Persaingan sengit di kasta tertinggi sepak bola Inggris meninggalkan kesan mendalam bagi Pep Guardiola. Mantan manajer Manchester City tersebut secara terbuka menyebut Liverpool era Jurgen Klopp sebagai lawan paling menakutkan yang pernah ia hadapi.
Pernyataan emosional ini mencuat seiring berakhirnya masa bakti sang arsitek asal Spanyol di Premier League, seperti dikutip dari Suara. Guardiola resmi menyudahi karier legendarisnya di Manchester City dengan koleksi 20 trofi setelah menelan kekalahan 1-2 dari Aston Villa pada laga pamungkas.
Rivalitas luar biasa ini tercipta melalui 30 pertempuran sengit di berbagai kompetisi. Klopp unggul tipis dengan mengemas 12 kemenangan, sementara Guardiola mencatatkan 11 keunggulan, dan 7 pertandingan lainnya berakhir imbang.
Persaingan taktis antara dua pelatih genius ini sebenarnya sudah menyala sejak mereka berkarier di Bundesliga Jerman. Kala itu, Guardiola menakhodai Bayern Munich sedangkan Klopp menjadi konseptor utama permainan Borussia Dortmund.
Ketegangan tersebut kemudian bermigrasi ke tanah Inggris dan mencapai puncaknya pada musim kompetisi 2018-2019. Liverpool secara luar biasa mengumpulkan 97 poin, namun harus merelakan gelar juara ke tangan City dengan selisih satu angka saja.
Meski armada Klopp sempat menguasai takhta pada musim 2019-2020, Guardiola langsung membalasnya dengan menyapu bersih empat gelar liga berikutnya. Hal itu termasuk musim 2022-2023, saat City mengoleksi 93 poin dan kembali menundukkan Liverpool lewat drama keunggulan satu angka.
Walaupun lemari piala Manchester City jauh lebih penuh, Guardiola tidak pernah menganggap remeh kekuatan sang rival. Bagi pria berusia 55 tahun tersebut, setiap bentrokan melawan The Reds selalu menguras energi dan konsentrasi.
Dalam sebuah sesi wawancara khusus bersama musisi legendaris Oasis, Noel Gallagher, di situs resmi klub, Guardiola mengutarakan isi hatinya.
"Demi kualitas lawan yang kami hadapi, kami telah menghadapi banyak lawan tetapi Liverpool adalah mimpi buruk. Setiap saat, itu adalah mimpi buruk," kata Guardiola dikutip dari ESPN, Jumat (29/5/2026).
Kendati demikian, hubungan personal di antara kedua juru taktik ini tetap terjaga dengan sangat profesional di luar lapangan. Guardiola bahkan menegaskan komitmennya untuk tetap menjalin komunikasi setelah keduanya sama-sama menanggalkan jabatan manajer.
"Hubungan itu sangat baik. Selalu sangat baik, bahkan saat masih di Jerman. Kami saling berhadapan berkali-kali saat dia berada di Dortmund."
"Kami belum pernah makan malam bersama sekali pun, tetapi sekarang hal itu akan terjadi."
Militansi Pemain dan Faktor Anfield
Guardiola menyadari bahwa kekuatan utama Liverpool bukan sekadar strategi di atas kertas, melainkan militansi pemain saat berlaga. Atmosfer stadion juga menjadi faktor pembeda yang sering kali meruntuhkan mentalitas tim tamu.
"Mereka sangat, sangat bagus pertama-tama. Tetapi pada saat mereka menghadapi kami, mereka tahu bahwa itu adalah pertandingan terbaik dari mereka dan yang terbaik di Anfield."
"Anfield memiliki sejarah yang tidak dimiliki stadion mana pun. Jarang ada tim yang bisa menang di Anfield. Tempat yang sangat sulit bagi saya karena cara mereka bermain, bukan hanya karena stadionnya."
Rivalitas antara Pep Guardiola dan J├╝rgen Klopp diakui global sebagai salah satu persaingan manajerial paling berkualitas dalam sejarah sepak bola modern. Keduanya berhasil merevolusi standar taktik sepak bola Inggris melalui pendekatan Gegenpressing dan Positional Play.
Pertemuan terakhir mereka di panggung domestik menandai berakhirnya sebuah era keemasan di Premier League. Kini, setelah kedua manajer legendaris ini hengkang, peta persaingan sepak bola Inggris diprediksi akan memasuki babak baru yang berbeda.