Bekerja dari rumah sering kali dianggap memberi kenyamanan lebih dibandingkan bekerja dari kantor karena tak harus menempuh kemacetan dalam perjalanan berangkat dan pulang.
Namun bagi Wiwid (38), seorang document controller specialist di salah satu BUMD Jakarta, work from home (WFH) justru menghadirkan tantangan tersendiri yang menuntut strategi khusus agar tidak berujung pada kelelahan mental atau burnout.
Sebagai ibu sekaligus pekerja, hari kerja dari rumah bagi Wiwid bukan sekadar menyelesaikan dokumen atau menghadiri rapat virtual.
Di saat bersamaan, ia juga harus merespons kebutuhan anak dan mengatur ritme kerja yang kerap meluas hingga malam hari.
Di tengah padatnya tanggung jawab tersebut, Wiwid perlahan menemukan cara untuk mengelola tekanan dari berbagai tanggung jawabnya.
One dari tantangan terbesar saat bekerja dari rumah adalah membagi fokus antara pekerjaan dan kebutuhan anak yang sering kali datang tanpa bisa diprediksi.
Bagi ibu 2 anak itu, situasi ini kerap terjadi ketika dirinya sedang berkutat dengan dokumen atau menghadiri rapat daring, sementara sang anak membutuhkan perhatian lebih.