Berbagai penelitian medis terbaru pada Kamis (16/4/2026) menegaskan bahwa konsumsi tempe tidak memiliki kaitan dengan penurunan kadar hormon testosteron atau risiko kemandulan pada pria. Hal ini menepis anggapan masyarakat mengenai efek negatif fitoestrogen kedelai terhadap kesuburan.
Kekhawatiran tersebut mulanya muncul karena kandungan fitoestrogen dalam kedelai dianggap bekerja serupa dengan hormon estrogen manusia. Namun, aktivitas senyawa isoflavon pada tempe di dalam tubuh manusia ditemukan jauh lebih lemah dibandingkan hormon alami.
Dilansir dari Detik Health, tinjauan penelitian dalam jurnal Fertility and Sterility menunjukkan bahwa produk kedelai tidak berdampak pada hormon pria sehat. Analisis dalam jurnal Reproductive Toxicology tahun 2021 juga menyimpulkan protein kedelai tidak memengaruhi kadar testosteron total maupun bebas.
Secara teknis, 100 gram tempe mengandung sekitar 50 hingga 55 mg isoflavon, tergantung pada proses fermentasinya. Dalam porsi makan harian normal seberat 30-50 gram, jumlah isoflavon yang masuk ke tubuh hanya berkisar antara 15 sampai 25 mg.
Batas aman konsumsi isoflavon dari kedelai bahkan mencapai lebih dari 75 mg per hari tanpa menunjukkan efek penurunan hormon. Jumlah fitoestrogen yang didapat dari konsumsi harian sewajarnya tetap berada dalam ambang batas aman bagi sistem reproduksi.
Kualitas sperma dan kesuburan pria sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yang komprehensif. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingkat stres, pola tidur, serta paparan panas berlebih pada area testis memiliki pengaruh lebih signifikan.
Tempe justru merupakan sumber protein nabati unggulan karena mengandung sekitar 20,8 gram protein per 100 gram bahan. Proses fermentasi oleh jamur Rhizopus memecah komponen kedelai sehingga nutrisi seperti zat besi dan magnesium lebih mudah diserap tubuh.