Studi Ungkap Perempuan Lebih Rentan Terhadap Risiko Demensia

Studi Ungkap Perempuan Lebih Rentan Terhadap Risiko Demensia
Foto: Ilustrasi Studi Ungkap Perempuan Lebih Rentan Terhadap Risiko Demensia.

Perempuan terbukti memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap beberapa faktor risiko umum yang memicu penurunan kognitif dan penyakit Alzheimer. Fakta ini melampaui statistik bahwa kelompok wanita memang mencatat tingkat diagnosis demensia yang lebih tinggi.

Sebuah studi terbaru dari University of California San Diego School of Medicine menganalisis data lebih dari 17.000 orang dewasa paruh baya dan lansia. Riset tersebut menemukan bahwa faktor risiko demensia yang dapat diubah memiliki dampak yang lebih besar pada fungsi kognitif perempuan dibandingkan pria.

Seperti dilansir dari Media Indonesia, temuan penting ini telah diterbitkan pada 19 Mei 2026 di jurnal Biology of Sex Differences.

"Melihat lebih jauh dari sekadar faktor risiko mana yang paling umum, kami menemukan beberapa faktor memiliki dampak yang jauh lebih besar pada kognisi perempuan," kata Megan Fitzhugh, PhD, asisten profesor ilmu saraf di UC San Diego School of Medicine sekaligus penulis pertama studi tersebut.

"Ini menunjukkan upaya pencegahan mungkin lebih efektif jika disesuaikan bukan hanya pada prevalensi faktor risiko, tetapi pada seberapa kuat masing-masing faktor memengaruhi kognisi pada perempuan dibandingkan pria."

Para peneliti memeriksa 13 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi melalui perawatan medis atau perubahan gaya hidup. Berdasarkan analisis data, kelompok perempuan lebih banyak melaporkan beberapa kondisi spesifik.

Kondisi tersebut meliputi depresi yang mencapai 17% pada perempuan berbanding 9% pada pria. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik tercatat sebesar 48% berbanding 42%, serta masalah tidur yang mencapai 45% berbanding 40%.

Sebaliknya, pria menunjukkan angka lebih tinggi untuk gangguan pendengaran (64% berbanding 50%), diabetes (24% berbanding 21%), dan konsumsi alkohol berat (22% berbanding 12%). Sementara itu, tekanan darah tinggi tersebar luas pada kedua kelompok dan memengaruhi sekitar enam dari 10 partisipan.

Namun, perbedaan mengejutkan terlihat pada bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi otak. Kondisi kesehatan jantung dan metabolik, termasuk hipertensi dan indeks massa tubuh yang tinggi, menunjukkan hubungan negatif yang lebih curam dengan kemampuan kognitif perempuan.

Bahkan, gangguan pendengaran dan diabetes yang sebenarnya lebih umum terjadi pada pria justru terikat pada skor kognitif yang lebih rendah ketika diderita oleh perempuan.

"Perbedaan-perbedaan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan jenis kelamin sebagai variabel kunci dalam penelitian demensia," ujar Judy Pa, PhD, profesor ilmu saraf di UC San Diego School of Medicine.

"Perbedaan jenis kelamin sangat diabaikan di antara banyak penyebab utama kematian seperti Alzheimer, penyakit jantung, dan kanker."

Pencegahan Medis yang Lebih Personal

Temuan ini mendukung implementasi pendekatan medis presisi yang disesuaikan dengan karakteristik individu, termasuk jenis kelamin pasien. Bagi perempuan, intervensi yang ditargetkan dapat berfokus pada pengelolaan depresi, peningkatan aktivitas fisik, dan penanganan kesehatan kardiovaskular, terutama hipertensi yang tidak diobati.

Meskipun mekanisme pastinya, seperti pengaruh hormonal atau perbedaan genetik, masih memerlukan penelitian lebih lanjut, pemahaman ini menjadi langkah krusial dalam menekan angka demensia.

"Pada akhirnya, pemahaman yang lebih bernuansa tentang perbedaan ini dapat membantu kita merancang intervensi yang lebih cerdas dan lebih bertarget," pungkas Fitzhugh.

"Itu adalah langkah esensial untuk mengurangi beban demensia bagi semua orang, tetapi khususnya bagi perempuan, yang terdampak secara tidak proporsional."

Artikel terkait

Rekomendasi