Riset terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkapkan bahwa masyarakat perkotaan usia produktif lebih sering menggunakan internet untuk mendiagnosis keluhan fisik dibandingkan masalah kesehatan mental pada Rabu (13/5/2026) di Jakarta. Keluhan sistem pernapasan dan jantung menjadi topik yang paling mendominasi pencarian informasi medis digital.
Hasil penelitian terhadap 448 responden di 12 kota besar ini membantah asumsi bahwa fasilitas digital lebih banyak dipakai untuk konsultasi psikologis. Berdasarkan data yang dilansir dari Lifestyle, sebanyak 75 persen partisipan terkonsentrasi di wilayah megapolitan seperti Jabodetabek, Bandung, hingga Surabaya dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi tinggi.
"Surprisingly teman-teman, dari studi kami menunjukkan bahwa keluhan pernapasan dan kardiovaskular, itu adalah keluhan paling sering," kata Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.
Ray menjelaskan bahwa kekhawatiran mengenai dominasi skrining kesehatan mental dalam praktik swadiagnosis ternyata tidak terbukti secara statistik. Fenomena yang muncul justru kecenderungan kaum muda untuk mencari tahu gejala penyakit klinis organik melalui teknologi kecerdasan buatan.
"Jadi, kita ternyata khawatir bahwa selama ini kita takutnya mental health screening itu jadi dominan di swadiagnostik. Ternyata enggak tuh. Justru penyakit klinis yang organik, yang bikin anak muda kita nyari ChatGPT," ujar Ray Basrowi.
Ketua Peneliti HCC tersebut menambahkan bahwa persentase pencarian terkait kondisi psikologis hanya menyentuh angka 16 persen dari total aktivitas pencarian kesehatan responden. Hal ini menunjukkan pergeseran fokus penggunaan gawai pada kelompok usia di bawah 39 tahun.
"Dan ternyata psikologis itu hanya 16 persen. Anak muda kita 'ngomong' dan cari tau sakitnya di gadget itu bukan masalah mental health," sambung Ray Basrowi.
Data penelitian merinci bahwa gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas mencapai 46 persen, diikuti masalah kardiovaskular sebesar 40 persen. Tingginya angka ini didorong oleh keinginan individu untuk segera mendapatkan kepastian atas gejala harian yang mereka rasakan secara fisik.
"Ternyata gangguan di bagian pernapasan, sesak nafas, batuk, itu adalah keluhan utama yang bikin anak muda urban di Indonesia berkonsultasi dengan swadiagnostik tools mereka," ungkap Ray Basrowi.
Meskipun demikian, terdapat temuan mengenai durasi paparan layar yang tinggi, di mana 23 persen responden menatap gawai lebih dari enam jam setiap hari. Kondisi ini memungkinkan adanya keterkaitan antara gejala fisik yang dicari dengan kondisi psikis dasar pengguna.
"Ini mungkin ada anomali, tapi ini akan jadi studi kami selanjutnya untuk ngecek dan untuk memvalidasi bener nggak dan kenapa ini," tutur Ray Basrowi.
Ray memberikan catatan tambahan bahwa gejala pernapasan atau pencernaan yang dilaporkan pengguna bisa saja merupakan bentuk psikosomatis atau dampak dari stres yang tidak disadari. Masalah lambung akibat kesibukan urban juga kerap menjadi kata kunci yang dominan di mesin pencari.
"Karena, bisa jadi dua ini (sesak napas dan batuk) adalah bagian dari mental health. Orang refluks kan, orang regurgitasi kan juga kebanyakan karena mental health, karena psikosomatis," lanjut Ray Basrowi.
Risiko utama dari kebiasaan ini adalah terjadinya over diagnosis akibat kesalahan pengguna dalam memasukkan perintah atau prompt pada alat kecerdasan buatan. Diagnosis mandiri tanpa pemeriksaan fisik oleh tenaga medis profesional berpotensi memicu kesalahan fatal dalam penentuan terapi kesehatan.
"Kalau hanya gejala bertahap tetapi dia salah menaruh prompt di ChatGPT, akan terdiagnosis sebagai muntah. Itu sudah selesai, langsung over diagnosis," ujar Ray Basrowi.
Kesalahan identifikasi gejala, misalnya antara refluks lambung biasa dengan infeksi usus, dapat mendorong seseorang mengonsumsi obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Kondisi ini mempertegas pentingnya validasi medis langsung dibandingkan hanya mengandalkan algoritma perangkat lunak.
"Bayangkan kalau itu hanya refluks tapi dianggap infeksi usus karena hasil swadiagnosis yang salah," ucap Ray Basrowi.