Insiden kekerasan mewarnai pertandingan Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC melawan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (19/4/2026). Seorang pemain dilaporkan melakukan aksi tendangan fisik terhadap pemain lawan tepat saat organisasi induk sepak bola nasional merayakan hari jadinya.
Kericuhan yang terekam dalam video viral tersebut melibatkan pemain Bhayangkara FC, Fadly Alberto, yang melayangkan tendangan kungfu kepada pemain Dewa United, Mohamad Ridwan. Peristiwa ini terjadi setelah pertandingan berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Dewa United, sebagaimana dilansir dari Detik Sport.
Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali, memberikan tanggapan terkait semangat persatuan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sepak bola. Ia mengingatkan kembali sejarah panjang pembentukan federasi yang didasari oleh semangat kebersamaan antar klub daerah.
"Perjalanan perjuangan klub pendiri luar biasa, dan dengan hari ini pssi masih ada. Awal bagaimana pssi berdiri tentu tidak mudah. Pada saat itu 96 tahun lalu, bagaimana mempersatukan klub-klub daerah, makanya dulu itu nama klub selalu ada kata persatuan," ungkap Zainudin Amali, Wakil Ketua Umum PSSI.
Zainudin menekankan bahwa rivalitas di lapangan seharusnya berakhir setelah peluit panjang dibunyikan. Nilai-nilai kekeluargaan sebagai warga negara Indonesia harus tetap dikedepankan oleh setiap insan sepak bola nasional.
"Jadi maknanya adalah kita sebagai masyarakat sepak bola ya harus bersatu. Bertanding hanya 2x45 menit. Setelah itu ya kembali guyup lagi, bersatu lagi sebagai keluarga sepak bola, sebagai warga Indonesia," sambung Zainudin Amali.
Sekjen PSSI, Yunus Nusi, menyatakan bahwa Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah mengetahui insiden di Stadion Citarum tersebut. Pihak federasi secara resmi menyampaikan kecaman terhadap tindakan tidak sportif yang dilakukan oleh pemain muda tersebut.
"PSSI sudah menerima laporan tentang kejadian antara pertandingan Dewa United dan Bhayangkara di Elite Pro Academy. Dan Ketua Umum sangat mengutuk keras atas kejadian ini, pemain yang melakukan hal itu," kata Yunus Nusi, Sekjen PSSI.
Sebagai tindak lanjut, laporan mengenai kekerasan tersebut telah diteruskan kepada otoritas disiplin organisasi. PSSI mendesak agar penanganan kasus ini dilakukan secara cepat melalui mekanisme persidangan internal.
"PSSI segera menyampaikan hal ini kepada Komite Disiplin untuk diambil tindakan seberat-beratnya. Dan diminta ini menjadi prioritas sidang Komdis untuk segera dilaksanakan dan diputuskan," sambung Yunus Nusi.