Japan Foundation Gelar Pameran Seni Superlative Artistry di Jakarta

Japan Foundation Gelar Pameran Seni Superlative Artistry di Jakarta
Foto: Ilustrasi Japan Foundation Gelar Pameran Seni Superlative Artistry di Jakarta.

Japan Foundation resmi membuka pameran bertajuk The Superlative Artistry of Japan yang menampilkan 38 karya seni lintas era pada 5ÔÇô25 Mei 2026 di Sakura Hall, Jakarta. Eksibisi ini bertujuan memperkenalkan kekayaan ekspresi seni serta kualitas teknik tinggi seniman Jepang kepada publik Indonesia.

Dilansir dari Lifestyle, kegiatan ini merupakan bagian dari program tur internasional yang sebelumnya telah menyambangi Selandia Baru dan direncanakan berlanjut ke Thailand. Sebanyak 15 seniman berpartisipasi dengan menyajikan koleksi mulai dari era Meiji hingga karya kontemporer modern.

Direktur Jenderal Japan Foundation Jakarta, Inami Kazumi, menjelaskan bahwa pemilihan koleksi dalam pameran ini menitikberatkan pada perpaduan antara aspek estetika dan kualitas teknis yang mumpuni.

"Pameran ini menghadirkan karya-karya yang menonjolkan teknik tinggi, ekspresi yang cermat, serta tingkat kesempurnaan yang mampu memberi pengalaman baru bagi pengunjung," ujar Inami Kazumi, Direktur Jenderal Japan Foundation Jakarta.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga berfungsi sebagai instrumen diplomasi untuk mempererat hubungan antarnegara melalui pengenalan nilai-nilai budaya Jepang yang mendalam. Program Officer Divisi Budaya Japan Foundation, Isma Savitri, menegaskan posisi pameran ini dalam rangkaian perjalanan global organisasi tersebut.

"Ini merupakan bentuk diplomasi budaya Jepang, di mana kami memperkenalkan seni dan nilai-nilai di baliknya ke berbagai negara," kata Isma Savitri, Program Officer Divisi Budaya Japan Foundation.

Seluruh karya yang dipamerkan memiliki keterkaitan melalui filosofi monozukuri, sebuah konsep yang menekankan pada penggabungan antara proses produksi dengan ketelitian emosional seniman.

"Monozukuri bukan hanya membuat benda, tetapi bagaimana detail, proses, dan jiwa seniman hadir di dalamnya," ujar Isma Savitri, Program Officer Divisi Budaya Japan Foundation.

Isma menambahkan bahwa dedikasi seniman Jepang terhadap kesempurnaan seringkali membuat hasil karya mereka lebih banyak disimpan di museum daripada memenuhi permintaan pasar yang masif.

"Mereka sangat perfeksionis, sehingga tidak bisa mengejar permintaan pasar. Akibatnya, sebagian karya terbaik justru disimpan di museum," jelas Isma Savitri, Program Officer Divisi Budaya Japan Foundation.

Selain artefak historis, pameran ini menyuguhkan karya kontemporer berupa instalasi objek harian serta karya audio-visual. Kehadiran beragam medium ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai transformasi kreatif dan dinamika perkembangan seni di Jepang dari masa ke masa.

Artikel terkait

Rekomendasi