Sebanyak 14 perupa perempuan Indonesia menampilkan karya seni kontemporer yang merefleksikan keresahan sosial dan politik global dalam pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4. Eksibisi ini berlangsung di Gedung A Galeri Nasional Indonesia hingga 30 Juni 2026 sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Karya-karya yang dipajang mengusung tema ON THE MAPÔÇöArt, Science, Technology & Culture dengan menonjolkan kritik terhadap ketidakstabilan situasi dunia. Salah satu fokus utama pameran ini adalah penggunaan teknologi dan medium tradisional untuk merawat ingatan kolektif perempuan.
Seniman Rani Jambak menghadirkan instalasi berjudul Pamedangan yang menggabungkan teknik sulam tradisional Minangkabau dengan sensor bunyi. Melalui karya ini, ia menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat transmisi pengetahuan lintas generasi yang terinspirasi dari gerakan Kerajinan Amai Setia oleh Rohana Kudus.
"Di sini ada empat kanvas sulaman buat pengunjung yang terhubung dengan sensorik yang nantinya menghasilkan komposisi tertentu," katanya Rani Jambak, Seniman.
Rani berkolaborasi dengan pengrajin tradisional untuk menciptakan sulaman bermotif gunung dan bunga sebagai bentuk respons modern terhadap alam Minang. Penggabungan sensorik ini memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan narasi sejarah yang diusung.
Pameran ini juga menampilkan perspektif kritis dari Bibiana Lee melalui instalasi While We Watch. Karya tersebut menggunakan material silikon berbentuk tangan dengan tato naga dan qilin yang merepresentasikan luka demokrasi serta isu korupsi yang belum tuntas sejak era reformasi 1998.
"Tato qilin ini seperti panduan moral untuk mengingatkan mereka yang di pemerintahan agar tidak hanya memikirkan tentang korupsi yang sudah ternormalisasi, tapi juga memerintah dengan bermoral," ujarnya Bibiana Lee, Seniman.
Simbolisme makhluk mitologi Tionghoa tersebut digunakan sebagai pengingat etika bagi pemegang kekuasaan. Bibiana menekankan pentingnya moralitas dalam menjalankan pemerintahan agar tetap berpihak pada keadilan masyarakat.
Kurator pameran, Carla Bianpoen, menjelaskan bahwa seluruh seniman yang terlibat melakukan eksplorasi mendalam terhadap hubungan antara manusia, lingkungan, dan kondisi sosial-politik. Keresahan yang ditampilkan menjadi energi kreatif dalam setiap instalasi.
"Ada keresahan di dalam karya mereka. Hampir semua perupa melakukan eksplorasi pada dirinya, bumi, lingkungan, dan sosial politik yang sedang tidak menentu," katanya Carla Bianpoen, Kurator.
Pameran ini melibatkan deretan seniman perempuan ternama seperti Endang Lestari, Ines Katamso, KaNa Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Tara Kasenda, hingga Ve Dhanito. Setiap karya menawarkan pertanyaan kritis atas realitas dunia yang dihuni saat ini.