Ingat buku, ingat Pasar Kwitang! Itu ÔÇÿpepatahÔÇÖ dulu. Sekarang Pasar Kwitang tak lagi digemari para kutu buku. Tak mengherankan jika di pasar legendaris yang pernah mengenyam masa kejayaan pada era 2000-an tersebut kini tinggal tersisa sejumlah pedagang saja.
Tetapi, benarkah Pasar Kwitang, di bilangan Senin, Jakarta Pusat sudah tinggal sejarah? Untuk memadamkan rasa penasaran itu, aku baru-baru ini mengunjungi pasar tersebut. Siang itu, di bawah sengatan sinar matahari, tampak seorang pria paruh baya duduk di depan salah satu toko buku di Kwitang. Matanya menerawang, seperti sedang melamun.
Pria yang tengah menunggu pelanggan itu tersentak saat aku menghampirinya begitu turun dari sepeda motor ojek online. Wajahnya sumringah saat aku memperkenalkan diri.
"Silakan Dek, mau bertanya apa saja? Bapak siap menjawab semua," ucap Ismail (59), Pedagang Buku.
Ismail ternyata sudah berjualan buku di Kwitang sejak 1987. Ia sempat mencicipi era gilang-gemilang Pasar Kwitang pada era awal 2000-an.
"Pertama kali saya berjualan, kamu pasti belum lahir," ujar Ismail, Pedagang Buku.
Seolah hendak bernostalgia, Ismail berkisah tentang puncak kejayaan Kwitang sebagai surga para kutu buku. Masa-masa indah itu berlangsung sekitar tahun 2000-an. Adalah film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) besutan Riri Riza dan Mira Lesmana yang turut melambungkan nama Pasar Kwitang. Maklum, salah satu adegan film yang disutradarai Rudy Soedjarwo dengan peran utama Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra itu diambil di Pasar Kwitang.
"Saat itu ada adegan Cinta (diperankan Dian Sastro) dan Rangga (Nicholas Saputra). Itu syuting film AADC yang terkenal sekali, Dek," tutur Ismail, Pedagang Buku.
AADC yang meledak saat dirilis pada Februari 2002, berkisah tentang seorang gadis SMA yang harus memilih, apakah ia tetap menjadi bagian gengnya, atau jatuh cinta kepada seorang siswa yang menggandrungi sastra di sekolahnya. Namun, binar-binar di mata Ismail kemudian meredup. Tawa kecilnya sirna seketika saat ingatan beralih ke masa transisi lahan dagangnya.
"Tapi setelah itu Pasar Kwitang digusur oleh pemda. Kami dianggap melanggar karena berjualan di trotoar. Kami selanjutnya direlokasi ke tempat yang lebih bagus. Itu tahun 2010," papar Ismail, Pedagang Buku.
Berdamai dengan Teknologi
Ismail, seperti para pedagang buku lainnya di Pasar Kwitang, sadar betul bahwa pasar tersebut kian sepi pengunjung akibat maraknya toko buku online atau e-commerce dan marketplace. Ia pun mencoba berdamai dengan zaman. Ia bersama teman-temannya mulai memanfaatkan teknologi untuk berjualan. Ia dengan senang hati bakal melayani pembeli yang memesan buku secara daring.
Puas berbincang-bincang dengan Ismail, aku menjelajahi toko-toko lainnya di Pasar Kwitang. Atas rekomendasi Ismail, aku mencari pedagang toko buku lainnya yang akrab disapa Bang Kubil. Langkah kecilku sampai juga ke kios Bang Kubil yang sedang tertidur pulas di balik tumpukan buku yang menjulang tinggi sampai langit atap tokonya. Rupanya, kedatanganku langsung membuatnya terbangun dan ia bergegas menyambutku dengan ramah.
"Berarti sudah 32 tahun," tutur Kubil, Pedagang Buku.
Bang Kubil berjualan di Kwitang sudah lebih dari tiga dekade, persisnya sejak 1991. Senasib dengan rekannya Ismail, pria asal Sumatera Utara ini masih mempertahankan bisnis buku yang dirintisnya. Seperti para pedagang lainnya, Kubil tidak mau menyalahkan zaman. Sebaliknya, ia mencoba berteman lebih akrab dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.
"Setiap zaman ada tantangannya, Mbak. Ada pembeli yang merasa nyaman membaca e-book menggunakan handphone dan laptop. Tapi ada pula yang masih nyaman membaca buku fisik. Jadi, itu tidak hilang karena sensasinya berbeda," tandas Kubil, Pedagang Buku.
Kubil percaya tak semua orang suka membaca buku secara elektronik (e-book). Masih banyak yang setia membaca buku secara fisik karena persoalan rasa nyaman. Usai berbincang-bincang dengan Bang Kubil, aku bergegas keluar sambil mencuri-curi pandang pada rak-rak kayu yang penuh sesak. Tak disangka, tiga buku yang dipajang di toko Bang Kubil berhasil mencuri perhatianku, dan dalam sekejap, aku membungkusnya untuk dibawa pulang sebagai buah tangan dari sisa-sisa kejayaan literasi Jakarta.