Penyanyi Ariel NOAH kembali mewarnai industri musik tanah air dengan meluncurkan karya terbaru bertajuk Ancika. Lagu ini didapuk menjadi soundtrack original untuk film terbaru berjudul Dilan ITB 1997.
Kehadiran tembang ini memperpanjang keterlibatan Ariel dalam narasi musikal semesta Dilan, seperti dilansir dari Detikcom. Sebelumnya, ia telah merilis lagu Dulu Kita Masih Remaja serta berkolaborasi bersama Raisa dalam Senang Dengar Suaramu Lagi.
Lagu Ancika lahir dari tangan dingin Ghea Indrawari, seorang musisi muda yang dikenal mahir menyusun lirik emosional. Ghea memberikan sentuhan narasi yang lembut guna memperkuat pesan kasih sayang yang terkandung dalam komposisi tersebut.
Secara esensi, Ancika menjadi simbol cinta yang telah mencapai tahapan lebih matang. Liriknya menekankan bahwa sebuah hubungan bukan lagi sekadar luapan perasaan, melainkan keberanian dalam menuntut kepastian dari pasangan.
Karya ini menyampaikan pesan kuat mengenai kejujuran dalam menyatakan perasaan, alih-alih hanya menyimpannya dalam keheningan. Keyakinan untuk memiliki menjadi ruh utama yang menunjukkan bahwa cinta sejati mampu bertahan melewati masa lalu.
Ariel NOAH mengungkapkan pandangannya terkait makna di balik lagu tersebut. Menurutnya, setiap jalinan kasih pada akhirnya memerlukan sebuah ketetapan untuk melangkah ke depan.
"Setiap cinta, pada akhirnya membutuhkan jawaban. Bukan sekadar tentang rasa, tetapi tentang keberanian untuk bertanya dan kepastian untuk melangkah bersama," ujar Ariel.
Dinamika Dilan dan Ancika
Sebagai bagian tidak terpisahkan dari film Dilan ITB 1997, lagu ini menggambarkan fase serius yang dialami oleh karakter utama. Hubungan Dilan dan Ancika kini berada pada titik yang menuntut kejelasan setelah melewati berbagai dinamika.
Film tersebut digarap oleh sutradara Fajar Bustomi bersama Pidi Baiq. Sementara itu, naskahnya disusun melalui kolaborasi antara Pidi Baiq, Adhitya Mulya, serta Ninit Yunita.
Melalui lagu Ancika, Ariel NOAH berusaha menjembatani emosi yang ada di dalam layar lebar dengan pengalaman pribadi para pendengarnya. Karya ini menjadi pengingat bahwa akhir dari setiap perjalanan rasa adalah kesiapan untuk menerima jawaban.