Musik Korean Pop atau K-Pop kini menjadi ruang aman dan pendukung emosional bagi sebagian Generasi Z di Indonesia pada Selasa (14/4/2025). Fenomena ini terjadi karena lirik lagu yang dianggap mewakili perasaan gelisah serta kehadiran figur idola yang menginspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Para penggemar tidak hanya menikmati irama musik, tetapi juga menjadikannya teman saat menghadapi rasa sepi. Dilansir dari Megapolitan, ketertarikan ini sering kali bermula dari penemuan konten di media sosial yang berlanjut pada ikatan emosional yang kuat antara penggemar dan sang idola.
Xena Olivia (26), seorang penggemar yang menyukai grup Seventeen dan Hearts2Heart (H2H), menjelaskan bahwa musik tersebut memberikan dukungan moral baginya. Ia merasa perjuangan para idola untuk sukses menjadi motivasi tersendiri dalam memberikan apresiasi melalui dukungan karya.
"Kalau ditanya kenapa suka Seventeen karena lagu-lagu mereka tuh mungkin kesannya lebay, ya, tapi kayak mereka bisa dibilang menyelamatkan aku, karena kayak lagu-lagu tuh ada yang kayak nge-support lirik lagunya gitu ya," ungkap Xena ketika diwawancarai Kompas.com, Selasa (14/4/2025).
Kehadiran anggota asal Indonesia dalam grup K-Pop juga meningkatkan rasa kepemilikan bagi penggemar lokal. Xena menambahkan bahwa kepribadian para personel yang rendah hati menjadi faktor penting selain kualitas lagu yang dihasilkan.
"Dan kayak aku merasa dengan suka mereka tuh, itu salah satu bentuk aku support dia lah gitu, karena perjuangan untuk jadi idol K-Pop kan enggak mudah," sambung dia.
Yohana Indah (27) memberikan pandangan serupa mengenai daya tarik kepribadian para anggota grup musik asal Korea Selatan tersebut. Menurutnya, aspek humor dan kecocokan musik menjadi pintu masuk untuk mengidolai sebuah grup secara mendalam.
"Aku suka karena mereka kocak, berlanjut ke lagu mereka yang cocok di telinga aku, baru aku suka orangnya," ungkap Yohana ketika diwawancarai Kompas.com, Selasa.
Inspirasi dari perjalanan karier idola juga dirasakan oleh Ice Suryani (29) yang mengidolai Bangtan Sonyeodan (BTS). Ia menilai keberhasilan grup tersebut yang merintis karier dari agensi kecil memberikan motivasi besar bagi kehidupan pribadinya.
"Itu kayak termotivasi banget buat gue gitu, kayak, 'dia aja bisa, apalagi gue'. Kayak keren banget deh," ujar Ice ketika ditemui Kompas.com, Selasa.
Faktor lain yang menarik minat adalah konsep visual dan kemasan album fisik yang unik. Fiqa (28) mengungkapkan bahwa ketertarikan pada K-Pop membuatnya mengoleksi berbagai pernak-pernik resmi sebagai bentuk dedikasi, meskipun intensitasnya mulai berkurang seiring usia.
"Dari dulu sampai sekarang aku masih suka sama BTS, sebenernya semua suka kayak Aespa, Blackpink, TXT (Tomorrow X Together), dan lainnya, tapi yang paling di hati cuma BTS," kata Fiqa ketika diwawancarai Kompas.com, Selasa.
Hobi mengoleksi barang-barang tersebut biasanya paling tinggi pada masa awal menjadi penggemar. Namun, loyalitas terhadap idola tetap ditunjukkan melalui kehadiran dalam konser dan pemasangan atribut di ruang pribadi.
"Sampai tahun 2023 aku udah enggak seheboh pas awal-awal yang tiap keluar sesuatu langsung dibeli, mungkin karena seiring bertambahnya usia kali ya," sambung Fiqa.
Pengamat Musik Ryan Kampua menjelaskan bahwa kesuksesan K-Pop di Indonesia didukung oleh paket musikalitas yang lengkap. Kombinasi genre pop, hip hop, R\&B, dan EDM menciptakan aransemen yang mudah diingat oleh pendengar lintas usia.
"Banyak ya faktornya, pertama tentu musikalitas yang memberikan paket komplit bagi penikmatnya. Lagu yang easy listening, catchy dalam menggabungkan unsur musik pop, hip hop, R\&B serta Electronic Dance Musik (EDM)," ungkap Ryan ketika dihubungi Kompas.com, Selasa.
Peningkatan akses internet di Indonesia juga berperan besar dalam mempercepat distribusi informasi dari Korea Selatan. Ryan menekankan bahwa interaksi langsung melalui layanan streaming membangun hubungan personal yang kuat antara idola dan komunitas penggemar.
"Alhasil, fans merasa sangat dihargai dan punya hubungan personal, bukan lagi sekedar hiburan, K-Pop seperti bagian dari hidup para pengikut setianya," sambung dia.
Transisi generasi idola terus berjalan secara estafet sejak era Super Junior hingga kemunculan BTS dan Blackpink. Ryan mencatat bahwa fenomena ini telah menciptakan budaya komunitas aktif yang memengaruhi gaya hidup, riasan wajah, hingga cara berpakaian para penggemar di Indonesia.
"Beberapa personilnya harus bela negara, hal ini memunculkan estafet idola baru seperti EXO, dilanjutkan dengan BTS dan tentu saja Blackpink," jelas Ryan.