China Kembangkan Coal Rock Gas Guna Perkuat Kemandirian Energi

China Kembangkan Coal Rock Gas Guna Perkuat Kemandirian Energi
Foto: Ilustrasi China Kembangkan Coal Rock Gas Guna Perkuat Kemandirian Energi.

Strategi kemandirian energi terus diperkuat oleh Pemerintah China melalui pengembangan sumber gas alam nonkonvensional baru dari lapisan batuan batubara atau coal rock gas. Langkah diversifikasi bauran energi ini diambil guna menekan angka ketergantungan impor energi negara tersebut.

Produksi coal rock gas atau CRG diproyeksikan oleh perusahaan energi negara PetroChina dapat menyentuh angka 30 miliar meter kubik pada tahun 2035 mendatang, seperti dilansir dari Internasional pada Kamis (21/5/2026). Jumlah volume tersebut diperkirakan bakal melampaui rekor produksi gas serpih domestik tahun lalu yang berkontribusi sebesar 10 persen dari total produksi nasional.

Langkah taktis ini dinilai dapat membantu China menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global, termasuk dampak dari konflik Iran, meskipun posisi negara tersebut saat ini masih menjadi importir energi terbesar di dunia. Ekstraksi CRG sendiri memanfaatkan teknologi pengeboran horizontal serta hydraulic fracturing yang telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade.

Sebagian besar cadangan potensial dari komoditas ini bertempat di Basin Ordos yang kawasannya melintasi tiga provinsi di China.

"bahan bakar strategis tahap berikutnya" kata PetroChina.

Pihak manajemen menambahkan bahwa komoditas baru ini berpotensi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan produksi gas nasional di masa depan.

Sektor konsumsi gas domestik menempatkan China sebagai konsumen terbesar ketiga di tingkat global. Tingkat konsumsi gas tahunan negara itu diproyeksikan mencapai puncaknya pada tahun 2040 dengan volume berkisar antara 600 hingga 650 bcm, naik dari posisi saat ini yang berada di angka sekitar 430 bcm.

Keberhasilan eksplorasi sumber daya baru ini diprediksi menekan kebutuhan impor liquefied natural gas sekaligus memperkuat posisi tawar terhadap Rusia terkait negosiasi proyek pipa gas Power of Siberia 2. Eksplorasi teknologi ini merupakan kelanjutan dari produksi gas metana batubara dangkal yang sebelumnya kurang optimal akibat kendala biaya tinggi dan produktivitas yang rendah.

Titik balik komersialisasi terjadi pada 2021 sewaktu penerapan fracking gas serpih dilakukan di sumur Jishen 6-7 lapangan Daji, Basin Ordos. Sumur horizontal sepanjang 3.000 meter pada kedalaman 2.200 meter tersebut sukses mencatatkan produksi harian hingga 100.000 meter kubik gas niaga.

Ekspansi pengeboran massal kemudian dilakukan setelah data seminar China National Petroleum Corp tahun 2025 menunjukkan cadangan teknis yang dapat dipulihkan pada 14 basin batubara mencapai 13 triliun meter kubik. Hingga pengujung tahun lalu, China tercatat sudah mengebor lebih dari 700 sumur CRG dan menghasilkan 4,2 bcm gas sepanjang tahun 2025.

Kondisi geologi yang spesifik membuat operasional komersial komoditas ini berkembang pesat di wilayah domestik.

"China menjadi satu-satunya negara yang saat ini mengembangkan CRG secara komersial karena kondisi geologi yang unik dan mulai terbatasnya pengembangan gas batubara konvensional." ujar Zhang Junfeng, Geolog senior CNPC.

Kendati memiliki prospek volume yang menjanjikan, tantangan finansial berupa tingginya biaya produksi akibat kompleksitas pengeboran di area kedalaman ekstrem masih membayangi kelanjutan proyek.

Hingga saat ini belum ada rincian pasti mengenai estimasi total biaya produksi CRG, namun nilainya diperkirakan melebihi biaya investasi gas konvensional maupun gas serpih.

Sebagai langkah efisiensi biaya, pihak CNPC tengah mengkaji opsi integrasi proyek CRG bersama pengembangan tight gas serta coalbed methane, termasuk pemanfaatan kembali sumur-sumur lama guna menjangkau lapisan batuan yang lebih dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi