Sektor properti kini mulai mengadopsi konsep keberlanjutan demi menekan biaya operasional yang tinggi. Fokus utama tertuju pada sistem pendingin udara yang selama ini menjadi pengeluaran finansial terbesar bagi pengelola gedung.
Guna mengatasi persoalan tersebut, PT Colliers International Indonesia menggandeng PT Investasi Hijau Selaras (Hijau) dalam kemitraan strategis. Kerjasama ini menghadirkan solusi pendinginan cerdas melalui model Cooling as a Service (CaaS), seperti dilansir dari Kompas.
Kehadiran inovasi ini menjadi opsi menarik bagi pemilik pusat perbelanjaan, hotel, hingga perkantoran. Mereka kini bisa memangkas biaya tanpa perlu menyiapkan anggaran modal yang besar di awal.
Sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) dikenal sebagai komponen paling boros energi di bangunan komersial. Data menunjukkan perangkat ini menyerap 40 persen hingga 60 persen dari total tagihan listrik sebuah gedung.
Meski boros, banyak pemilik aset ragu melakukan pembaruan sistem karena kendala Capital Expenditure (capex) atau belanja modal. Skema CaaS hadir sebagai solusi dengan konsep Zero Capex yang membebaskan pemilik properti dari biaya instalasi teknologi terbaru.
Managing Director PT Colliers International Indonesia, Michael D. Broomell, menyatakan bahwa langkah ini adalah strategi memperkuat ekosistem teknologi hijau yang tepercaya. Pihaknya ingin memberikan efisiensi terukur tanpa mengganggu kesehatan neraca keuangan klien.
"Model Zero Capex ini membuka akses pasar yang selama ini terhambat oleh kendala biaya, sekaligus menjawab tuntutan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin ketat," papar Michael.
Transformasi Risiko Menjadi Nilai Tambah
Dalam kerja sama ini, seluruh tanggung jawab terkait pendanaan, pemasangan, hingga pemeliharaan sistem sepenuhnya dikelola oleh pihak Hijau. Klien hanya perlu membayar layanan sesuai dengan penggunaan yang sebenarnya.
Perubahan struktur dari belanja modal menjadi biaya operasional atau Operating Expenditure (Opex) membantu perusahaan menjaga arus kas. Selain itu, pengelola gedung tetap dapat menikmati penurunan emisi karbon secara signifikan.
Head of Business Development Hijau, Fahmi Rijal Fahmi, menekankan bahwa layanan ini mengandalkan pendekatan Engineering-first. Sasaran utamanya adalah gedung-gedung lama yang memiliki potensi efisiensi energi lebih besar melalui proses retrofit.
"Pelanggan bisa langsung mengecap efisiensi tanpa dihantui risiko teknis atau kegagalan performa sistem. Pemilik gedung lama tetap bisa meningkatkan kinerja aset dan kualitas layanan kepada penyewa tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam sejak awal," tutur Fahmi.
Target Reduksi Emisi dan Standar Industri
Optimalisasi sistem HVAC melalui skema ini diprediksi mampu memotong konsumsi energi antara 10 persen hingga 50 persen. Angka tersebut sangat krusial dalam memperbaiki profil emisi tidak langsung atau Scope 2 bagi korporasi.
Mengingat sektor bangunan menyumbang sekitar 30 persen konsumsi energi global, efisiensi kini menjadi kebutuhan bisnis yang mendesak. Colliers menargetkan proyek awal ini menjadi bukti efektivitas solusi CaaS di pasar Indonesia.
Visi jangka panjang kemitraan ini adalah menetapkan efisiensi energi sebagai standar baku pengelolaan properti. Penggunaan teknologi lama yang boros energi diharapkan segera berakhir melalui model yang transparan dan berbasis performa.
Kolaborasi antara konsultan properti yang berdiri sejak 1988 dengan penyedia teknologi hijau ini menandai era baru industri properti Indonesia. Fokus masa depan adalah memaksimalkan kerja teknologi dengan dampak lingkungan minimal tanpa mengorbankan stabilitas finansial.