Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlaku sejak April menghadirkan tantangan baru bagi ibu bekerja. Dilansir dari Lifestyle, situasi ini sering kali meruntuhkan batasan antara tanggung jawab profesional dan urusan domestik.
Ketika berada di kantor, terdapat sekat fisik yang jelas antara peran sebagai pegawai dan ibu. Namun, saat bekerja dari rumah, batasan tersebut hilang sehingga rumah sering kali berubah menjadi lokasi multitasking yang ekstrem bagi para perempuan.
Psikolog Klinis dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa penetapan batasan atau boundary setting yang nyata adalah kunci utama. Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental ibu selama menjalani rutinitas WFH di hari Jumat.
Langkah awal yang krusial dalam menghadapi hilangnya sekat antara ranah pribadi dan kantor adalah dengan mengatur batasan ruang secara fisik. Idealnya, setiap individu memiliki ruang kerja khusus yang privat di dalam rumah mereka.
"Kalau kita enggak punya ruang kerja, misalnya, kita bisa memilih lokasi khusus. Di sudut kiri ruangan kita misalnya itu ada meja, maka di meja itulah kita harus melakukan pekerjaan kita," kata Clement saat dihubungi pada Selasa (5/5/2026).
Metode ini bertujuan agar otak dapat mengasosiasikan sudut atau benda tertentu hanya untuk urusan kantor. Disarankan pula untuk tidak menggunakan area tersebut sebagai tempat hiburan agar fokus tetap terjaga sepenuhnya pada pekerjaan.
Selain masalah ruang, kedisiplinan terhadap waktu juga menjadi tantangan besar akibat munculnya fenomena budaya selalu siaga atau always-on. Ibu bekerja sering kali merasa terbebani untuk terus merespons atasan di luar jam kerja yang telah ditentukan.
Clement menjelaskan bahwa bersikap tegas untuk tidak menanggapi urusan kantor di luar jam operasional, seperti pukul 09.00 hingga 17.00, adalah hal yang perlu dilakukan. Langkah ini penting agar hak untuk beristirahat tetap terlindungi dari intervensi pekerjaan.
"Kalau kita terus-menerus membalas chat atau membalas telepon di luar jam yang telah kita tentukan untuk bekerja, maka itu akan memberikan tanda buat orang lain bahwa di luar jam segini boleh aja diganggu," jelas Clement.
Pentingnya Delegasi Tugas dan Masa Transisi
Bagi ibu dengan peran ganda, akumulasi pekerjaan kantor dan urusan rumah tangga yang tidak kunjung usai sangat berisiko memicu kelelahan fisik maupun mental. Clement menilai tugas domestik memiliki tingkat kuras energi yang setara dengan laporan kantor.
Memaksakan diri untuk menyelesaikan semua beban sendirian saat WFH Jumat hanya akan mempercepat terjadinya kondisi burnout. Oleh karena itu, berbagi beban kerja di rumah dengan anggota keluarga lainnya menjadi solusi yang sangat direkomendasikan.
"Menurutku tugas-tugas domestik itu, seolah-olah rumah itu kan, buat ibu yang bekerja, 'Jadinya saya bekerja juga (sebagai pegawai), dan di sisi lain juga saya bekerja juga sebagai ibu'. Kebayang enggak sih jadi double-double?" tutur Clement.
Keluarga perlu dilibatkan, termasuk suami atau anak yang sudah cukup umur, untuk membantu meringankan pekerjaan rumah tangga. Hal ini bisa dimulai dari hal kecil seperti membereskan mainan atau mencuci piring sendiri setelah kewajiban kantor berakhir.
"Kita bagilah tugas-tugas di rumah ini dengan anak-anak kita atau dengan suami kita. Para ibu bisa meng-encourage anak-anak untuk membereskan mainannya sendiri atau mencuci piringnya sendiri," saran Clement.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menyediakan waktu transisi atau jeda setelah mematikan laptop sebelum beralih ke urusan rumah. Melompat langsung dari satu tugas ke tugas lain tanpa istirahat dapat memicu emosi negatif dan rasa kesal.
Waktu transisi selama sekitar 30 menit dapat diisi dengan kegiatan ringan seperti peregangan, tidur sejenak, atau sekadar menikmati suasana sore. Jeda ini berfungsi menggantikan waktu perjalanan pulang kantor yang biasanya memberikan waktu bagi pikiran untuk beralih peran.
"Paling tidak relaksasi dulu, ada transisi, baru kita ngerjain tugas domestik kita," ujar Clement.