Psikolog Jelaskan Dampak dan Cara Atasi Pertengkaran Kakak Beradik

Psikolog Jelaskan Dampak dan Cara Atasi Pertengkaran Kakak Beradik
Foto: Ilustrasi Psikolog Jelaskan Dampak dan Cara Atasi Pertengkaran Kakak Beradik.

Perselisihan antara kakak dan adik merupakan dinamika umum dalam keluarga yang dapat berkontribusi pada proses pematangan anak, sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Minggu (26/4/2026). Fenomena ini melibatkan berbagai fase usia mulai dari balita hingga remaja.

Sebagian besar anak dilaporkan pernah terlibat dalam agresi ringan dengan saudara kandung mereka sebagai bagian dari perkembangan. Jeff Garofano, psikolog anak di Johns Hopkins ChildrenÔÇÖs Center, memberikan penjelasan mengenai fenomena ini.

"Tingkat pertengkaran saudara yang ringan adalah bagian normal dari masa kanak-kanak, dan bahkan dapat berkontribusi pada proses perkembangan dan pematangan yang penting," jelas dr. Jeff Garofano, PhD.

Interaksi yang intens dalam hubungan persaudaraan menjadi fondasi bagi kesejahteraan emosional serta keterampilan sosial anak di masa depan. Garofano menilai masa kecil adalah waktu bagi anak untuk belajar mengelola konflik.

"Masa kanak-kanak adalah masa ketika anak-anak perlu belajar bagaimana menghadapi berbagai bentuk konflik," tutur Garofano.

Penyebab konflik bervariasi berdasarkan usia, mulai dari perebutan perhatian pada balita, masalah keadilan pada anak usia sekolah, hingga privasi pada remaja. Namun, orangtua diminta waspada jika muncul kekerasan fisik yang signifikan.

"Pertengkaran saudara kandung bisa menjadi masalah jika ada pertengkaran fisik yang signifikan," terang Garofano.

Tanda bahaya lainnya mencakup ketidakseimbangan kekuatan, ancaman cedera, hingga perubahan emosional anak yang menjadi ketakutan. Jika dibiarkan, perundungan antarsaudara berisiko memicu depresi saat dewasa.

Guna mengatasi hal tersebut, orangtua disarankan menerapkan strategi proaktif dengan memberikan contoh penyelesaian masalah yang baik kepada anak-anak.

"Orangtua bisa memberi contoh jenis penyelesaian konflik yang bisa ditiru oleh anak-anak ketika sedang berkonflik dengan pasangan," saran Garofano.

Selain memberikan contoh, orangtua dapat menggunakan sistem penghargaan berbasis poin untuk menumbuhkan kerja sama tim di antara kakak dan adik demi mendapatkan hadiah bersama.

"Strategi seperti ini melahirkan kerja sama. Semakin banyak kerja sama, semakin sedikit ruang untuk bertengkar. Pendekatan ini dapat dimodifikasi untuk digunakan dengan anak usia sekolah hingga remaja," ujar Garofano.

Langkah terakhir dalam penanganan konflik adalah dengan tetap menjaga sikap netral. Orangtua diharapkan membimbing anak agar mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara mandiri tanpa harus memihak salah satu pihak.

Artikel terkait

Rekomendasi