Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, menekankan pentingnya evakuasi medis segera bagi penderita hamil anggur guna mencegah risiko keganasan pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Lifestyle, kondisi mola hidatidosa ini dapat mengancam kesehatan ibu jika jaringan abnormal dibiarkan berkembang tanpa penanganan.
Hamil anggur merupakan kelainan proses pembuahan yang mengakibatkan tumbuhnya jaringan menyerupai gelembung cairan di dalam rahim, alih-alih janin normal. Dr. Krisantus menjelaskan bahwa tindakan pembersihan rahim merupakan prosedur wajib karena potensi penyebaran sel abnormal ke organ tubuh lain.
"Hamil anggur ini terbagi antara komplit dan parsial. Kalau yang komplit itu harus dibersihkan karena memiliki risiko untuk menjadi suatu penyakit keganasan di kemudian hari," kata dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Eka Hospital PIK.
Risiko utama dari kondisi ini adalah sifat invasif jaringan yang mampu menembus lapisan rahim dan menyebar melalui aliran darah. Jika evakuasi terlambat dilakukan, sel-sel tersebut dapat memicu penyakit trofoblastik gestasional yang bersifat tumor ganas.
"Hamil anggur itu harus dikeluarkan karena dia bisa masuk ke sistem darah ibu dan hal ini bisa metastasis ke mana-mana," ujar dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK.
Selain risiko penyebaran ke organ seperti paru-paru, pertumbuhan jaringan yang agresif menjadi perhatian utama tim medis. Pemantauan rutin melalui kontrol kehamilan dianggap sebagai kunci deteksi dini sebelum komplikasi berat muncul.
"Zat atau jaringan dari hamil anggur juga bisa bersifat invasif. Jika tidak segera dibersihkan, maka bisa menjadi tumor," kata dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK.
Pasca prosedur pengangkatan jaringan, pasien diwajibkan menjalani pemantauan kadar hormon Beta HCG secara berkala. Hal ini bertujuan memastikan tidak ada sisa jaringan aktif yang tertinggal di dalam tubuh ibu.
"Setelah dievakuasi, dokter juga harus memeriksa kadar Beta HCG. Ibu disarankan untuk KB selama 6 bulan, tujuannya untuk menetralkan atau membuat Beta HCG-nya nol," jelas dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK.
Langkah penggunaan kontrasepsi selama enam bulan dilakukan agar fluktuasi hormon akibat kehamilan baru tidak mengganggu akurasi pemantauan medis. Meskipun berisiko serius, dr. Krisantus menegaskan bahwa kondisi ini bukan merupakan faktor genetik yang menurun.
"Kasus seperti ini bukan penyakit genetik. Tidak ada data yang membuktikan bahwa kehamilan serupa akan terulang jika sudah ditangani dengan benar," kata dr. Krisantus Desiderius Jebada, Sp.OG, Dokter Spesialis Obgyn Eka Hospital PIK.