PENGALAMAN pemerintahan Presiden ke-3 B. J. Habibie dalam memulihkan nilai tukar rupiah saat krisis 1998 dinilai dapat menjadi acuan untuk menghadapi tekanan rupiah saat ini. Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai, pelemahan rupiah yang berkepanjangan tidak semata-mata dipengaruhi faktor teknis ekonomi, melainkan juga berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap pemerintah.
Menurutnya, kondisi rupiah yang dinilai sudah berada pada level undervalue mencerminkan adanya persoalan ekonomi politik yang membuat pasar tidak lagi sepenuhnya berpihak kepada Indonesia.
Didik mengatakan, pengalaman krisis 1998 menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan dapat menjadi kunci utama dalam menstabilkan nilai tukar. Saat itu, pemerintahan Habibie dinilai berhasil secara perlahan mengembalikan kepercayaan publik dan pelaku pasar, sehingga rupiah mampu menguat signifikan dalam waktu relatif singkat.
ÔÇ£Kita perlu mencari tahu sebab-sebab mengapa pasar tidak lagi berpihak kepada kita sehingga nilai tukar terus menurun. Ini masalah ekonomi politik, tidak sekadar masalah teknis ekonomi. Tetapi, kita punya best practice bagaimana krisis ekonomi dan politik pada tahun 1998 perlahan bisa dipulihkan,ÔÇØ ujar Didik dalam keterangannya, Selasa (19/5).
Ia mencontohkan, pada masa pemerintahan Habibie, nilai tukar rupiah mampu turun dari sekitar Rp16.800 per dolar AS menjadi Rp6.500 per dolar AS. Menurut Didik, keberhasilan tersebut dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kebijakan yang komprehensif untuk menghadapi tekanan rupiah saat ini.
ÔÇ£Pengalaman Presiden Habibie dalam waktu singkat bisa menurunkan nilai tukar rupiah dari Rp16.800 per dolar menjadi Rp6.500 per dolar bisa dijadikan acuan untuk membuat kebijakan yang komprehensif,ÔÇØ katanya.
Didik mengaku menjadi saksi sekaligus pelaku langsung pada masa tersebut. Ia menyebut dirinya pernah diangkat menjadi anggota Tim Reformasi Nasional Bidang Ekonomi melalui Keputusan Presiden Nomor 198 Tahun 1998 tentang Pembentukan Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani. Menurutnya, keberhasilan Habibie memperkuat rupiah terutama dipicu oleh pulihnya faktor kepercayaan atau trust setelah hampir setahun memimpin pemerintahan transisi.
Awalnya, posisi Habibie sebagai presiden transisi sempat diragukan karena dianggap bagian dari rezim Orde Baru. Namun, kepercayaan publik perlahan tumbuh seiring komitmen pemerintah saat itu dalam menjalankan reformasi institusi ekonomi, demokratisasi, dan desentralisasi. Habibie juga dinilai menunjukkan kesungguhan untuk memulihkan kondisi Indonesia tanpa kepentingan vested interest.
ÔÇ£Meskipun awalnya sangat ditentang keras, Habibie yakin bahwa posisinya sebagai presiden transisi absah dan legal. Dengan dasar itu, tugas utamanya adalah memulihkan kembali kepercayaan kepada pemerintah,ÔÇØ ujar Didik.
Ia menilai, krisis 1998 pada dasarnya merupakan krisis kepercayaan dan krisis institusi, bukan semata krisis fundamental ekonomi. Karena itu, ketika kepercayaan mulai pulih, rupiah dinilai kembali bergerak menuju nilai wajarnya dan perlahan menguat.
ÔÇ£Karena itu, presiden yakin ketika kepercayaan mulai pulih, rupiah bisa kembali ke level posisi sebenarnya dan bahkan mulai menguat kembali,ÔÇØ katanya.
Dalam pandangan Didik, penguatan trust pada masa Habibie dilakukan secara bersamaan melalui pemulihan confidence ekonomi dan reformasi politik. Pemerintah saat itu membuka ruang demokrasi lebih luas, mempercepat pemilu, membebaskan tahanan politik, serta memberi kebebasan kepada pers tanpa kontrol Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).
Reformasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan penguatan institusi ekonomi melalui restrukturisasi dan rekapitalisasi perbankan, pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), hingga merger bank-bank negara menjadi Bank Mandiri.
Ia menilai reformasi kelembagaan yang dilakukan saat itu menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi Indonesia hingga sekarang. Salah satunya melalui penetapan independensi Bank Indonesia lewat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 agar bank sentral tidak lagi menjadi alat kepentingan politik maupun rente ekonomi.
ÔÇ£Karena itu, reformasi institusi selanjutnya yang dilakukan oleh Presiden Habibie adalah menetapkan independensi Bank Indonesia,ÔÇØ ujar Didik.
Menurut Didik, persoalan nilai tukar rupiah dan meningkatnya arus modal keluar saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari faktor kepercayaan pasar. Karena itu, pemerintah dinilai perlu membangun sinyal positif secara konsisten agar kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia kembali pulih.
ÔÇ£Saya yakin dalam berbagai sudut pandang, masalah nilai tukar pada saat ini dan arus modal keluar meningkat adalah masalah kepercayaan atau trust,ÔÇØ jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan trust harus diikuti reformasi institusi yang berkelanjutan, mulai dari deregulasi birokrasi, penguatan daya saing, perbaikan iklim investasi, hingga penguatan sektor ekspor dan cadangan devisa. Menurutnya, langkah reformasi institusi yang saat ini direncanakan Presiden Prabowo Subianto melalui deregulasi birokrasi dinilai menjadi arah kebijakan yang tepat untuk memperkuat kembali kepercayaan pasar dan menopang stabilitas rupiah dalam jangka panjang. (Ins/P-3)
- Pemerintah Diminta Lebih Efektif Kelola Fiskal 19/5/2026 16:39 Ia menyoroti rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun tajam menjadi hanya 9,3% pada triwulan I-2026.
- Pengusaha Batam Cemas Isu Dolar Tembus Rp18 Ribu 19/5/2026 13:56 KALANGAN pengusaha di Batam mulai mencemaskan isu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut berpotensi menembus angka Rp18 ribu.
- BI Dinilai Harus Hawkish dan Naikkan Suku Bunga 18/5/2026 17:49 Ia menilai, dalam situasi tersebut, bank sentral tidak hanya berperan dalam mengendalikan inflasi, tetapi juga menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan secara keseluruhan.
- BI Tingkatkan Dosis Intervensi untuk Stabilkan Rupiah yang Tertekan 18/5/2026 17:27 Ia menjelaskan, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar luar negeri. Langkah tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa sekitar US$10 miliar.
- Rupiah Melemah, DPR Pertanyakan Efektivitas Intervensi BI 18/5/2026 15:07 NILAI tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).