Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak menerima arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto mengenai kondisi pasar modal saat ini, dilansir dari Investasi pada Kamis (21/5/2026).
Pesan mengenai investasi di pasar modal sebagai instrumen jangka panjang telah disampaikan sebelumnya oleh pihak otoritas bursa.
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meyakini situasi ekonomi nasional akan terus mengalami penguatan di masa mendatang.
"Kami pun sama-sama meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia akan semakin baik ke depan," ujarnya di Gedung BEI, Kamis (21/5/2026).
Jeffrey Hendrik menambahkan bahwa Presiden Prabowo memberikan pesan terkait pentingnya kemudahan perizinan berusaha guna memberikan efek positif bagi perekonomian serta pasar modal.
Otoritas bursa juga mengagendakan pertemuan pada pekan ini dengan salah satu emiten yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC).
"Mungkin mau berdiskusi bagaimana agar ada upaya yang bisa dilakukan untuk mendistribusikan lebih banyak kepemilikan saham emiten tersebut kepada publik," tuturnya.
Pertemuan tersebut ditegaskan tidak berkaitan dengan metodologi MSCI karena pembahasan tersebut bersifat tertutup antara BEI dan lembaga pemeringkatan global itu.
Kondisi pasar modal sendiri mencatat penurunan tajam pada perdagangan sesi I hari Kamis (21/5/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,76 persen ke posisi 6.144,35.
Penurunan pada sesi pertama tersebut membuat IHSG tercatat sudah terpangkas sebesar 19,09 persen dalam sebulan terakhir serta merosot hingga 28,94 persen sejak awal tahun ini.