Ka'bah yang berdiri kokoh di pusat kota Makkah selalu dibalut dengan kain hitam megah yang disebut kiswah. Kain ini merupakan simbol penghormatan dan kecintaan umat Islam terhadap rumah Allah SWT.
Dilansir dari Detikcom, pembuatan kiswah bukan sekadar proses produksi tekstil biasa, melainkan rangkaian pekerjaan panjang yang menuntut ketelitian tinggi dan standar material terbaik dunia.
Setiap helai benangnya diproses dengan sangat detail, termasuk penggunaan sulaman benang emas asli yang memberikan kesan sakral sekaligus mewah pada bangunan suci tersebut.
Tradisi menyelimuti Ka'bah dengan kain telah berlangsung sejak lama. Merujuk pada buku The Power Of Kabah karya Zainurrofieq Lc, Nabi Ismail AS disebut sebagai orang pertama yang memberikan kiswah.
Namun, terdapat pendapat lain yang menyebutkan bahwa penguasa Yaman bernama As'ad Al-Humairi merupakan sosok yang mengawali praktik ini sebelum datangnya Islam.
Setelah masa Nabi Muhammad SAW, tradisi ini tetap dipertahankan dan disempurnakan. Pada era kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, kualitas kain mulai ditingkatkan dengan penggunaan material sutra dan hiasan kaligrafi.
Dahulu, pembuatan kiswah sempat dipusatkan di Mesir setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Namun, sejak tahun 1924 M, proses produksi mulai dikerjakan sepenuhnya di Makkah melalui pabrik khusus yang didirikan pemerintah setempat.
Material Sutra dan Pewarnaan Hitam Pekat
Proses pembuatan dimulai dari pemilihan bahan baku sutra alami terbaik. Berdasarkan catatan dalam buku The Lost Story of Kabah karya Irfan L. Sarhindi, sutra mentah diolah menjadi benang halus yang ditenun dengan tekstur kuat.
Kain hasil tenunan tersebut kemudian melewati tahap pewarnaan berulang kali. Warna hitam dipilih untuk melambangkan keagungan, keteguhan, serta nilai kesederhanaan dalam Islam.
Warna hitam pekat ini dirancang khusus agar mampu bertahan menghadapi cuaca ekstrem dan terik matahari di semenanjung Arab tanpa memudar.
Seni Kaligrafi dan Sulaman Emas
Keindahan kiswah terletak pada detail kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an, kalimat tauhid, dan asmaul husna. Sebelum disulam, pola kaligrafi dicetak terlebih dahulu menggunakan model tulisan Arab tsulutsi.
Pada sepertiga bagian atas, terdapat sabuk kiswah yang berisi ayat-ayat suci berkaitan dengan Ka'bah. Contohnya, pada sisi Multazam terukir QS Al-Baqarah ayat 125-128, sementara sisi Hijr Ismail memuat QS Al Baqarah ayat 197-199.
Bagian paling rumit adalah proses penyulaman manual oleh tangan-tangan terampil. Para seniman menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyulam kaligrafi menggunakan campuran benang emas dan perak asli.
Secara teknis, pembuatan satu set kiswah membutuhkan sekitar 999 gulung benang sutra dengan total berat mencapai 670 kg. Selain itu, diperlukan tambahan 15 kg benang emas untuk bagian bordir kaligrafi.
Pengerjaan seluruh bagian ini melibatkan ratusan pekerja dan seniman kaligrafi yang bekerja selama kurang lebih 8,5 bulan untuk menghasilkan 47 potongan kain yang presisi.
Perakitan Menjadi Penutup Utuh
Setelah seluruh panel selesai disulam, potongan-potongan tersebut disatukan dengan cara dijahit hingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Kiswah yang dihasilkan memiliki spesifikasi tinggi sekitar 14 meter.
Panjang kain ini dirancang sedemikian rupa agar dapat mengelilingi seluruh sisi bangunan Ka'bah secara sempurna. Biasanya, pihak pengelola juga memproduksi satu kiswah cadangan di samping kain utama yang akan dipasang.