Psikolog Agustina Twinky Indrawati menyoroti fenomena jasa teman jalan yang berisiko memicu ketergantungan emosional dan menggeser makna hubungan sosial menjadi transaksional pada Kamis (16/4/2026). Layanan yang kian diminati warga Bekasi dan sekitarnya ini dinilai memberikan kenyamanan sementara bagi individu yang mengalami kesepian, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Kebutuhan emosional jangka pendek memang dapat terpenuhi melalui interaksi profesional tersebut, namun perasaan hampa berpotensi muncul kembali setelah durasi layanan berakhir. Agustina mengibaratkan kondisi ini layaknya sinar matahari yang masuk ke kamar gelap hanya melalui celah pintu yang bersifat temporer.
ÔÇ£Di satu sisi, jasa ini bisa menjadi penolong untuk mengatasi rasa kesepian dan kebutuhan untuk didengarkan. Namun, karena hubungan ini hanya sementara, ÔÇÿruang kosongÔÇÖ itu tetap akan ada,ÔÇØ ujar Agustina.
Penjelasan psikologis menyebutkan bahwa kedekatan singkat ini didorong oleh pelepasan hormon dopamin dan oksitosin di otak saat seseorang merasa cocok dengan teman jalannya. Hal tersebut menciptakan ilusi keakraban meski hubungan yang terjalin sebenarnya bersifat profesional.
ÔÇ£Ketika matahari bergeser, sinar itu akan hilang. Berbeda dengan pertemanan yang dibangun sejak awal dan dipelihara dengan baik, yang ibarat udara memenuhi ruangan tersebut,ÔÇØ tutur Agustina.
Kecenderungan untuk mengulang pengalaman nyaman saat didengarkan dan dipahami oleh penyedia jasa dapat memicu pola perilaku tertentu pada pengguna. Agustina memberikan peringatan mengenai potensi perubahan perilaku individu yang bisa mengarah pada ketergantungan terhadap layanan instan.
ÔÇ£Saat seseorang benar-benar merasa nyaman, ia cenderung akan mengulang pengalaman tersebut. Ini yang berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional,ÔÇØ jelas Agustina.
Selain masalah emosional, terdapat kekhawatiran mengenai cara generasi muda memandang relasi sosial di masa depan. Hubungan yang seharusnya tumbuh secara alami dikhawatirkan berubah menjadi fungsional demi memenuhi kebutuhan sesaat.
ÔÇ£Hal ini membuat hubungan singkat terasa sangat akrab meskipun sebenarnya bersifat profesional dan sementara,ÔÇØ tambah Agustina.
Pertemanan mendalam dikhawatirkan mulai ditinggalkan karena adanya kemudahan dari layanan yang bisa dibayar. Dampak jangka panjangnya adalah meningkatnya sifat individualistis dalam lingkungan masyarakat luas.
ÔÇ£Dampak jangka panjangnya, orang bisa menjadi semakin individual dan merasa tidak perlu menjalin pertemanan yang mendalam karena adanya layanan yang bersifat instan,ÔÇØ ujar Agustina.
Meski memiliki banyak risiko, layanan ini tetap dipandang memiliki sisi positif bagi mereka yang kesulitan bersosialisasi secara mandiri. Jasa ini menjadi alternatif bagi individu yang berada jauh dari lingkaran pendukung utama seperti keluarga.
ÔÇ£Selain itu juga kebutuhan untuk didengarkan yang mungkin tanpa dihakimi,ÔÇØ ujar Agustina.
Sebagai solusi berkelanjutan, Agustina menyarankan masyarakat untuk kembali membangun relasi yang autentik dan belajar membuka diri mulai dari hal kecil. Dukungan emosional dari lingkungan terdekat tetap menjadi fondasi utama kesehatan mental.
ÔÇ£Misalnya dengan memberi senyuman atau menyapa orang lain, serta menjalani hari dengan lebih tenang,ÔÇØ kata Agustina.
Salah satu pengguna layanan, Febrian, mengaku menggunakan jasa ini pada Selasa (14/4/2026) karena keterbatasan interaksi sosial akibat bekerja secara remote. Pria berusia 26 tahun tersebut merasa teman-teman lamanya sudah memiliki kesibukan masing-masing sehingga sulit untuk diajak bertemu.
ÔÇ£Karena memang enggak ada yang bisa diajak. Teman-teman lama sudah sibuk dengan hidup masing-masing, sebagian sudah menikah, sebagian pindah kota,ÔÇØ kata Febrian.
Walaupun merasa lega karena sempat memiliki teman berbagi, Febrian membenarkan adanya perasaan hampa yang muncul kembali setelah sesi pertemuan berakhir. Ia merasa perasaan tersebut muncul justru karena ia baru saja merasakan kehangatan ditemani oleh seseorang.
ÔÇ£Setelah pulang, ada hampa lagi. Bahkan mungkin, karena baru saja merasa ditemani. Tapi juga bersyukur sempat punya momen itu,ÔÇØ kata Febrian.