Nama Ademir de Menezes mungkin tidak setenar Pele atau Ronaldo di era sepak bola modern, tetapi bagi Brasil, ia adalah salah satu striker paling mematikan sepanjang sejarah. Ademir menjadi simbol kejayaan sekaligus luka mendalam sepak bola Brasil pada era 1950-an. Lahir di Recife pada 8 November 1922, Ademir dengan julukan Queixada atau Si Rahang karena bentuk dagunya yang khas.
Di lapangan, ia ditakuti berkat kecepatan, teknik tinggi, dan penyelesaian akhir mematikan dengan kedua kaki. Karier profesional Ademir dimulai bersama Sport Club do Recife sebelum namanya melejit bersama CR Vasco da Gama. Ademir juga sempat memperkuat Fluminense FC sebelum kembali menjadi ikon Vasco hingga pensiun. Bersama Vasco, Ademir memenangkan lima gelar Campeonato Carioca dan menjadi top skor liga Rio pada 1949 serta 1950. Ketajamannya membuatnya dianggap sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di Amerika Selatan pada masanya.
Puncak karier Ademir datang di Piala Dunia 1950. Namun Piala Dunia edisi ini juga bisa dibilang sebagai patah hati terbesar rakyat Brasil. Bermain bersama Zizinho dan Jair, Ademir tampil luar biasa dengan mencetak sembilan gol dan enam assist sepanjang turnamen. Catatan itu membuatnya menjadi top skor Piala Dunia 1950 sekaligus peraih Golden Boot.
Ademir juga mencetak gol kompetitif pertama di Stadion Maracana, stadion yang kelak menjadi saksi tragedi terbesar sepak bola Brasil. Brasil saat itu nyaris pasti menjadi juara dunia setelah tampil dominan sepanjang turnamen. Namun semuanya runtuh pada laga penentuan melawan Uruguay di Maracana Stadium. Selecao kalah 1-2 dari Uruguay dalam pertandingan yang kemudian dikenal sebagai Maracanazo. Kekalahan itu menjadi trauma nasional yang membekas selama puluhan tahun.
Kekacauan di Balik Layar Maracanazo
Kekalahan tragis Brasil dari Uruguay di final Piala Dunia 1950 ternyata menyimpan banyak kisah di balik layar. Jauh sebelum tragedi Maracanazo terjadi di Stadion Maracana, suasana di kamp timnas Brasil sudah dipenuhi kekacauan, tekanan politik, hingga euforia berlebihan yang mengganggu fokus pemain. Skuat Brasil awalnya menjalani turnamen dengan tenang di sebuah mansion terpencil di kawasan Joa, Rio de Janeiro. Lokasi itu dipilih kapten tim Augusto da Costa agar para pemain terisolasi dari hiruk-pikuk kota dan tekanan publik.
"Kami hanya benar-benar sadar saat hari pertandingan tiba. Setelah bermain, kami kembali santai, kadang sambil minum anggur" kenang Moacyr Barbosa, kiper legendaris Brasil.
Namun semuanya berubah drastis menjelang laga final melawan Uruguay pada 16 Juli 1950. Skuat Brasil dipindahkan ke kompleks Stadion São Januário yang jauh lebih ramai dan mudah diakses publik. Perpindahan itu justru membuka pintu bagi kekacauan. Para pemain terus didatangi politikus, selebritas, sponsor, hingga media yang menganggap Brasil sudah pasti menjadi juara dunia. Bek Brasil, Bigode, mengaku para pemain bahkan kesulitan tidur akibat kebisingan dan asap pabrik di sekitar hotel tim.
Ademir, juga mengalami tekanan mental aneh menjelang pertandingan. Ia sempat dibawa ke rumah sakit untuk memberkati seorang bocah yang akan menjalani operasi.
"Setelah kembali ke hotel saya tidak bisa tidur. Saya terus memikirkan kenapa anak itu memperlakukan saya seperti orang suci" kata Ademir, penyerang legendaris Brasil.