Rendahnya self-esteem pada anak perempuan berisiko memengaruhi berbagai lini kehidupan, mulai dari tingkat kepercayaan diri hingga kualitas hubungan sosial mereka. Masalah ini jika dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu anak menarik diri dari lingkungan serta menghambat pertumbuhannya secara optimal.
Kondisi kepercayaan diri yang buruk pada anak tidak terjadi secara mendadak. Dilansir dari Lifestyle, orangtua memegang peranan krusial untuk mengidentifikasi pemicunya serta melakukan langkah-langkah strategis demi memulihkan keyakinan diri sang buah hati.
Langkah pertama yang esensial adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab menurunnya kepercayaan diri anak. Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog menyarankan agar orangtua memiliki pandangan secara luas terhadap pengalaman anak.
"Kalau self-esteem anak sudah terlanjur buruk, maka orangtua perlu helicopter view atau mengevaluasi penyebabnya. Self-esteem anak itu tidak datang tiba-tiba, tapi dari apa yang anak dengar dan alami," jelas Farraas.
Sumber tekanan tersebut bisa berasal dari lingkungan terdekat yang sering berinteraksi dengan anak. Farraas menambahkan, "Perlu dicari tahu agar bisa segera dihentikan, misalnya dari pengajarnya, asisten rumah tangga, atau anggota keluarga lainnya."
Selain mencari sumber eksternal, memperbaiki keyakinan negatif dalam diri anak juga menjadi prioritas. Psikolog Anak dan Remaja Fabiola Priscilla, M.Psi menjelaskan bahwa pola pemikiran yang merasa diri tidak berharga harus segera diperbaiki secara bertahap.
"Segera perbaiki keyakinan atau pola pemikiran bahwa anak perempuan merasa tidak berharga atau tidak bernilai," ujar Fabiola.
Edukasi Kalimat Positif dan Apresiasi
Mengubah cara anak berkomunikasi dengan dirinya sendiri merupakan bagian penting dalam pemulihan mental. Anak perlu diajarkan untuk mengganti narasi negatif menjadi kalimat yang lebih membangun.
"Ajarkan anak untuk menemukan pengganti kata yang lebih positif. Misalnya, bukan 'aku tidak bisa' tapi 'aku sedang belajarÔÇÖ. Setelah terbiasa dengan kalimat positif, iringi juga dengan pengalaman yang bermakna," jelas Fabiola.
Dukungan orangtua melalui apresiasi yang jujur juga sangat menentukan. Farraas mengingatkan agar orangtua lebih banyak berdiskusi untuk menggali apa yang disukai anak, kemudian memberikan pujian pada hal-hal kecil secara proporsional.
"Gali juga konsep diri anak atau apa yang anak sukai lewat mengobrol bersama. Berikan anak apesiasi terhadap hal-hal kecil," tutur Farraas.
Penghargaan yang diberikan haruslah sesuai dengan realita agar anak belajar menghargai usahanya sendiri. Farraas menegaskan, "Apresiasi yang tulus dari orangtua itu berarti untuk anak, tapi bukan melebih-lebihkan ya, tetapi sesuai faktanya."
Menciptakan Ruang Aman dan Perlindungan
Kehadiran ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi menjadi faktor pendukung lainnya. Fabiola menekankan pentingnya bagi orangtua untuk mendengarkan anak secara utuh tanpa terburu-buru memberikan penilaian.
"Pastikan anak selalu merasa didengarkan dan dihargai. Dengarkan secara tulus dan utuh tanpa dinilai. Terkadang anak hanya butuh didengar bukan diberikan solusi yang sebenarnya sudah diketahui," imbau Fabiola.
Di sisi lain, orangtua harus berani bertindak sebagai pelindung saat anak mendapatkan komentar negatif dari luar, terutama terkait aspek fisik. Tindakan ini memberikan sinyal bahwa harga diri anak tidak ditentukan oleh opini orang lain.
"Apabila ada yang mengomentari fisik, misalnya kulit anak yang gelap di depan umum, orangtua bisa tegaskan di depan orang tersebut dan juga anaknya bahwa anak tetap berharga dan cantik," saran Farraas.
Terakhir, pembentukan lingkungan yang suportif dari keluarga hingga komunitas sangat diperlukan untuk menjaga keamanan emosional anak. Fabiola mengatakan, "Hadirkan lingkungan keluarga, saudara, sahabat, atau komunitas yang mampu menguatkan anak, dan membuat anak aman secara emosional."
Jika kondisi tersebut sudah mengganggu aktivitas harian, seperti menolak sekolah, bantuan tenaga profesional harus segera dipertimbangkan. Farraas menyatakan, "Jika orangtua melihat kondisi self-esteem rendah sudah berdampak pada perilaku anak yang menolak untuk ke sekolah, ikut satu aktivitas, atau menarik diri, maka jangan ragu untuk ke psikolog anak."