SOSIOLOG dari Universitas Nasional Nia Elvina menilai kebijakan pembangunan ring tinju di kawasan Flyover Pasar Rebo masih belum menyentuh akar persoalan tawuran yang selama ini terjadi di wilayah tersebut.
Menurutnya, penyelesaian konflik sosial tidak cukup hanya melalui penyediaan sarana fisik, tetapi harus dibarengi penguatan nilai dalam keluarga dan pendidikan.
ÔÇ£Saya kira kebijakan demikian kurang tepat, karena akar masalah terjadinya tawuran tidak teratasi. Permasalahan tawuran berakar dari ranah nilai atau didikan. Didikan dari keluarga, dan lembaga pendidikan,ÔÇØ kata Nia kepada Media Indonesia Senin (19/5).
Ia menjelaskan, pembentukan karakter anak dan remaja sangat dipengaruhi kondisi sosial ekonomi keluarga. Karena itu, upaya menekan tawuran juga harus dimulai dari penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar Pasar Rebo.
ÔÇ£Supaya didikan dari keluarga dan lembaga pendidikan bisa optimal, jika dasar ekonomi keluarga sudah kuat. Artinya orang tua di lingkungan Pasar Rebo sudah mendapatkan pekerjaan yang layak,ÔÇØ ujarnya.
Nia menilai, kondisi ekonomi yang belum stabil membuat banyak orang tua lebih fokus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dibanding pengawasan terhadap anak-anak mereka.
ÔÇ£Sehingga mereka bisa fokus mendidik putera-puteri mereka. Jika konsentrasi orang tua atau masyarakat masih pada ranah bagaimana memenuhi kebutuhan untuk hidup, maka saya kira urusan tawuran akan sulit untuk diminimalisir atau dieliminir dalam masyarakat,ÔÇØ pungkasnya. (Far/P-3)