Bunyi Peluit dan Nostalgia di Balik Bertahannya Pedagang Mainan

Bunyi Peluit dan Nostalgia di Balik Bertahannya Pedagang Mainan
Foto: Ilustrasi Bunyi Peluit dan Nostalgia di Balik Bertahannya Pedagang Mainan.

Suara peluit khas pedagang mainan keliling masih terdengar di sejumlah sudut kota, dari kawasan Pasar Senen hingga Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dan kepadatan pejalan kaki, bunyi nyaring itu seperti menyelinap di antara rutinitas orang dewasa yang bergegas bekerja atau berbelanja. Bagi sebagian orang, peluit itu bukan sekadar penanda kehadiran pedagang mainan. Ia menjadi pemantik ingatan masa kecil yang muncul tiba-tiba, bahkan ketika seseorang sudah lama tidak membeli mainan di jalanan.

Gema Emosi di Balik Suara Nyaring

Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Pokja Keswa Kemenkes RI, Ratih Ibrahim, mengatakan suara peluit pedagang mainan keliling dapat menjadi pemicu emosi mendadak karena berkaitan dengan cara otak menyimpan memori masa kecil. Ia menjelaskan, pengalaman masa kecil biasanya terekam bersama emosi yang kuat. Karena itu, stimulus sensorik seperti suara, bau, atau warna memiliki jalur cepat menuju bagian otak yang mengatur emosi, termasuk amygdala dan hippocampus.

"Suara peluit pedagang mainan bisa menjadi salah satu trigger yang langsung mengaktifkan ingatan lama. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pengalaman masa kecil ini biasanya berkaitan dengan emosi yang kuat, serta biasanya stimulus sensorik (suara, bau, warna) memiliki jalur cepat ke bagian otak yang mengatur emosi," kata Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis Senior.

Ratih menyebut reaksi emosional itu dapat muncul bahkan sebelum seseorang mengingat peristiwa secara detail. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional memory, yakni ingatan emosional yang masih hidup meski detail peristiwanya memudar. Stimulus yang familier, terutama jika suaranya sama persis dengan masa kecil, bisa membuat emosi muncul lebih dulu sebelum kesadaran seseorang menyusun ingatan secara runtut. Fenomena tersebut juga termasuk bentuk nostalgia sensorik, yakni kondisi ketika memori masa lalu dipanggil kembali melalui rangsangan indra tertentu.

Ratih mengatakan nostalgia sensorik bisa dipicu bukan hanya oleh suara, tetapi juga aroma, warna, hingga visual benda tertentu. Mekanismenya serupa, satu stimulus kecil dapat membuka rangkaian pengalaman masa lalu yang tersimpan. Ia menegaskan nostalgia bukan sekadar ingatan, tetapi juga perasaan hangat dan kerinduan pada masa tertentu, termasuk pada suasana yang dulu dianggap sederhana namun menyenangkan. Ratih juga menilai nostalgia dapat berbeda bentuknya pada tiap generasi.

"Sangat mungkin ada perbedaan antara generasi satu dengan yang lainnya, namun bukan berarti satu generasi lebih bernostalgia dari yang lain. Perbedaannya lebih kepada jenis stimulusnya dan cara pengalamannya dibentuk," ujar Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis Senior.

Ratih menilai, bukan berarti nostalgia semakin hilang, tetapi pemicunya berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika dulu suara pedagang mainan keliling bisa menjadi pemanggil memori, maka bagi anak sekarang, nostalgia bisa terbentuk dari musik viral, gim, atau video yang mereka tonton berulang kali. Lebih jauh, nostalgia yang kuat dapat memengaruhi perilaku konsumsi orang dewasa. Keputusan membeli mainan untuk anak sering kali bukan semata kebutuhan, tetapi karena dorongan emosional untuk mengulang pengalaman masa kecil.

"Untuk menghadirkan kembali kenangan tersebut, orang yang telah dewasa bisa saja membeli mainan untuk anak atau bahkan bagi dirinya sendiri. Dalam psikologi konsumen, fenomena ini dikenal sebagai nostalgia-driven consumption," kata Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis Senior.

Bertahan di Trotoar Jakarta

Di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, pedagang mainan keliling masih menjadi bagian dari pemandangan jalanan. Ahmad Fauzi (46), pedagang mainan yang sudah berjualan sekitar 15 tahun, memilih bertahan di area trotoar karena arus manusia yang tidak pernah sepi. Ahmad mengaku Senen menjadi titik strategis karena dipenuhi keluarga yang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia menjual balon karakter, pistol air, mainan kereta kecil, boneka gantungan, hingga gelembung sabun. Menurut Ahmad, pembeli terbesar bukan anak-anak, melainkan orangtua.

"Di Senen itu orangtua belanja, anak rewel, akhirnya mainan jadi solusi cepat biar anak tenang," ujar Ahmad Fauzi, Pedagang Mainan.

Ahmad juga mengaku aktivitas berjualan di ruang publik tidak selalu aman. Ia menyebut ada masa penertiban sehingga pedagang harus cepat memindahkan barang. Suhardi (57), pedagang mainan lainnya di sekitar Senen, mengaku sudah berjualan sejak awal 2000-an. Ia melihat perubahan perilaku konsumen dari tahun ke tahun. Suhardi mengatakan, dulu anak-anak lebih sering bermain di luar sehingga mainan jalanan lebih cepat laku. Kini, pembeli cenderung lebih selektif karena orang tua lebih banyak mempertimbangkan pengeluaran.

"Sekarang orang tua mikir dua kali buat kasih uang jajan," kata Suhardi, Pedagang Mainan.

Meski demikian, Suhardi masih sering menemui pembeli yang membeli bukan sekadar untuk anak, melainkan untuk menghadirkan pengalaman masa kecil. Suhardi mengaku pernah didatangi seorang bapak-bapak yang membeli baling-baling mainan karena ingin anaknya merasakan hal yang sama seperti dirinya dulu. Di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Surya (49) juga merasakan dinamika yang mirip. Ia berjualan di trotoar dekat pertokoan Pasar Baru dan mengandalkan keramaian wisata belanja.

"Kalau mainan biasa, anak sekarang bilang ÔÇÿudah ada di YouTubeÔÇÖ, jadi harus yang unik, ada lampu atau bunyi," ujar Surya, Pedagang Mainan.

Surya menyebut persaingan di kawasan wisata cukup ketat karena pedagang makanan dan aksesori juga banyak. Ia harus pintar memilih titik agar mudah terlihat pembeli. Namun, alasan ia tetap bertahan sederhana: uang bisa didapat harian. Menurut Surya, sistem pendapatan cepat seperti itu sulit tergantikan oleh pekerjaan lain bagi pekerja informal.

Pilihan Spontan dan Memori Orang Tua

Di trotoar dekat Pasar Senen, Rizka (34), karyawan swasta sekaligus ibu satu anak, baru saja membeli pistol gelembung dan balon kecil. Ia mengaku pembelian itu terjadi spontan ketika anaknya merengek melihat pedagang lewat. Rizka mengatakan membeli mainan di pedagang keliling terasa lebih praktis dibandingkan harus masuk toko. Ia juga menghindari godaan belanja berlebihan jika sudah berada di pusat perbelanjaan. Namun, Rizka mengakui ada alasan lain yang lebih personal karena suara peluit itu menjadi pemantik memori masa kecilnya.

"Dulu kalau dengar suara peluit pedagang mainan, saya langsung lari keluar rumah. Sekarang anak saya begitu, saya kebawa memori," ujar Rizka, Karyawan Swasta.

Rizka menilai anak-anak zaman sekarang jauh lebih cepat bosan. Mainan yang baru dibeli bisa saja hanya dimainkan sebentar sebelum anak kembali meminta YouTube. Meski begitu, ia tetap membeli mainan fisik karena ingin anaknya merasakan pengalaman bermain yang tidak melulu berbasis layar. Hal serupa dirasakan Siti (41), pedagang makanan rumahan yang ditemui di Pasar Baru. Ia membeli dua jepit rambut untuk anaknya dan keponakannya karena harga lebih murah dan mudah didapat.

"Iya. Dulu saya kecil juga sering beli jepit rambut yang dijual di pinggir jalan. Rasanya beda, lebih seru, karena pilih langsung, pegang langsung," kata Siti, Pedagang Makanan Rumahan.

Siti menilai meskipun anak-anak kini akrab dengan gawai, minat pada barang fisik seperti aksesori tetap ada, terutama untuk kebutuhan gaya. Di sisi lain, sosiolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina menilai masih bertahannya pedagang mainan keliling di wilayah perkotaan tidak bisa dilepaskan dari persoalan klasik yang belum selesai, keterbatasan ruang berjualan bagi pedagang kecil. Eksistensi mereka bukan semata faktor budaya, melainkan karena belum sepenuhnya terakomodasi dalam tata ruang kota modern.

"Masih eksisnya pedagang keliling ini berkaitan erat dengan belum terakomodirnya tempat berjualan yang layak bagi pedagang kecil," kata Nia Elvina, Sosiolog Universitas Nasional.

Ia menilai pemerintah seharusnya hadir dengan kebijakan yang lebih konkret, salah satunya menyediakan ruang-ruang berjualan yang aman dan manusiawi agar pedagang kecil tidak selalu berada dalam posisi rawan penertiban. Selain ruang berjualan, Nia juga menyoroti persoalan akses modal bagi mereka yang bertahan dalam kondisi terbatas.

"Saya kira pemerintah perlu menyediakan tempat-tempat untuk mengakomodir mereka ini," ujar Nia Elvina, Sosiolog Universitas Nasional.

Nia menambahkan pentingnya memberikan dukungan yang nyata bagi keberlangsungan hidup para pedagang ini di tengah modernisasi kota.

"Di samping perlu dibukanya juga akses permodalan bagi mereka," ucap Nia Elvina, Sosiolog Universitas Nasional.

Ekonomi Informal: Penopang yang Rapuh

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai pedagang mainan keliling merupakan bagian dari ekosistem urban informal economy perkotaan yang selama ini menopang kehidupan banyak keluarga. Ia menjelaskan pedagang mainan keliling berada di luar sistem perpajakan formal dan banyak yang belum terlindungi BPJS Ketenagakerjaan, namun kontribusinya nyata dalam rantai distribusi barang murah. Adrian merujuk data BPS per Agustus 2025 di mana pekerja sektor informal mencapai 57,80 persen dari 146,54 juta penduduk bekerja.

"Saya melihat pedagang mainan keliling sebagai bagian dari apa yang dalam literatur disebut sebagai urban informal economy," kata Adrian Nalendra Perwira, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Sektor informal menjadi bantalan ketika sektor formal belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja. Ia menilai pedagang mainan keliling memiliki posisi strategis sebagai last-mile retailer yang menjangkau area-area yang tidak tersentuh peritel modern. Namun, posisi itu rapuh karena setiap mata rantai tertekan situasi ekonomi. Adrian menyebut peluang bertahan memang menyempit, terutama melawan e-commerce, namun ceruk mainan murah dan tren viral masih bisa dimanfaatkan.

"Kalau pedagang mainan keliling masih banyak terlihat, itu bukan berarti bisnisnya saja yang sedang bagus, melainkan juga menunjukkan bahwa alternatif pekerjaan yang lebih aman dan produktif masih terbatas," ujar Adrian Nalendra Perwira, Peneliti Ekonomi GREAT Institute.

Di Jakarta, aktivitas ini tetap berhadapan dengan aturan. Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, menegaskan bahwa penggunaan fasilitas sosial dan fasilitas umum untuk berdagang masuk kategori pelanggaran sesuai Perda Nomor 8 Tahun 2007.

"Sesuai Perda 8 Tahun 2007, mengenai tramtibum yang mengokupasi fasos fasum berarti melanggar," ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kasatpol PP Jakarta Pusat.

Artikel terkait

Rekomendasi