Viktor Axelsen Pensiun Akibat Cedera Punggung Kronis L4-L5

Viktor Axelsen Pensiun Akibat Cedera Punggung Kronis L4-L5
Foto: Ilustrasi Viktor Axelsen Pensiun Akibat Cedera Punggung Kronis L4-L5.

Pebulu tangkis tunggal putra asal Denmark, Viktor Axelsen, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia profesional pada Rabu (15/4/2026) akibat cedera punggung kronis. Keputusan pensiun di usia 32 tahun ini diambil meski sang pemain baru saja mempertahankan medali emas pada Olimpiade Paris 2024.

Masalah kesehatan yang dialami Axelsen berakar dari kondisi herniasi diskus atau saraf terjepit pada area tulang belakang L4-L5. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Health, kondisi tersebut menyebabkan penonjolan cakram sendi yang menekan saraf hingga menimbulkan nyeri hebat ke area kaki kiri.

"Keputusan ini telah dibuat setelah berkonsultasi dengan ahli bedah yang mengoperasi saya tahun lalu, serta dokter-dokter yang telah bekerja sama dengan saya. Mereka mengatakan bahwa dengan rasa sakit yang saya alami sekarang, kemungkinan besar akan diperlukan operasi lagi, dan jika operasi itu tidak berjalan lancar, prosedur yang lebih serius mungkin diperlukan," ucap Axelsen kepada Badminton Europe.

Peraih dua medali emas Olimpiade ini mengungkapkan bahwa tekanan mental dan fisik memuncak menjelang kompetisi di Paris. Ia sempat memerlukan bantuan medis berupa suntikan pereda nyeri langsung ke tulang belakang demi bisa berkompetisi di ajang empat tahunan tersebut.

"Saya sangat stres karena Olimpiade sudah dekat," kenang Axelsen.

Setelah keberhasilan di Paris, kondisi fisik Axelsen justru kian merosot meski telah menjalani operasi endoskopi pada April 2025. Rasa sakit yang muncul secara konsisten bahkan saat tidak bertanding menjadi sinyal utama bahwa tubuhnya tidak lagi mampu menopang beban latihan profesional.

"Mengambil keputusan ini sangat sulit dan terkadang terasa tidak adil. Pada saat yang sama, tubuh saya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa selama bertahun-tahun, dan saya melihatnya sebagai sebuah hak istimewa yang besar karena dapat bermain, berlatih, dan memenangkan begitu banyak turnamen besar di level tertinggi. Sangat sedikit orang yang dapat mengalami apa yang telah saya alami dan bertemu begitu banyak orang yang luar biasa," tandasnya.

Pihak keluarga memberikan kesaksian mengenai perjuangan berat yang dilalui sang pemain dalam mempertahankan performa di tengah rasa sakit yang luar biasa. Ayah sekaligus manajer Axelsen menyoroti keterbatasan gerak sang putra saat tampil di turnamen besar terakhirnya.

"Ia bergerak seperti orang kikuk di lapangan karena menahan sakit. Ia tahu jika ia bugar, ia adalah yang terbaik, tapi selama dua-tiga tahun terakhir ia benar-benar berjuang melawan itu," ungkap sang ayah.

Kondisi medis Axelsen sempat mengalami penurunan drastis pada Oktober tahun lalu yang mengharuskan penggunaan obat saraf harian secara intensif. Struktur punggung yang sudah tidak sanggup lagi menahan tuntutan fisik level tinggi akhirnya menjadi alasan final sang legenda meninggalkan lapangan bulu tangkis.

Artikel terkait

Rekomendasi