Urutan rukun umrah yang benar menjadi panduan krusial bagi umat Islam saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Setiap tahapan dalam rangkaian ibadah ini telah ditetapkan secara khusus dan tidak boleh dilewati agar ibadah dinyatakan sah.
Dilansir dari Detikcom, anjuran melaksanakan umrah termaktub dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan keutamaannya. Meskipun hukumnya tidak wajib, ibadah ini memiliki nilai kemuliaan yang besar di mata Allah SWT.
"Nabi Muhammad SAW pernah ditanya perihal umrah, apakah ia wajib? Rasulullah SAW menjawab, 'Tidak, namun jika engkau berumrah, itu lebih baik bagimu'." (HR At-Tirmidzi)
Berdasarkan buku Fikih karya H. Muhaemin Nur Idris dan H. A. Nurzaman, terdapat perbedaan mendasar antara rukun umrah dan haji. Umrah tidak menyertakan wukuf di Arafah dan waktu pelaksanaannya tidak terbatas pada bulan-bulan tertentu seperti haji.
Dikutip dari Buku Tuntutan Manasik Haji dan Umrah susunan Kementerian Haji dan Umrah RI, rukun umrah terdiri dari lima poin utama. Seluruh rangkaian ini wajib dikerjakan secara berurutan tanpa terkecuali.
1. Ihram
Ihram merupakan niat untuk memulai ibadah umrah yang disertai dengan mengharamkan hal-hal tertentu yang sebelumnya dihalalkan. Secara bahasa, ihram berarti memasuki keadaan yang di dalamnya berlaku berbagai larangan (haram).
Saat mengucapkan niat ihram, seorang jemaah secara resmi memulai ibadahnya. Sejak saat itu, ia wajib menjaga diri dari segala larangan selama masa ihram hingga proses tahallul selesai dilakukan.
2. Tawaf
Tawaf adalah aktivitas mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran. Posisi Ka'bah harus selalu berada di sebelah kiri jemaah, dimulai dari titik Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama.
Syarat sah tawaf meliputi keadaan suci dari hadas maupun najis, menutup aurat, serta dilakukan di dalam area Masjidil Haram. Jemaah juga dilarang masuk ke dalam Hijir Ismail karena area tersebut merupakan bagian dari Ka'bah.
3. Sai
Secara istilah, sai adalah berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Perjalanan dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah dengan tata cara yang sudah ditentukan.
Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali menetapkan sai sebagai rukun yang menentukan sah atau tidaknya umrah. Namun, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sai adalah wajib haji yang jika ditinggalkan harus diganti dengan membayar dam.
4. Tahallul
Tahallul merupakan tanda berakhirnya seluruh rangkaian rukun umrah. Kondisi ini dicapai setelah jemaah melakukan proses mencukur atau memotong rambut sebagai simbol pelepasan masa ihram.
Setelah tahallul, jemaah kembali diperbolehkan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram. Amalan ini mengandung hikmah agar muslim senantiasa menjalani kehidupan dengan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT.
5. Tertib
Rukun terakhir adalah tertib, yang berarti melaksanakan seluruh rangkaian rukun secara berurutan. Jemaah harus mengawali ibadah dengan ihram dan mengakhirinya dengan tahallul sesuai aturan yang berlaku.
Hikmah Spiritual Ibadah Umrah
Pelaksanaan umrah membawa banyak dampak positif bagi kehidupan spiritual seorang muslim. Dalam buku Haji dan Umrah: Sebuah Perjalanan Spiritual, disebutkan bahwa ibadah ini mampu meningkatkan keteguhan iman dan ketakwaan.
Umrah melatih kekuatan fisik serta mental dalam menjaga keseimbangan diri. Nilai kesabaran juga terasah saat menghadapi berbagai ujian selama perjalanan ibadah, baik secara personal maupun saat berinteraksi dengan jemaah lain.
Aspek kesetaraan sangat kental dalam umrah karena semua jemaah mengenakan pakaian ihram yang seragam. Hal ini menunjukkan bahwa di hadapan Allah SWT, status sosial tidak menjadi pembeda, melainkan hanya tingkat ketakwaan masing-masing individu.
Ibadah ini juga memperkuat silaturahmi antarumat Islam sedunia. Pertemuan jemaah dari berbagai penjuru bumi menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus momentum mempererat ukhuwah islamiyah secara global.