Tren kuliner asal Korea Selatan kembali mendominasi pasar Indonesia dengan munculnya inovasi terbaru bernama butter tteok. Camilan ini menarik perhatian publik lewat media sosial dan kini mulai banyak ditemukan pada etalase kafe modern.
Dilansir dari Lifestyle, butter tteok merupakan bentuk modern dari tteok atau kue beras tradisional Korea yang sudah ada selama ratusan tahun. Inovasi ini memadukan konsep adonan butter cake dengan mochi yang dimasak dengan cara dipanggang.
Proses pemanggangan tersebut menghasilkan karakteristik unik berupa lapisan luar yang sedikit renyah dan berwarna kecokelatan. Namun, bagian dalam camilan ini tetap mempertahankan tekstur kenyal yang menjadi ciri khas makanan penutup Asia.
Penganan ini sering kali disebut sebagai Shanghai butter rice cake karena adanya anggapan pengaruh dari kue mentega tradisional China. Meski demikian, pengemasan ulang yang dilakukan di Korea menjadikannya makanan penutup yang lebih estetis.
Cita rasa yang ditawarkan butter tteok cenderung gurih mentega dengan sentuhan manis yang ringan serta aroma vanila yang kuat. Tekstur kontras antara renyah dan kenyal menjadi alasan utama para penggemar pastri tertarik mencobanya.
Karakter rasanya dinilai tidak terlalu berat sehingga cocok dinikmati sebagai pendamping kopi atau camilan di sore hari. Hal ini menjadikannya pilihan praktis bagi konsumen yang mencari alternatif makanan penutup yang tidak terlalu manis.
Potensi Bisnis dan Variasi Rasa Lokal
Popularitas butter tteok didorong oleh kemudahan dalam mendapatkan bahan baku serta proses pembuatannya yang tergolong sederhana. Komposisi dasarnya meliputi tepung beras ketan, mentega, susu cair, gula, telur, garam, serta vanila.
Beberapa pembuat juga menambahkan tepung tapioka guna menciptakan tekstur yang lebih elastis dan tidak terlalu padat. Semua bahan tersebut cukup diaduk hingga halus sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam oven untuk dipanggang.
Sejumlah toko roti dan kafe ternama seperti Daribu, INNIKO, hingga Tous Les Jours sudah mulai menjajakan produk ini. Tren ini diprediksi akan terus meluas di berbagai kota besar di Indonesia sepanjang tahun 2026 melalui platform digital.
Kreativitas pelaku usaha lokal juga mulai bermunculan dengan menghadirkan varian rasa yang menyesuaikan lidah masyarakat Nusantara. Beberapa pilihan rasa seperti ubi ungu, cokelat, hingga kombinasi pisang cokelat kini mulai tersedia di pasaran.
Kemudahan proses produksi menggunakan cetakan kue dan oven sederhana mendorong banyak orang menjadikan butter tteok sebagai peluang usaha rumahan yang menjanjikan. Fenomena ini memperkuat posisi butter tteok sebagai camilan yang sedang naik daun di industri kuliner.