada berbagai perangkat menjadi solusi mutlak untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi keluarga.

"Setiap keluarga membutuhkan pendekatan keamanan multi-perangkat yang terintegrasi untuk memastikan lingkungan online bersama yang aman," ungkap Marina dalam keterangan resminya.

Langkah edukasi dan perlindungan menyeluruh kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Masyarakat diimbau untuk tidak hanya fokus pada satu gawai saja, tetapi memastikan seluruh ekosistem digital di rumah terlindungi dari ancaman phishing dan kejahatan siber lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi