JAKARTA, KOMPAS.com - Pekerjaan membersihkan kaca gedung tinggi masih menjadi salah satu profesi dengan risiko kerja tinggi di wilayah perkotaan.
Di balik tampilan gedung-gedung perkantoran yang bersih dan mengilap, ada pekerja yang setiap hari bergantung pada tali pengaman di ketinggian puluhan lantai.
Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai profesi tersebut tidak bisa diperlakukan seperti pekerjaan biasa karena memiliki tingkat risiko kecelakaan yang besar.
Karena itu, pekerja pembersih kaca gedung tinggi wajib mendapatkan perlindungan keselamatan kerja yang memadai, termasuk jaminan BPJS Ketenagakerjaan dan alat pelindung diri (APD).
Timboel mengatakan, seluruh pekerja, termasuk pekerja freelance, tetap memiliki hak atas perlindungan kerja sebagaimana diatur dalam sejumlah regulasi ketenagakerjaan.
ÔÇ£Pekerjaan itu berisiko tinggi. Jadi wajib ada jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan perlindungan keselamatan kerja,ÔÇØ kata Timboel saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Rabu (20/5/2026).
Sejumlah petugas pembersih kaca di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Ia menegaskan, status freelance tidak bisa dijadikan alasan perusahaan untuk melepaskan tanggung jawab terhadap keselamatan pekerja.
Perusahaan atau pemberi kerja tetap wajib memastikan pekerja yang diturunkan memiliki perlindungan sosial dan perlengkapan kerja yang aman.
Menurut dia, pekerja pembersih kaca gedung tinggi harus bekerja dengan dukungan alat keselamatan lengkap karena pekerjaan tersebut mengandalkan keseimbangan tubuh, ketelitian, dan kemampuan teknis di ketinggian.
Timboel mengatakan, perusahaan juga wajib menyediakan APD dan perlengkapan keselamatan kerja, bukan membebankan seluruh biaya kepada pekerja.
ÔÇ£Tidak boleh pekerja membeli sendiri seluruh alat perlindungan dirinya. Itu tanggung jawab perusahaan karena pekerjaan ini risikonya tinggi,ÔÇØ ujar dia.
Ia menilai pengawasan dari pemerintah, khususnya pengawas ketenagakerjaan, masih perlu diperkuat.
Sebab, pekerjaan di sektor berisiko tinggi tidak cukup hanya mengandalkan keberanian pekerja.
Selain perlindungan sosial, Timboel menyoroti pentingnya sertifikasi dan kemampuan teknis bagi pekerja rope access atau akses tali.
Menurut dia, pekerja yang turun membersihkan gedung tinggi harus memiliki pengalaman dan keterampilan khusus agar risiko kecelakaan dapat ditekan.
ÔÇ£Bukan sekadar orang berani lalu disuruh turun. Harus punya skill, pengalaman, dan sertifikat,ÔÇØ kata dia.
Ia menambahkan, gedung-gedung tinggi yang menggunakan jasa pembersih kaca juga perlu memiliki SOP yang jelas terkait penggunaan tenaga kerja rope access.
Pemerintah, menurut dia, perlu memastikan setiap pekerja yang diturunkan memang kompeten dan terlindungi.
Bekerja dengan Tali di Tengah Risiko Angin dan Cuaca
Saat ditemui Kompas.com di Gedung BPH Migas, Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026), sejumlah pekerja pembersih kaca gedung tinggi tampak bersiap menggunakan perlengkapan keselamatan sebelum mulai bekerja.
Mereka mengenakan helm safety, full body harness atau APD, sarung tangan, hingga sepatu antislip.
Pada harness yang melekat di tubuh, terpasang sejumlah alat berupa descender, ascender, mobile fall arrester, carabiner, dan tali karmantel yang digunakan untuk mengatur pergerakan naik-turun di sisi gedung.
Rizki, pembersih kaca gedung saat ditemui di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Beberapa pekerja juga menggunakan kacamata pelindung dan penutup wajah untuk mengurangi terpaan debu, panas matahari, hingga angin di ketinggian.
Saat bekerja, mereka mengandalkan sistem tali yang terhubung ke tubuh untuk bergerak di sisi gedung sambil membersihkan kaca.
Dengan bantuan alat pengontrol tali dan pengait logam, pekerja menjaga keseimbangan tubuh di tengah terpaan angin dan kondisi gedung yang tidak selalu rata.
Para pekerja yang ditemui Kompas.com merupakan pekerja freelance di bawah naungan PT Moramon, perusahaan yang bergerak di bidang general contractor, supplier and trading, konstruksi, desain interior, hingga building maintenance.
Salah satu pekerja, Fajar Maulana, mengaku tertarik menjalani profesi tersebut karena menyukai tantangan.
ÔÇ£Awalnya takut, karena manusia pasti takut saat belajar. Tapi lama-lama terbiasa jadi lebih berani, apalagi sudah kenal SOP dan alat-alatnya,ÔÇØ ujar Fajar saat ditemui di Gedung BPH Migas.
Pria berusia 27 tahun itu telah bekerja sebagai pembersih kaca gedung tinggi selama sekitar tujuh tahun.
Ia mengaku pernah menangani gedung setinggi 72 lantai atau sekitar 257 meter di Jakarta.
Menurut Fajar, pekerjaan tersebut tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kondisi emosi yang stabil. Sebab, sedikit kepanikan dapat berbahaya ketika bekerja di ketinggian.
Ia mengatakan, sebelum bekerja para pekerja biasanya melakukan briefing pagi dan pemeriksaan alat keselamatan sebanyak dua kali.
ÔÇ£Kalau ada masalah pribadi biasanya saya diam saja. Karena pekerjaan ini berkaitan dengan emosi, jadi harus tetap stabil saat turun,ÔÇØ kata dia.
Fajar menyebut kondisi paling menegangkan biasanya terjadi ketika menangani gedung dengan struktur overhang atau bangunan yang menjorok keluar sehingga posisi pekerja tidak lurus dengan dinding gedung.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika hujan turun mendadak, pekerja harus segera mengambil keputusan apakah pekerjaan bisa dilanjutkan atau harus dihentikan.
ÔÇ£Kalau hujan tiba-tiba biasanya langsung turun kalau memungkinkan. Tapi kalau sudah telanjur di tengah pekerjaan itu agak susah,ÔÇØ ujarnya.
Meski penuh risiko, Fajar mengaku belum pernah mengalami cedera serius selama bekerja.
Ia juga mengatakan profesi tersebut memberinya penghasilan yang cukup besar dibanding pekerjaan lain.
ÔÇ£Kalau yang sudah berpengalaman bisa Rp 15 juta ke atas,ÔÇØ kata dia.
Namun, menurut Fajar, masih banyak masyarakat yang salah memahami profesi rope access.
Ia mengatakan banyak orang mengira pekerja seperti dirinya bekerja menggunakan gondola, padahal sistem kerjanya berbeda.
ÔÇ£Kalau gondola pakai mesin dan pijakan, sementara kami murni pakai tali,ÔÇØ ucap Fajar.
Sistem Freelance dan Beban Alat Keselamatan yang Mahal
Cerita serupa disampaikan Rizki Rianto (36) yang telah bekerja sebagai pembersih kaca gedung tinggi sejak 2014.
Sebelum terjun ke profesi tersebut, Rizki bekerja di bengkel. Ia kemudian diajak temannya untuk mencoba pekerjaan rope access karena dianggap memiliki penghasilan lebih baik.
ÔÇ£Awalnya lihat ke bawah takut juga. Tapi karena didampingi senior jadi lebih tenang,ÔÇØ kata Rizki.
Ia mengatakan proses pelatihan untuk menjadi pekerja rope access tidak singkat.
Menurut dia, dulu dirinya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun hingga benar-benar mendapatkan lisensi dan bisa diturunkan bekerja.
Rizki mengaku sistem kerja freelance membuat para pekerja tidak memiliki gaji tetap. Mereka bekerja berdasarkan proyek dan hasil pembayaran dibagi rata dalam tim.
ÔÇ£Kalau ada proyek baru diajak kerja. Jadi sistemnya bagi hasil,ÔÇØ ujar dia.
Dalam satu bulan, ia biasanya mendapatkan satu hingga dua proyek. Namun pada periode tertentu, proyek bisa sepi sehingga penghasilan ikut menurun.
Meski demikian, Rizki mengaku tetap memilih sistem freelance karena dianggap lebih fleksibel dibanding bekerja tetap di perusahaan.
Di sisi lain, sistem tersebut membuat pekerja harus menanggung sendiri sebagian kebutuhan kerja, termasuk membeli alat keselamatan.
Menurut Rizki, satu set perlengkapan rope access bisa mencapai Rp 25 juta. Peralatan itu harus dibeli secara bertahap dari hasil proyek dan tetap membutuhkan perawatan rutin.
ÔÇ£Alat sendiri semua. Dicicil dari hasil proyek,ÔÇØ kata dia.
Rizki mengatakan tantangan terbesar saat bekerja biasanya datang dari faktor angin. Di gedung tinggi, kondisi angin bisa berubah mendadak dan memengaruhi keseimbangan pekerja.
ÔÇ£Yang penting jangan panik. Kalau panik malah bisa blank,ÔÇØ ujarnya.
Selain membersihkan kaca, pekerja rope access juga kerap mengerjakan pengecatan, coating, hingga pekerjaan perawatan bagian luar gedung.
Hal senada diungkapkan Supriatna (33) yang telah bekerja sekitar 15 tahun di bidang tersebut. Sebelum menggunakan sistem rope access, ia sempat bekerja menggunakan gondola.
Ia menilai, rope access justru terasa lebih aman dibanding gondola karena pekerja bisa langsung turun sendiri ketika terjadi kondisi darurat.
ÔÇ£Kalau gondola harus menyelamatkan mesin juga. Kalau pakai tali kami bisa langsung turun sendiri,ÔÇØ ujarnya.
Supriatna mengatakan pekerja lama biasanya justru lebih berhati-hati karena sudah memahami risiko pekerjaan. Sebaliknya, pekerja baru kadang terlalu percaya diri dan mengabaikan standar keselamatan.
ÔÇ£Kalau yang sudah lama pasti lebih menjaga keselamatan,ÔÇØ kata dia.
Meski telah lama bekerja di profesi tersebut, Supriatna mengaku bahwa ketakutan yang dirasakan tidak pernah benar-benar hilang.
ÔÇ£Justru makin lama makin hati-hati karena sudah paham risikonya,ÔÇØ ucap dia.
Menurut Supriatna, penghasilan pekerja rope access berkisar Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per bulan tergantung proyek yang didapat.
ÔÇ£Sebenarnya masih kurang (pendapatan yang didapat) kalau dibanding risikonya,ÔÇØ kata dia.
Di Balik Gedung Mewah, Ada Pekerja yang Kerap Tak Terlihat
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai profesi pembersih kaca gedung tinggi mencerminkan ketimpangan sosial dan ekonomi di kota besar.
Ia menyampaikan, para pekerja tersebut bertugas menjaga simbol kemewahan perkotaan seperti gedung perkantoran, hotel, dan apartemen elite, tetapi sering berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.
ÔÇ£Nah dalam perspektif sosiologi, hal ini menunjukkan adanya pembagian kelas sosial yang jelas,ÔÇØ ujar Rakhmat saat dihubungi melalui telepon WhatsApp.
Ia mengatakan, masyarakat kota sering kali hanya menikmati hasil kerja mereka berupa gedung yang bersih dan megah tanpa menyadari risiko fisik maupun mental yang dihadapi pekerja.
Dalam pandangan sosiologi pekerjaan, profesi yang tidak membutuhkan pendidikan formal tinggi kerap dipandang memiliki status sosial rendah meski kontribusinya besar terhadap kehidupan kota.
Akibatnya, profesi pembersih kaca gedung tinggi sering kurang mendapatkan perhatian dan apresiasi publik.
Rakhmat menilai faktor ekonomi menjadi alasan utama banyak orang memilih pekerjaan dengan risiko tinggi seperti rope access.
Keterbatasan lapangan pekerjaan dan tuntutan kebutuhan hidup membuat sebagian pekerja bersedia mengambil risiko besar demi penghasilan yang lebih baik.
ÔÇ£Kondisi ini menunjukkan tekanan ekonomi dapat membuat seseorang menempatkan keselamatan diri sebagai prioritas kedua dibanding kebutuhan hidup,ÔÇØ ujarnya.
Ia menilai sistem perlindungan tenaga kerja untuk sektor berisiko tinggi masih perlu diperkuat, baik dari sisi keselamatan kerja maupun jaminan sosial.
Menurut dia, pemerintah dan perusahaan harus memastikan pekerja mendapatkan standar keselamatan kerja yang ketat, jaminan kesehatan, asuransi kecelakaan, hingga penghasilan yang layak.
Selain itu, masyarakat juga perlu membangun penghargaan sosial terhadap profesi-profesi manual dan berisiko tinggi yang selama ini sering dipandang sebelah mata.
ÔÇ£Pekerja tidak hanya dipandang sebagai alat produksi, tetapi juga manusia yang memiliki hak atas keselamatan, kesejahteraan, dan penghormatan sosial,ÔÇØ kata Rakhmat.