Perjuangan Perempuan Pengidap PCOS Menata Tubuh dan Tekanan Sosial

Perjuangan Perempuan Pengidap PCOS Menata Tubuh dan Tekanan Sosial
Foto: Ilustrasi Perjuangan Perempuan Pengidap PCOS Menata Tubuh dan Tekanan Sosial.

Di tengah anggapan bahwa tubuh perempuan berjalan dalam ritme yang seragam, ada mereka yang harus berdamai dengan kenyataan berbeda. Bagi pengidap ketidakseimbangan hormon Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), tubuh bukan sekadar ruang yang ditinggali, melainkan medan perjuangan yang terus berubah mulai dari siklus haid yang tak menentu, perubahan fisik, hingga tekanan sosial yang kerap tak terlihat. Setiap hari, mereka harus memahami tubuh sendiri, seperti membaca sinyal menstruasi yang tak selalu jelas, mengelola harapan tetap bisa hamil alami, dan menepis stigma yang masih melekat bahwa pengidap PCOS sulit memiliki keturunan.

Di balik senyapnya keluhan, ada ketahanan yang dibangun perlahan tentang bagaimana bertahan, menerima, dan tetap melangkah dalam tubuh yang tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Salah satu gejala dari PCOS adalah siklus menstruasi yang berantakan. Sebagian perempuan PCOS ada yang tidak haid berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, namun ada pula yang justru haid lebih dari sekali dalam satu bulan. Kondisi ini disebabkan karena hormon laki-laki yang disebut androgen lebih banyak pada pengidap PCOS, sehingga menghambat proses pelepasan sel telur.

Menstruasi yang Menjadi Barang Mewah

Pengalaman ini dirasakan mendalam oleh Juwita (29), warga Jakarta Timur. Ia mengaku siklus haidnya mulai tidak teratur sejak duduk di bangku kuliah, namun kondisinya semakin tak karuan ketika ia resmi menikah pada tahun 2024 karena tidak kunjung datang bulan hampir satu tahun.

"Cuma pas habis nikah itu enggak haid-haid hampir satu tahun, ditestpack selalu negatif akhirnya mutusin pergi ke dokter mau cari tahu penyebabnya apa," ujar Juwita, Warga Jakarta Timur.

Setelah didiagnosis PCOS, Juwita harus menjalani pengobatan perbaikan siklus selama tiga bulan. Setiap bulan, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 400.000 untuk berkonsultasi dan mendapatkan obat hormon agar bisa menstruasi sesuai jadwal.

"Jadi pengidap PCOS tuh enggak gampang, penyakitnya enggak kelihatan tapi mau haid aja harus bayar mahal," jelas Juwita, Warga Jakarta Timur.

Transformasi Fisik dan Gejala yang Nyata

Selain masalah siklus, berat badan menjadi momok tersendiri. Setelah menikah, berat badan Juwita melonjak hingga 120 kilogram, yang sempat menggerus rasa percaya dirinya. Hal serupa dialami oleh Dini (30), yang merasa hormon tidak stabil membuat berat badannya naik drastis dengan sangat cepat.

"Hormon enggak stabil, berat badan cepat banget naiknya, haid benar-benar berantakan banget," ungkap Dini, Pengidap PCOS.

Dini bahkan sempat merasa tertekan karena dalam waktu dua tahun hanya mengalami menstruasi sebanyak satu hingga dua kali. Kekhawatiran akan kesuburan membayanginya, namun ia dan suaminya mulai belajar untuk berserah.

"Tapi, sekarang aku dan suami di tahap ya, udah ketika Allah kasih kita rezeki buah hati pasti akan ada kok, tapi kita enggak lepas pasrah, kita tetap usaha dan pastinya berdoa," sambung Dini, Pengidap PCOS.

Gejala PCOS tidak berhenti pada berat badan dan haid. Rizki Yusnimar (29) menghadapi paket lengkap berupa jerawat dan kerontokan rambut yang parah.

"Haid tidak teratur, jerawatan, rambut rontok," ucap Rizki, Pengidap PCOS.

Meski mengalami banyak perubahan fisik, Rizki memilih untuk fokus pada usaha penyembuhan melalui olahraga rutin dan pola hidup sehat. Penantiannya selama empat tahun berbuah manis dengan hadirnya seorang putri yang kini berusia 1,5 tahun.

Dampak Psikososial dan Stigma

Psikolog Anak dan Keluarga Astrid WEN menjelaskan bahwa gejala PCOS merupakan kondisi biopsikososial di mana faktor hormonal, identitas diri, dan tekanan sosial saling berinteraksi. Penurunan kepercayaan diri sering terjadi akibat perubahan citra tubuh.

"Perempuan dengan PCOS sering mengalami kecemasan, depresi, body image issues atau ketidakpuasan terhadap tubuh, penurunan kepercayaan diri," ungkap Astrid, Psikolog Anak dan Keluarga.

Di Indonesia, stigma bahwa kesempurnaan perempuan diukur dari kemampuan menjadi ibu menambah beban emosional. Label sulit punya anak dapat memperkuat perasaan gagal bagi para pejuang PCOS.

"Seseorang yang sebelumnya melihat dirinya cantik dengan cara tertentu bisa mengalami konflik internal ketika tubuhnya berubah. Ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan membuat individu lebih sensitif terhadap penilaian sosial," sambung Astrid, Psikolog Anak dan Keluarga.

Stigma tersebut justru seringkali menghambat proses pemulihan mental para pengidap yang sedang berjuang.

"Alih-alih membantu, stigma justru dapat memperburuk kondisi mental dan membuat individu merasa tidak dipahami," kata Astrid, Psikolog Anak dan Keluarga.

Astrid menekankan pentingnya dukungan keluarga untuk memberikan rasa aman dan validasi emosional.

"Dukungan keluarga atau pasangan sangat penting karena dapat memberikan rasa aman, validasi, dan mengurangi perasaan kesepian dalam menghadapi kondisi ini," kata Astrid, Psikolog Anak dan Keluarga.

Kunci Pengendalian Lewat Gaya Hidup

Secara medis, PCOS memang belum bisa disembuhkan secara total, namun gejalanya bisa dikontrol dengan sangat baik. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Gita Pratama menegaskan bahwa perubahan gaya hidup adalah fondasi utama terapi.

"Perubahan gaya hidup adalah terapi paling penting yang harus dilakukan sebelum atau bersamaan dengan terapi obat-obatan," jelas Gita, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.

Bagi pasien obesitas, penurunan berat badan sebesar lima hingga sepuluh persen dalam enam bulan sudah cukup untuk mengembalikan ovulasi. Selain diet rendah gula dan tepung, pengobatan medis tetap bisa dilakukan di bawah pengawasan dokter.

"Induksi ovulasi untuk program hamil, obat seperti Letrozole dan Klomifen sitrat untuk merangsang sel telur matang," tutur Gita, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.

Artikel terkait

Rekomendasi