Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat yang Menjadi Simbol Lebaran

Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat yang Menjadi Simbol Lebaran
Foto: Ilustrasi Mengenal Sejarah dan Filosofi Ketupat yang Menjadi Simbol Lebaran.

Ketupat menjadi salah satu sajian ikonik yang melekat erat dengan perayaan Idulfitri di Indonesia. Kuliner berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda ini menyimpan nilai sejarah panjang serta filosofi mendalam, seperti dikutip dari Caritahu.

Masyarakat Indonesia merayakan Lebaran Ketupat pada tanggal 8 Syawal, yang pada tahun ini bertepatan dengan Sabtu, 28 Maret 2026. Tradisi memasak hidangan ini dilakukan setelah melewati hari raya utama.

Berdasarkan data dari Kementerian Kebudayaan, panganan ini diyakini bermula dari wilayah Pulau Jawa. Hidangan tersebut tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Jawa semenjak periode syiar agama Islam.

Masyarakat lokal kerap menyebut ketupat dengan istilah "kupat". Seiring berjalannya waktu, tradisi menyajikan hidangan berbungkus janur ini meluas ke berbagai penjuru Nusantara hingga merambah ke negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Brunei.

Andil Sunan Kalijaga dalam Penyebaran

Eksistensi ketupat tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sang wali memakai strategi pendekatan kebudayaan setempat agar ajaran agama lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Sunan Kalijaga menginisiasi tradisi bernama "Bakda Kupat", yakni sebuah perayaan pasca-Idulfitri yang umumnya dilangsungkan satu pekan setelah hari raya. Momentum tersebut berfungsi sebagai sarana mempererat kebersamaan dan silaturahmi antarwarga.

Makna Filosofis di Balik Bentuk Ketupat

Bentuk unik dari hidangan ini memuat simbolisme yang sarat akan makna kehidupan dalam tatanan budaya Jawa.

1. Ngaku Lepat

Istilah kupat merepresentasikan frasa "ngaku lepat" yang berarti mengakui kesalahan. Konsep ini berjalan selaras dengan kebiasaan saling memaafkan yang dilakukan umat Muslim sewaktu Lebaran.

2. Karakter Anyaman Janur

Kerumitan pola rajutan daun kelapa muda diposisikan sebagai cerminan dari kompleksitas serta banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh manusia.

3. Kesucian Beras Putih

Saat bagian luar dibelah, isi ketupat memperlihatkan warna putih bersih. Hal ini menjadi lambang kesucian jiwa manusia sesudah memohon ampunan atas segala khilaf.

4. Struktur Segi Empat

Visualisasi bentuk segi empat mengisyaratkan tentang keseimbangan dalam menjalani kehidupan serta melambangkan empat arah mata angin.

Pada implementasinya, sajian ini hampir selalu dihidangkan bersama menu pendamping seperti opor ayam, rendang, atau sambal goreng ati untuk memperkuat kebersamaan keluarga. Di sejumlah wilayah, perayaan khusus berupa Lebaran Ketupat tetap lestari menjadi bagian dari warisan sejarah Islam.

Artikel terkait

Rekomendasi