Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, membeberkan rencana strategis dan evaluasi komposisi pemain Selecao dalam persiapannya menghadapi kompetisi Piala Dunia 2026 pada Kamis (14/5/2026). Dilansir dari Bola, manajer berusia 66 tahun tersebut menegaskan penguasaan taktisnya sekaligus komitmen jangka panjang bersama tim nasional asal Amerika Selatan tersebut.
Ancelotti yang kini memasuki tahun ke-30 dalam karier kepelatihannya menepis anggapan bahwa dirinya hanya mengandalkan faktor kedekatan emosional dengan para pemain. Ia menyatakan dedikasi totalnya terhadap dunia sepak bola dan tidak memiliki keinginan untuk pensiun dalam waktu dekat.
"I tidak bisa hidup tanpa sepak bola. Jika saya tidak lagi berada di lapangan, saya akan berada di sana sebagai penggemar yang menonton pertandingan." kata Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Juru taktik kelahiran Reggiolo ini membandingkan kegemarannya menyaksikan pertandingan dengan aktivitas menonton film yang memberikannya kesenangan pribadi. Baginya, sepak bola tetap akan menjadi bagian dari hidupnya meskipun suatu saat ia tidak lagi menjabat sebagai pelatih profesional.
"Bagi saya, menonton pertandingan di TV bukanlah pekerjaan. Itu adalah kesenangan. Saya sangat menyukai film. Bagi saya, sepak bola seperti kesenangan menonton film. Rasanya sama." lanjut Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ia memprediksi bahwa cara pandangnya terhadap permainan si kulit bundar tidak akan berubah di masa depan. Hal ini mempertegas posisinya sebagai figur yang sangat mencintai dinamika lapangan hijau baik di dalam maupun di luar pekerjaan.
"Suatu hari nanti, ketika saya berhenti bekerja di bidang sepak bola, saya akan tetap menontonnya dengan cara yang sama, tanpa masalah apa pun," tambah Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Mengenai gaya kepemimpinannya, Ancelotti mengakui pentingnya rasa hormat dan pembangunan hubungan personal dengan para pemain sebagai fondasi utama dalam menangani sebuah tim besar. Ia menekankan bahwa aspek kemanusiaan menjadi nilai tambah dalam karier manajerialnya yang telah berlangsung puluhan tahun.
"Saya benar-benar tidak tahu. Mungkin itu sikap saya, cara saya bersikap terhadap para pemain, rasa hormat yang saya tunjukkan kepada mereka sebagai manusia." jelas Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Pendekatan personal ini dinilainya sebagai elemen krusial untuk menciptakan keharmonisan di dalam skuad. Ancelotti memandang hubungan tersebut sebagai investasi jangka panjang bagi performa tim di atas lapangan.
"Saya sangat menghargai membangun hubungan pribadi tersebut," tegas Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Selain masalah internal pemain, Ancelotti juga menyoroti berbagai tantangan eksternal yang harus dikelola oleh seorang manajer modern. Cakupan tanggung jawab tersebut melibatkan interaksi dengan manajemen klub, media massa, hingga basis pendukung tim.
"Pekerjaan seorang manajer sangat sulit karena Anda harus mengelola begitu banyak hal," ungkap Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ia berpendapat bahwa dari sekian banyak tanggung jawab, mengelola hubungan antarmanusia merupakan bagian yang paling menantang namun sekaligus paling vital. Hal ini menjadi kunci keberhasilan dalam mengoordinasi seluruh elemen pendukung tim nasional.
"Ada hubungan dengan para pemain, dengan klub, dengan pers, dengan para penggemar. Ada begitu banyak aspek dari pekerjaan ini yang harus Anda kelola." lanjut Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ancelotti kembali menegaskan bahwa pengakuan atas kemampuannya sebagai ahli strategi bukanlah hal utama, melainkan kemampuannya untuk memahami semua detail teknis permainan secara menyeluruh.
"Yang paling menantang dari semua itu adalah hubungan dengan orang-orang ÔÇô dan itu juga yang paling penting.ÔÇØ tambah Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Terkait kesuksesan yang diraihnya selama ini, mantan pelatih Real Madrid tersebut mengklarifikasi bahwa gelar juara tidak didapatkan hanya melalui kedekatan dengan pemain semata. Ia memandang hubungan tersebut sebagai alat untuk mengekstraksi kemampuan terbaik dari para atlet asuhannya.
"Saya tidak memenangkan gelar hanya karena hubungan saya dengan para pemain,ÔÇØ jelas Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Meskipun mengakui peran besar hubungan interpersonal, ia tetap menganggap penguasaan aspek permainan lainnya sebagai pilar yang tidak terpisahkan. Ia meyakini pemahaman taktik yang mendalam tetap menjadi syarat mutlak untuk menang.
"Hubungan yang saya miliki dengan para pemain sangat membantu karena memungkinkan saya untuk memaksimalkan potensi pemain. Terkadang bahkan lebih dari yang maksimal. Tapi itu hanya satu bagian dari permainan." lanjut Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ia pun tidak terlalu memusingkan opini publik mengenai label taktis yang diberikan kepadanya selama ini. Fokus utamanya adalah memastikan setiap elemen taktik dipahami dan dijalankan dengan baik oleh seluruh skuad.
"Bagi saya tidak penting apakah orang mengatakan saya ahli taktik yang baik atau tidak. Yang bisa saya katakan adalah saya sangat memahami semua aspek permainan.ÔÇØ tambah Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ancelotti turut menganalisis perubahan tren sepak bola global yang kini lebih mengedepankan analisis data, intensitas tinggi, dan kemampuan fisik pemain dibandingkan beberapa dekade lalu. Ia mengamati adanya pergeseran fokus dari pertahanan menuju pola permainan yang lebih ofensif.
"Sepak bola terus berubah. Saya mencoba beradaptasi dengan apa yang terjadi. Sepak bola saat ini lebih analitis, jauh lebih intens, lebih fisik." ujar Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Kecenderungan pelatih generasi baru yang lebih memprioritaskan serangan menjadi catatan tersendiri baginya dalam menyesuaikan strategi Selecao. Adaptasi terhadap perkembangan ini dianggap perlu agar Brasil tetap kompetitif di level tertinggi.
"Beberapa taktik, terutama taktik bertahan, tidak sepenting 10 tahun yang lalu. Generasi pelatih baru lebih fokus pada permainan menyerang daripada bertahan,ÔÇØ tambah Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Mengenai pemanggilan pemain, Ancelotti menetapkan kriteria ketat terkait kondisi fisik, terutama bagi bintang Al Hilal, Neymar. Meskipun talenta sang pemain tidak diragukan, faktor kebugaran akan menjadi penentu utama kepulangannya ke tim nasional.
"Pemanggilan Neymar sepenuhnya bergantung padanya. Itu bergantung pada apa yang ditunjukkan pemain di lapangan," terang Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Kriteria penilaian ini berlaku adil bagi semua pemain yang ingin mengenakan seragam kuning khas Brasil. Ancelotti menekankan bahwa status bintang tidak memberikan jaminan tanpa dukungan kondisi fisik yang mumpuni untuk turnamen besar.
"Itu kriteria yang sangat jelas dan bukan hanya untuk Neymar. Dengan sebagian besar pemain, Anda perlu menilai bakat dan kondisi fisik." lanjut Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Keputusan akhir mengenai keterlibatan Neymar dalam skuad sepenuhnya berada di tangan sang pemain melalui performa yang ia tunjukkan di level klub. Tim medis dan pelatih hanya akan bertindak sebagai penilai objektivitas di lapangan.
"Dengan Neymar, kita hanya perlu menilai kondisi fisiknya karena bakatnya tidak perlu diragukan lagi. Itu bergantung padanya, bukan pada saya," tambah Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Selain Neymar, nama bek senior Thiago Silva yang kini berusia 41 tahun juga kembali muncul dalam radar pemanggilan. Performa Silva yang tetap stabil dan sukses menjuarai liga di Portugal menjadi alasan kuat di balik pertimbangan tersebut.
"Thiago Silva masuk dalam radar, ya. Dia bermain sangat baik, he memenangkan liga Portugal dan berada dalam kondisi fisik yang prima.ÔÇØ kata Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ancelotti menekankan bahwa kehadiran pemimpin di dalam tim sangat krusial untuk menjaga stabilitas mentalitas pemain. Ia merasa beruntung karena saat ini Brasil sudah memiliki beberapa figur senior yang mampu menjadi teladan bagi para pemain muda.
"Pemimpin itu penting. Untungnya, skuad ini memiliki pemimpin yang sangat dihormati," terang Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Nama-nama seperti Alisson, Casemiro, Marquinhos, dan Raphinha disebut sebagai pilar yang memberikan pengaruh positif melalui tindakan nyata. Kehadiran mereka diyakini mampu membimbing talenta-talenta berbakat Brasil untuk meraih prestasi tertinggi.
"Pemimpin yang tidak banyak bicara tetapi memberikan contoh yang baik, seperti Alisson, Casemiro, Marquinhos, dan Raphinha. Dalam hal itu, skuad ini berada di tangan yang tepat.ÔÇØ lanjut Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.
Ancelotti menutup pernyataannya dengan optimisme tinggi mengenai peluang Brasil untuk mengakhiri puasa gelar juara dunia selama 24 tahun. Dengan perpaduan talenta dan motivasi besar dari seluruh negeri, ia yakin Selecao akan tampil maksimal di turnamen mendatang.
"I memiliki skuad yang sangat berbakat. Selain itu, motivasi negara ini untuk menang lagi setelah 24 tahun sangat besar. Saya yakin kita akan menjalani Piala Dunia yang hebat," pungkas Ancelotti, Pelatih Timnas Brasil.