Sebuah data statistik terbaru mengungkap realitas emosional bagi para ibu. Sebanyak 59% ibu menyatakan rumah tangga mereka akan langsung lumpuh total dalam waktu satu hari atau kurang jika mereka absen.
Lebih jauh lagi, riset tersebut mencatat rata-rata titik kritis kehancuran rutinitas rumah tangga terjadi hanya dalam waktu dua hari saja. Angka-angka ini tertuang dalam laporan "State of Motherhood 2026" berdasarkan survei terhadap 2.000 ibu yang dilakukan oleh Talker Research untuk aplikasi pola asuh It's a Family Thing, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Hasil ini mempertegas apa yang sebenarnya sudah disadari oleh banyak ibu selama ini. Ibu tidak hanya memikul porsi besar dalam tugas-tugas fisik di rumah, yang menghabiskan sekitar 20 jam seminggu menurut survei, tetapi juga menjadi pengatur utama dari ritme kehidupan sehari-hari.
Menurut data survei, 53% ibu menyatakan diri mereka sebagai penjaga jadwal dan komitmen bagi setiap anggota rumah tangga. Selain itu, 49% ibu menjadi sosok yang selalu mengingatkan semua orang tentang hal-hal yang perlu diselesaikan, dan 41% harus mengulang instruksi serta menindaklanjutinya untuk memastikan tugas tersebut benar-benar beres.
Kondisi ini tecermin nyata ketika seorang ibu harus menjalani operasi bahu medis yang membuatnya terpaksa rehat selama tiga minggu. Meski sang suami telah berupaya keras menggantikan peran domestik di sela-sela jadwal kerja malamnya, serta anak-anak perempuan remaja mereka turut membantu, tanda-tanda keretakan di dalam rumah tetap tidak dapat dihindari.
Tanpa kehadiran ibu di pagi hari, rutinitas sarapan dan bekal anak-anak menjadi tidak terkontrol. Tugas-tugas rumah tangga pun mulai terbengkalai, seperti tumpukan pakaian kotor meninggi, debu terlihat jelas di lantai, dan barang-barang yang biasanya langsung dirapikan menjadi berserakan selama berhari-hari.
Kondisi semakin rumit terkait manajemen transportasi anak. Ketika sang ibu tidak bisa mengemudi pasca-operasi, koordinasi jadwal antar-jemput anak yang padat harus dialihkan menggunakan lembar data khusus dan bantuan dari komunitas orang tua lainnya.
Beban Mom Guilt dan Mode Bertahan Hidup
Situasi tersebut kerap memicu munculnya perasaan bersalah pada ibu atau mom guilt. Melihat suami kelelahan dan tugas rumah terbengkalai sering kali menimbulkan rasa tidak berdaya, meskipun masa istirahat pasca-operasi sangat krusial demi pemulihan mandiri mereka.
Riset ini juga menangkap potret kelelahan mental yang masif. Mayoritas responden ibu mengaku menghabiskan sekitar 46% waktu mereka dalam seminggu hanya untuk mode bertahan hidup atau survival mode.
Selain itu, 64% ibu tercatat hanya mendapatkan waktu tidur enam jam atau bahkan kurang setiap malamnya. Sebanyak 45% di antaranya merasa kesulitan untuk mendapatkan waktu relaksasi murni meskipun hanya satu jam dalam sehari.
Laporan Bedtime Report juga mengungkapkan mayoritas ibu kurang tidur bukan karena anak, melainkan akibat kecemasan, beban mental, dan fenomena balas dendam waktu tidur.
Meski dalam kondisi pemulihan sakit, tombol peran sebagai ibu pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa dimatikan. Rumah tangga mungkin tidak sepenuhnya hancur berantakan dalam dua hari seperti yang digambarkan oleh survei berkat usaha keras dari seluruh anggota keluarga, tetapi sistem domestik tersebut jelas menunjukkan keretakan yang nyata tanpa kehadiran sosok seorang ibu.