Mengenal Tren Panggil Nama Jessica untuk Tenangkan Anak Tantrum

Mengenal Tren Panggil Nama Jessica untuk Tenangkan Anak Tantrum
Foto: Ilustrasi Mengenal Tren Panggil Nama Jessica untuk Tenangkan Anak Tantrum.

Media sosial, khususnya platform TikTok, tengah dihebohkan dengan metode unik untuk meredam ledakan emosi atau tantrum pada anak-anak. Dilansir dari Lifestyle, para orangtua membagikan momen saat buah hati mereka mendadak tenang hanya dengan mendengar nama "Jessica" disebut.

Praktik ini dilakukan dengan cara berseru memanggil nama tersebut atau berpura-pura mencari sosok bernama Jessica saat anak sedang menjerit histeris. Hasilnya, banyak anak yang seketika berhenti menangis karena merasa penasaran dan mulai mencari keberadaan sosok asing tersebut di sekitar mereka.

Eksperimen serupa juga memberikan hasil yang efektif meskipun menggunakan nama lain. Pengujian dilakukan terhadap bayi yang menangis dengan menyebut nama kucing peliharaan seperti "Asmodeus" dan "Momod", yang terbukti mampu menghentikan tangisan di tengah tantrum.

Efektivitas metode ini didasari oleh penjelasan logis terkait psikologi perkembangan anak. Orangtua pada dasarnya sedang memperkenalkan ide baru yang memaksa anak untuk mengalihkan fokus dari emosi negatifnya ke hal lain yang lebih menarik perhatian.

"Taktik ini bekerja dengan memutus siklus tersebut melalui pengalihan," ungkap dr. Madison Szar, MD, FAAP.

Menurut dr. Szar, sistem ini juga berhasil karena orangtua memberikan contoh watak yang mereka harapkan dari anak melalui ketenangan saat memanggil nama tersebut.

"Orangtua akan memanggil 'Jessica,' sering kali dengan suara yang tenang, dan menunggu dalam diam untuk sebuah tanggapan, dan anak-anak akan meniru perilaku ini," tambah dr. Szar.

Psikolog Anne Josephson, PsyD, MSEd turut mengamini pandangan tersebut. Ia menjelaskan bahwa penyebutan nama asing mampu mendistraksi balita dari emosi yang meledak, mengingat pemicu tangisan anak sering kali bersifat tidak masuk akal sejak awal.

Fakta di Balik Nama Jessica

Banyak orang mungkin bertanya-tanya mengenai keistimewaan nama "Jessica" atau "Asmodeus". Namun, para ahli menegaskan bahwa tidak ada kekuatan magis atau kombinasi huruf tertentu yang membuat nama-nama tersebut menjadi ampuh.

"Meskipun itu adalah nama yang indah, tidak ada yang ajaib dari nama 'Jessica'," tegas dr. Szar.

Terapis Martina Nova menambahkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan suara atau kombinasi huruf tertentu dapat menghentikan tangisan secara otomatis. Kunci keberhasilan metode ini terletak pada unsur kebaruan yang ditawarkan kepada anak.

Perbandingan dengan Metode Konvensional

Metode memanggil nama dianggap lebih sehat dibandingkan membujuk anak dengan pemberian makanan manis atau mainan baru. Pemberian snack manis berisiko memicu stimulasi berlebih dan membangun hubungan tidak sehat antara anak dengan makanan.

Selain itu, penggunaan mainan sebagai alat penenang dikhawatirkan dapat memperkuat perilaku buruk anak karena mereka merasa mendapatkan hadiah saat mengamuk. Metode "Jessica" dinilai lebih baik karena menyajikan gangguan yang netral dan segar bagi pikiran anak.

Batasan dan Peringatan bagi Orangtua

Meskipun efektif, para ahli mengingatkan bahwa pengalihan emosi bukan merupakan pengganti ikatan batin antara orangtua dan anak. Terlalu sering memotong tantrum dengan gangguan dapat menghambat proses belajar anak dalam menghadapi emosinya sendiri.

"Teknik pengalihan perhatian pada dasarnya tidak buruk, dan sering kali diperlukan, tetapi harus selalu dipasangkan dengan koneksi yang bermakna," ujar dr. Szar.

Martina Nova juga menekankan bahwa interupsi emosi tidak sama dengan regulasi diri. Berhentinya tangisan anak tidak selalu berarti mereka sudah merasa aman, tenang, atau merasa dipahami sepenuhnya oleh orangtua.

"Tujuannya adalah mendukung anak untuk melewati pengalaman emosional dengan cara yang terasa aman dan terkendali," terang Martina Nova.

Metode ini juga tidak berlaku universal bagi semua anak, terutama mereka yang neurodivergen atau sangat sensitif terhadap perubahan mendadak. Bagi anak dengan kondisi saraf tertentu, perubahan situasi yang tiba-tiba justru berpotensi memicu kekacauan pikiran yang lebih dalam.

"Media sosial sering kali menyajikan strategi sebagai solusi universal. Namun pada kenyataannya, pengasuhan anak jauh lebih individual," kata Martina Nova.

Artikel terkait

Rekomendasi