Sebuah analisis terbaru bertajuk Sorting for Circularity: Project Rewear mengungkapkan bahwa mayoritas pakaian yang dibuang di Uni Eropa sebenarnya masih dalam kondisi layak pakai. Fenomena ini dipicu oleh buruknya sistem pengelolaan, rendahnya harga jual kembali, serta banjir produk fashion murah yang masif di pasar global.
Dilansir dari Lestari, laporan tersebut memeriksa lebih dari 8.000 pakaian di empat negara Uni Eropa dan menemukan fakta bahwa 37 persen pakaian tidak mengalami kerusakan. Selain itu, sekitar 41 persen pakaian lainnya tercatat hanya memiliki cacat kecil yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.
Data tersebut menunjukkan kesenjangan besar karena hanya 0,3 persen dari 92 juta ton tekstil yang dibuang setiap tahunnya berhasil diputar kembali untuk digunakan. Padahal, sebagian besar pakaian tersebut dapat bernilai kembali melalui proses pencucian atau perbaikan sederhana.
Laporan tersebut menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri penggunaan kembali, di mana hanya 5 hingga 10 persen pakaian yang mampu terjual dengan harga kompetitif. Tekanan ini muncul akibat dominasi model bisnis ultra-fast fashion yang menawarkan harga baju baru dengan sangat murah bagi konsumen.
"Harapan konsumen terbentuk oleh harga baju baru yang dibuat sangat murah, sementara biaya operasional untuk pengiriman, pengecekan keaslian, dan layanan lainnya tetap tinggi," tulis laporan tersebut.
Kesenjangan ekonomi juga menjadi faktor penghambat karena sektor penggunaan kembali kekurangan sumber daya dan teknologi untuk pemulihan serat kain. Organisasi nirlaba sering kali tidak memiliki kemampuan untuk memprioritaskan pembersihan dan perbaikan pakaian dalam skala besar.
Analisis ini juga menekankan bahwa penambahan infrastruktur saja tidak akan cukup tanpa adanya pembatasan pada volume produksi pakaian baru. Diperlukan perubahan fundamental pada tingkat ekonomi untuk menjadikan pakaian bekas sebagai pilihan utama masyarakat.
Ekosistem ini juga berdampak pada negara berkembang seperti Ghana, di mana Pasar Kantamanto di Accra menerima sekitar 15 juta pakaian setiap hari. Meskipun terdapat jaringan penjahit yang aktif, volume sampah yang masuk tetap membebani masyarakat lokal secara ekonomi dan lingkungan.
Sementara itu di Pakistan, aktivitas impor pakaian bekas mencapai lebih dari 800.000 ton per tahun yang menyerap puluhan ribu tenaga kerja di Kawasan Pemrosesan Ekspor Karachi. Sebagian besar hasil olahan tersebut kemudian dikirimkan kembali menuju wilayah Afrika Timur.