Shalat merupakan fondasi utama dalam hubungan spiritual antara seorang hamba dengan Sang Pencipta dalam ajaran Islam. Namun, tidak sedikit umat Islam yang merasa ibadah ini terasa membebani untuk dijalankan secara konsisten setiap harinya.
Meskipun secara syariat Islam memberikan banyak keringanan, hambatan psikologis dan spiritual sering kali menjadi ganjalan utama. Seperti dikutip dari Cahaya, Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa shalat memang terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang memiliki kekhusyukan dalam hatinya.
Penyederhanaan ibadah ini tertuang dalam firman Allah pada QS. Al-Baqarah: 286:
┘ä┘ÄϺ ┘è┘Å┘â┘Ä┘ä┘æ┘É┘ü┘ŠϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å ┘å┘Ä┘ü┘ÆÏ│┘ïϺ ÏÑ┘É┘ä┘æ┘ÄϺ ┘ê┘ÅÏ│┘ÆÏ╣┘Ä┘ç┘ÄϺ
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya."
Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan perspektif mendalam mengenai fenomena ini melalui kanal YouTube miliknya pada Rabu, 6 Mei 2026. Beliau menekankan bahwa kemampuan melaksanakan shalat sangat bergantung pada izin dan hidayah dari Allah SWT.
"Ada orang kuat bekerja berjam-jam, tapi giliran disuruh shalat tidak bisa. Padahal shalat itu ringan. Ini tanda bahwa tidak semua orang diizinkan oleh Allah untuk menghadap-Nya," ujar Buya Yahya.
Menurutnya, indikator keringnya hati seseorang terlihat ketika hal-hal berat sanggup dilakukan, namun ibadah yang ringkas justru terasa mustahil. Padahal, inti bacaan dalam shalat sangat terbatas dan mudah dihafalkan oleh siapa saja.
Secara teknis, shalat hanya terdiri dari beberapa rangkaian kata yang menjadi sarana komunikasi langsung hamba kepada Tuhannya. Berikut adalah urutan intinya:
Shalat dibuka dengan takbiratul ihram:
Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å Ïú┘Ä┘â┘ÆÏ¿┘ÄÏ▒┘Å
Artinya: "Allah Maha Besar"
Kemudian dilanjutkan dengan Surah Al-Fatihah sebagai pilar utama:
Ϻ┘ä┘Æ┘ÆÏ¡┘Ä┘à┘ÆÏ»┘Å ┘ä┘É┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ï▒┘ÄÏ¿┘æ┘É Ïº┘ä┘ÆÏ╣┘ÄϺ┘ä┘Ä┘à┘É┘è┘å┘Ä
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam"
Pada bagian tasyahud, seorang hamba memberikan penghormatan:
Ϻ┘äϬ┘æ┘ÄÏ¡┘É┘è┘æ┘ÄϺϬ┘ŠϺ┘ä┘Æ┘à┘ÅÏ¿┘ÄϺÏ▒┘Ä┘â┘ÄϺϬ┘ŠϺ┘äÏÁ┘æ┘Ä┘ä┘Ä┘ê┘ÄϺϬ┘ŠϺ┘äÏÀ┘æ┘Ä┘è┘æ┘ÉÏ¿┘ÄϺϬ┘Å ┘ä┘É┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É
Artinya: "Segala penghormatan, keberkahan, dan kebaikan milik Allah"
Ϻ┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Ä Ïú┘Ä┘è┘æ┘Å┘ç┘ÄϺ Ϻ┘ä┘å┘æ┘ÄÏ¿┘É┘è┘æ┘Å
Artinya: "Salam untukmu wahai Nabi"
Ϻ┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘å┘ÄϺ ┘ê┘ÄÏ╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë┘░ Ï╣┘ÉÏ¿┘ÄϺϻ┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É Ïº┘äÏÁ┘æ┘ÄϺ┘ä┘ÉÏ¡┘É┘è┘å┘Ä
Artinya: "Salam untuk kami dan hamba Allah yang saleh"
Rangkaian ini diteruskan dengan shalawat kepada Rasulullah:
Ϻ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Å┘à┘æ┘Ä ÏÁ┘Ä┘ä┘æ┘É Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘ë┘░ Ï│┘Ä┘è┘æ┘ÉÏ»┘É┘å┘ÄϺ ┘à┘ÅÏ¡┘Ä┘à┘æ┘ÄÏ»┘ì
Artinya: "Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad"
Ibadah ini pun ditutup secara sempurna dengan salam:
Ϻ┘äÏ│┘æ┘Ä┘ä┘ÄϺ┘à┘Å Ï╣┘Ä┘ä┘Ä┘è┘Æ┘â┘Å┘à┘Æ ┘ê┘ÄÏ▒┘ÄÏ¡┘Æ┘à┘ÄÏ®┘ŠϺ┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘É
Artinya: "Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian"
Buya Yahya menegaskan bahwa bacaan tersebut adalah inti dari shalat, sementara elemen lainnya bersifat sunah yang melengkapi. "Bacaan salat itu tidak banyak. Takbir, Fatihah, tasyahud, shalawat, lalu salam," kata beliau.
Faktor Penghambat Konsistensi Ibadah
Ada beberapa alasan mengapa shalat tetap terasa berat meski bacaannya sederhana. Lemahnya kesadaran spiritual sering kali membuat shalat hanya dianggap sebagai rutinitas kosong tanpa makna mendalam.
Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa kondisi hati yang lalai atau ghaflah merupakan penghalang utama. Ketika batin tidak hadir, maka anggota tubuh akan cenderung enggan dan merasa terbebani untuk bergerak melakukan sujud.
Selain itu, dominasi urusan duniawi dalam gaya hidup modern membuat waktu shalat dianggap sebagai interupsi produktivitas. Padahal, shalat seharusnya berfungsi sebagai spiritual anchor atau jangkar spiritual yang menyeimbangkan kehidupan manusia.
Faktor lingkungan juga memegang peranan krusial dalam membentuk kebiasaan ibadah seseorang. Buya Yahya mengingatkan bahwa membiarkan anggota keluarga tidak shalat dapat berdampak pada hilangnya keberkahan di dalam rumah tangga.
"Jangan sampai ada di rumah kita satu orang yang tidak shalat. Sebab bisa dicabut rahmat dari rumah tersebut," tutur Buya Yahya.
Posisi paling dekat antara manusia dengan Tuhannya terjadi pada saat sujud, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa momen tersebut adalah kehormatan spiritual tertinggi bagi seorang hamba.
Artinya: "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud." (HR. Muslim)