Majalah TIME resmi merilis daftar 100 sosok paling berpengaruh di dunia pada Jumat (17/4/2026) dengan menyertakan tiga penulis novel terkemuka di dalamnya. Kehadiran para sastrawan ini bersanding dengan deretan tokoh publik global lainnya seperti Jennie BLACKPINK dan aktris Dakota Johnson.
Dilansir dari Detikcom, ketiga novelis yang mendapatkan pengakuan internasional tersebut adalah Freida McFadden, Yiyun Li, dan Tayari Jones. Pengumuman tahunan ini menyoroti kontribusi signifikan mereka dalam perkembangan fiksi Amerika dan literatur global melalui karya-karya yang dinilai mendobrak batasan narasi.
Penulis fiksi psikologis Freida McFadden masuk dalam daftar tersebut setelah mendapatkan nominasi dari pencipta Fifty Shades, E.L. James. James menggambarkan McFadden sebagai sosok yang mampu mengubah rutinitas rumah tangga yang tampak normal menjadi rangkaian teror mental bagi para pembaca setianya.
"Latar belakangnya mungkin familiar bagi pembaca: rumah di pinggiran kota, pernikahan yang nyaman, rutinitas rumah tangga-tetapi dengan McFadden, tidak ada yang seperti yang terlihat. Secara bertahap ia meningkatkan ketegangan, dengan tema-tema sensitif seperti gaslighting, hubungan yang penuh kekerasan, manipulasi, dan balas dendam. Ia membawa teror ke rumah, menumbangkan hal-hal yang familiar, hingga Anda tidak dapat mempercayai siapa pun," tulis E.L. James.
Selanjutnya, novelis kelahiran Tiongkok Yiyun Li turut terpilih sebagai salah satu sosok paling berpengaruh melalui nominasi dari sastrawan senior Salman Rushdie. Rushdie menekankan posisi Li sebagai bagian penting dari gelombang suara baru dalam sastra Amerika kontemporer yang memperkaya khazanah literatur modern.
"Sastra Amerika belakangan ini sangat diperkaya oleh suara-suara baru dari mana saja-Chimamanda Ngozi Adichie dari Nigeria, Viet Thanh Nguyen dari Vietnam, dan dari Tiongkok, Yiyun Li, yang kini berada di jantung kelompok brilian ini," tulis Salman Rushdie.
Kehidupan pribadi Yiyun Li yang sempat mengalami tragedi kehilangan dua putra turut menjadi sorotan dalam perjalanannya meraih Penghargaan Buku Nasional melalui memoar bertajuk Things in Nature Merely Grow. Rushdie memberikan apresiasi mendalam atas ketangguhan emosional yang ditunjukkan Li melalui tulisan-tulisannya yang radikal namun terkendali.
"Memoar ini menggabungkan kecerdasan tinggi dengan pengendalian emosi yang luar biasa, menghormati orang yang telah meninggal sambil juga bersikeras pada kehidupan. Saya tidak tahu bagaimana ia melakukannya, tetapi saya kagum," tulis Salman Rushdie.
Novelis terakhir yang melengkapi daftar tersebut adalah Tayari Jones, yang dikenal melalui karyanya yang mengangkat isu sosial dan kehidupan perempuan kulit hitam. Profesor dari Harvard, Perry, memberikan nominasi kepada Jones atas perannya dalam meneruskan tradisi aktivisme hak sipil melalui karya fiksi yang memikat.
"Berdiri dalam tradisi para aktivis hak sipil dan penulis kebangkitan sastra perempuan kulit hitam akhir abad ke-20, ia mengenakan warisan ini seperti mahkota. Tayari membangun warisan sambil membina sesama penulis dan memukau para pembacanya dengan keanggunan, pesona, ketenangan, dan senyum yang cemerlang," tulis Perry.