Rahasia Alison Hammond Turun 69 Kg Tanpa Diet Ekstrem

Rahasia Alison Hammond Turun 69 Kg Tanpa Diet Ekstrem
Foto: Ilustrasi Rahasia Alison Hammond Turun 69 Kg Tanpa Diet Ekstrem.

Lampu sorot studio This Morning sering kali menangkap tawa renyah Alison Hammond, namun di balik keceriaannya, presenter berusia 51 tahun ini menyimpan cerita perjuangan fisik yang luar biasa. Tanpa bantuan diet ekstrem atau rejimen latihan yang menyiksa, Hammond berhasil memangkas berat badannya hingga 69 kilogram. Transformasi ini bermula bukan dari gym, melainkan dari sebuah keputusan untuk mendewasakan pola pikirnya terhadap makanan.

Sebelumnya, Hammond mencapai titik terberatnya di angka 190 kilogram. Titik balik itu datang saat tim medis memberikan diagnosis pradiabetes, sebuah peringatan keras yang memaksanya menilik kembali setiap suapan yang masuk ke mulutnya. Ia mulai memangkas asupan gula dan lemak, namun tetap mempertahankan hubungan yang sehat dengan makanan favoritnya tanpa rasa bersalah yang berlebihan.

Melepaskan Mentalitas Anak Kecil

Perjalanan fisik Hammond sebenarnya sudah dimulai sejak lama melalui bantuan profesional. Ia mengaku tetap aktif bergerak bahkan saat tubuhnya berada pada ukuran terbesar, namun ada satu penghambat besar yang selama ini ia abaikan: ketergantungan emosional pada rasa manis.

"Saya punya personal trainer selama lima tahun, bahkan saat saya berada pada ukuran tubuh terbesar," kata Hammond kepada Radio Times.

Kenyataan pahit yang ia sadari adalah bahwa olahraga saja tidak cukup jika pikiran masih terjebak dalam kebiasaan lama. Hammond mengenang bagaimana permen toffee menjadi kelemahan terbesarnya yang sulit dikendalikan di masa lalu.

"Namun, saya punya mentalitas kekanak-kanakan soal makanan, terutama toffee. Sekarang saya hanya makan beberapa dalam sehari," ujar Hammond.

Meski kini lebih waspada, Hammond menolak untuk terjebak dalam siklus diet yang menyiksa diri. Ia memilih pendekatan moderasi dibandingkan eliminasi total terhadap jenis makanan tertentu.

"Saya tidak melarang diri saya makan apa pun. Saya makan semuanya, tetapi secukupnya," kata Hammond.

Sains di Balik Pengurangan Gula

Pendekatan Hammond sejalan dengan pandangan para ahli nutrisi. Kim Pearson, seorang pakar penurunan berat badan dan penulis buku The Nozempic Diet, menjelaskan bahwa camilan manis adalah faktor utama yang sering kali menyumbat progres seseorang dalam membakar lemak tubuh.

"Faktanya, semakin banyak camilan manis, semakin lambat penurunan berat badan," kata Kim Pearson, Ahli Nutrisi.

Pearson menekankan pentingnya kesadaran diri. Sering kali, seseorang tidak menyadari betapa banyaknya gula yang mereka konsumsi dalam sehari karena tidak mencatatnya secara objektif.

"Sangat penting untuk jujur kepada diri sendiri tentang seberapa banyak camilan yang dimakan," ujar Kim Pearson, Ahli Nutrisi.

Menurut Pearson, gula adalah sumber energi yang sangat mudah diakses oleh tubuh. Ketika seseorang mengonsumsi makanan manis, glukosa akan membanjiri aliran darah. Selama glukosa ini tersedia, tubuh secara alami akan memilih untuk membakarnya terlebih dahulu daripada mengambil energi dari cadangan lemak yang tersimpan. Inilah alasan mengapa mengurangi gula secara otomatis membantu tubuh beralih ke mode pembakaran lemak.

Strategi Diet Berkelanjutan

Kunci dari keberhasilan jangka panjang adalah rasa nyaman. Pearson berpendapat bahwa diet yang membuat seseorang merasa tersiksa hanya akan berakhir pada kegagalan. Strategi terbaik adalah membangun piring makan yang kaya akan protein, sayuran berserat tinggi, dan lemak sehat untuk menjaga rasa kenyang lebih lama.

"Penting untuk tidak merasa dibatasi saat menurunkan berat badan," kata Kim Pearson, Ahli Nutrisi.

Pearson menyarankan agar setiap keputusan untuk makan makanan manis dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan karena dorongan impulsif saat lapar melanda. Mengonsumsi buah beri dengan yoghurt bisa menjadi alternatif cerdas untuk memuaskan keinginan lidah akan rasa manis dengan cara yang lebih ringan.

Warisan Keluarga dan Kedewasaan Diri

Bagi Hammond, motivasi terbesarnya juga berasal dari memori tentang ibunya yang mengidap diabetes tipe 2. Melihat risiko kesehatan yang sama mengintai dirinya, Hammond merasa sudah waktunya untuk berhenti bersikap impulsif layaknya anak kecil di depan toko permen.

"Saya berpikir, ÔÇÿSaya harus bersikap dewasa tentang ini.ÔÇÖ Permen harus berhenti, begitu juga makanan berlemak," kata Hammond, Presenter.

Di tengah tren penggunaan prosedur medis atau bantuan kimia untuk melangsingkan tubuh, Hammond menegaskan posisinya. Meski menghargai pilihan orang lain yang mungkin membutuhkan intervensi medis, ia secara sadar memilih jalur perubahan gaya hidup alami yang bisa ia jalani selamanya. Kisah Alison Hammond menjadi bukti bahwa perubahan kecil yang konsisten dan sikap realistis jauh lebih berharga daripada aturan ketat yang bersifat sementara.

Artikel terkait

Rekomendasi