Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjalin kerja sama dengan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) untuk meningkatkan kualitas talenta muda melalui program bertajuk From Grassroots Development to Clairefontaine pada Rabu (15/4/2026). Dilansir dari Bola, inisiatif ini mencakup pengiriman pemain timnas wanita U-17 untuk berlatih di pusat pelatihan Clairefontaine.
Sinergi ini tidak hanya menyasar para pemain, tetapi juga melibatkan penguatan manajemen olahraga dan staf pelatih melalui kolaborasi antara Garuda Academy dengan otoritas Prancis. Anggota Exco PSSI, Vivin Cahyani Sungkono, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara berkelanjutan bagi ekosistem sepak bola putri.
"Program ini merupakan program berkelanjutan. Tahap pertama adalah coaching clinic yang diadakan pada 11 dan 12 April lalu di Bandung. Kemudian ada workshop management yang digagas Garuda Academy bersama pemerintah Prancis, serta pengiriman pemain muda ke Clairefontaine," ujar Vivin Cahyani Sungkono, Anggota Exco PSSI.
Vivin merinci bahwa terdapat puluhan delegasi yang telah disiapkan untuk berangkat ke Prancis guna mendapatkan pengalaman latihan intensif secara profesional. Seleksi partisipan dilakukan melalui pemantauan ketat dari turnamen lokal dan komposisi skuad nasional junior.
"Kami mengirim 28 delegasi ke Clairefontaine, terdiri dari 20 pemain dan delapan ofisial," sambung Vivin Cahyani Sungkono.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa langkah strategis ini merupakan bagian dari kampanye penyetaraan gender dan upaya memberikan perlindungan maksimal bagi para atlet perempuan. PSSI berkomitmen membangun struktur sepak bola yang seimbang antara sektor pria dan wanita.
"Kami mengupayakan penyetaraan gender bagi perempuan di sepak bola, mulai dari staf kepelatihan hingga aspek lainnya, untuk melindungi atlet kami. Selain itu, kami juga ingin mengembangkan sepak bola, tidak hanya di sektor pria tetapi juga wanita ke depan," tegas Erick Thohir, Ketua Umum PSSI.
Alasan pemilihan FFF sebagai mitra didasarkan pada rekam jejak panjang Prancis dalam sejarah sepak bola dunia. Erick menilai keunggulan kultur olahraga di negara tersebut akan memberikan dampak positif bagi transformasi sepak bola nasional di tanah air.
"Prancis sangat penting dalam sejarah sepak bola. Mereka memiliki sejarah panjang dan pernah menjadi juara dunia. Kerja sama ini sangat baik untuk kita," ujar Erick Thohir.
Pihak FFF menyambut positif kolaborasi ini dan melihat adanya tantangan yang serupa antara kedua federasi dalam mempopulerkan sepak bola wanita. Perwakilan FFF, Ludovic Debru, mencermati pertumbuhan minat perempuan terhadap sepak bola sejak penyelenggaraan Piala Dunia 2019.
"Kami adalah federasi saudara, sehingga memiliki tantangan yang sama. Ada hal-hal yang bisa kami ubah dan ada juga yang tidak. Namun, melibatkan lebih banyak perempuan dalam sepak bola merupakan hal yang relatif baru sejak Piala Dunia 2019 di Prancis, ketika semakin banyak perempuan mulai tertarik menonton pertandingan, baik sepak bola pria maupun wanita," jelas Ludovic Debru, Perwakilan FFF.