Sosok Cha Bum-kun tetap menjadi inspirasi utama bagi Timnas Korea Selatan yang kini tengah mempersiapkan skuad menuju Piala Dunia 2026. Pria kelahiran Hwaseong tersebut dilansir dari Suara, diakui sebagai pesepak bola terhebat dalam sejarah negaranya sekaligus pionir talenta Asia di liga elite Eropa.
Sebelum membela Eintracht Frankfurt dan Bayer Leverkusen, penyerang tajam ini membangun reputasi melalui kecepatan luar biasa dan kemampuan penyelesaian akhir yang akurat. Publik sepak bola Jerman pada dekade 1980-an memberinya julukan ÔÇ£Tscha BumÔÇØ atau ÔÇ£Cha BoomÔÇØ karena tembakan kerasnya yang secepat kilat.
Kualitas permainannya bahkan mendapatkan pengakuan dari manajer legendaris Aberdeen saat itu, Sir Alex Ferguson. Beliau memberikan pujian kepada sang penyerang dengan menyebutnya sebagai pemain yang mustahil untuk dihentikan.
Langkah awal sang legenda di dunia sepak bola tidaklah mulus karena ia harus berpindah sekolah dari SMP Yeongdo ke SMP Kyungshin setelah klubnya dibubarkan. Masa SMA Cha Bum-kun juga diwarnai tantangan berat, termasuk risiko putus sekolah akibat kekerasan dari senior sebelum akhirnya diselamatkan manajer Chang Woon-soo.
Bakat besarnya mulai terlihat saat ia mencatatkan rekor dunia sebagai pemain termuda yang mencapai 100 penampilan internasional pada usia 24 tahun 35 hari. Namun, kariernya di kompetisi tertinggi Jerman sempat tertunda karena kewajiban dinas militer bersama Angkatan Udara Korea Selatan pada akhir 1970-an.
Kontrak pertamanya dengan klub Darmstadt 98 terpaksa terhenti sementara waktu. Hal ini terjadi karena ia harus menyelesaikan masa kedinasan militer yang baru berakhir secara resmi pada Mei 1979.
Kejayaan Bomber Asia di Liga Jerman
Setelah menuntaskan tugas negara, Cha Bum-kun bergabung dengan klub papan atas Jerman saat menginjak usia 26 tahun. Ia langsung menunjukkan ketajaman dengan mencetak gol dalam tiga pertandingan pertamanya secara berturut-turut.
Prestasi fenomenal berhasil ia ukir dengan mempersembahkan gelar Piala UEFA untuk dua klub berbeda yang dibelanya selama di Jerman. Legenda sepak bola Lothar Matthäus secara terbuka menyebut Cha Bum-kun sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah ada di dunia.
Selain ketajaman, sportivitas tinggi menjadi nilai tambah sang legenda di mata publik Eropa. Dari total 308 penampilan di kasta tertinggi sepak bola Jerman, ia tercatat hanya mengoleksi satu kartu kuning sepanjang kariernya.
Rekor Internasional dan Kiprah di Piala Dunia
Pada level tim nasional, ia memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Korea Selatan dengan total koleksi 58 gol. Perjalanan menuju kompetisi global dilaluinya dengan penuh perjuangan, terutama setelah timnya gagal menembus putaran final Piala Dunia 1978.
Cedera lutut serius yang dialaminya tidak menyurutkan semangat juang untuk terus berkontribusi bagi negaranya. Penantian panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika ia memimpin Korea Selatan tampil di Piala Dunia 1986 Meksiko, yang merupakan penampilan perdana negara tersebut sejak 1954.
Meski mendapatkan pengawalan yang sangat ketat dari pemain lawan selama turnamen, dedikasi dan performa Cha Bum-kun tetap menjadi standar bagi generasi muda. Kariernya kemudian berlanjut ke kursi kepelatihan, di mana ia dipercaya menukangi tim nasional pada ajang Piala Dunia 1998 di Prancis.
Dinamika Karier Kepelatihan dan Warisan Keluarga
Masa kepelatihannya di tim nasional harus berakhir lebih cepat setelah kekalahan telak 0-5 dari Belanda di babak grup. Konflik dengan pihak federasi sempat berujung pada sanksi larangan beraktivitas selama lima tahun yang membuatnya memutuskan melatih di Liga China.
Meskipun penuh dinamika, kontribusi Cha Bum-kun sebagai pembuka jalan bagi pesepak bola Asia di Benua Biru tetap tidak tergantikan. Ia kembali menemukan kesuksesan saat melatih Suwon Samsung Bluewings dan berhasil membawa klub tersebut merengkuh gelar juara liga pada 2004.
Warisan emas dalam dunia sepak bola kini diteruskan oleh sang putra, Cha Du-ri. Mengikuti jejak sang ayah, Cha Du-ri juga menjalani karier profesional sebagai pesepak bola di kompetisi Liga Jerman.