Apa yang Sebenarnya Berubah dari Praktik Perjodohan Hari Ini?

Apa yang Sebenarnya Berubah dari Praktik Perjodohan Hari Ini?
Foto: Ilustrasi Apa yang Sebenarnya Berubah dari Praktik Perjodohan Hari Ini?.

Apa yang sebenarnya berubah dari praktik perjodohan hari ini? Apakah itu masih identik dengan paksaan atau sedang berevolusi menjadi ruang dialog?

Dari kumpulan artikel yang terkumpul dari Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Latipah Rahman, terlihat jelas bahwa perjodohan tidak lagi berdiri sebagai praktik hitam-putih. Perjodohan tidak lagi sepenuhnya tradisional, tetapi juga belum sepenuhnya lepas dari nilai lama.

Nah, yang menarik justru banyak konten memperlihatkan bahwa perjodohan bukan lagi instrumen kontrol, melainkan pintu perkenalan. Orang tua berperan sebagai penghubung, bukan penentu akhir.

Perjodohan zaman sekarang bukan sekadar praktik mencari pasangan tetapi cermin perubahan sosial: bagaimana keluarga beradaptasi, bagaimana individu memperjuangkan suara, dan bagaimana cinta didefinisikan ulang.

Berikut ini kami coba rangkum beberapa konten yang mengikuti Topik Pilihan yang diusulkan oleh Kompasianer Latipah Rahman.

1. "Kapan Kawin" Khas Lebaran dan Upaya Perjodohan

Setiap momentum Lebaran ada satu hal yang nyaris tak terhindarkan: pertanyaan "Kapan?". Mulai dari kapan lulus, kapan kerja, hingga kapan kawin.

Kompasianer Nurul Rahmawati mengisahkan bagaimana dulu juga menjadi "korban" berondongan pertanyaan tersebut. Apalagi sebagai perempuan urban usia 20an yang sedang fokus membangun karier, pertanyaan tentang pernikahan terasa menjengkelkan dan terlalu mencampuri urusan pribadi.

Namun seiring waktu, sudut pandangnya berubah, kekhawatiran terhadap pergaulan anak muda di kota besar, rasa ingin memastikan pasangan yang "aman" dan dikenal latar belakangnya.

"Kocak juga kalau diingat-ingat, ternyata bakat mak comblang mengalir dalam DNA-ku, yha. Sayangnya, aku ogah mengkapitalisasi menjadi bisnis," tulis Kompasianer Nurul Rahmawati. ()

2. Sudah Jarang tapi Ternyata Perjodohan Masih Ada

Perjodohan, tulis Kompasianer Enny Ratnawati A., tidak selalu identik dengan hal buruk atau ketidakmampuan mencari pasangan belaka. Perjodohan kadang terjadi karena memang diinginkan.

Hal tersebut karena dialami langsung oleh seorang teman Kompasianer Enny Ratnawati A. yang menikah melalui rekomendasi setelah berdoa dan meminta petunjuk.

Meski pernikahannya telah berjalan 14 tahun dan dikaruniai dua anak, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Perbedaan suku, kebiasaan, hingga masalah ekonomi berat sempat menjadi ujian.

Bukan hanya itu, Kompasianer Enny Ratnawati A. juga membagikan pengalaman menjodohkan dua orang yang akhirnya batal karena tidak merasa cocok saat bertemu langsung. ()

3. Tak Kunjung Menikah, Perjodohan Bukan Solusi

Kompasianer Rahmah Chemist berbagi pengalaman yang kerap dibanding-bandingkan dengan teman sebaya yang menikah lewat perjodohan dan dianggap "berhasil" mendapatkan pasangan mapan.

Jadi, tulisnya, ketika memasuki usia 27 tahun dan belum menikah, ia kerap menerima dorongan agar segera dijodohkan.

Namun, Kompasianer Rahmah Chemist menegaskan bahwa pernikahan bukanlah kompetisi. Ia pernah hampir menikah tetapi gagal, dan pengalaman itu menyisakan trauma sehingga membuatnya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan besar.

"Jika kemudian keduanya tidak sejalan, maka sudah dipastikan kualitas hubungan dan perjalanan pernikahan akan berjalan tanpa arah," tulisnya.

Nah, kalau kompasianer mau membaca beragam konten menarik lainnya, silakan kunjungi Topik Pilihan: Apakah Masih Relevan Dijodoh-jodohkan agar Punya Pasangan?

Namun, jika ada yang tertarik mengirimkan ide-ide menarik lainnya untuk Topik Pilihan, silakan isi Form Topik Pilihan ini.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa"

Artikel terkait

Rekomendasi