Pameran ARTi Teddy Kenang Warisan Artistik S. Teddy D di Nadi Gallery

Pameran ARTi Teddy Kenang Warisan Artistik S. Teddy D di Nadi Gallery
Foto: Ilustrasi Pameran ARTi Teddy Kenang Warisan Artistik S. Teddy D di Nadi Gallery.

Nadi Gallery menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk ARTi Teddy yang berlangsung mulai 30 April hingga 20 Mei 2026. Acara ini didedikasikan untuk mengenang sosok perupa kontemporer ternama Indonesia, S. Teddy D.

Eksibisi tersebut mengumpulkan karya dari 27 seniman yang memiliki ikatan emosional maupun keselarasan artistik dengan almarhum. Seperti dikutip dari Lifestyle, pameran ini menampilkan beragam medium mulai dari instalasi, lukisan, hingga seni performans.

Kehadiran pameran ini tidak sekadar menjadi ruang memorial bagi S. Teddy Darmawan. Para kurator dan seniman berupaya melakukan pembacaan ulang terhadap gagasan artistik Teddy yang memberikan pengaruh signifikan bagi seni rupa kontemporer, khususnya di Yogyakarta.

S. Teddy D dikenal sebagai seniman yang berani menembus batasan medium konvensional. Dalam setiap karyanya, ia kerap menyisipkan unsur humor, kritik tajam, hingga sarkasme yang menjadi ciri khas kepribadiannya.

Salah satu poin perhatian utama dalam pameran ini adalah instalasi berjudul Senandung S. Teddy D. (2026) hasil karya Handiwirman Saputra. Objek setinggi 177 sentimeter ini tersusun dari serbuk pasir, serbuk bata merah, besi, dan ban sepeda.

Bentuknya menyerupai roda besar yang tampak statis. Kurator pameran, Wahyudin, mengungkapkan bahwa karya tersebut terinspirasi dari kolaborasi antara Handiwirman dan Teddy pada tahun 2000-an dalam proyek bertajuk Show Me the Way to the Next Bridge.

ÔÇ£Jadi dulu Handiwirman dan Teddy pernah membuat karya jembatan, ada rodanya. Semacam kolaborasi. Tapi rekognisinya itu karya Teddy,ÔÇØ kata Wahyudin.

Wahyudin menekankan bahwa pengaruh S. Teddy D masih terasa sangat kuat hingga saat ini. Jejaring ide dan praktik seninya terus mengalir serta diadopsi oleh banyak seniman, baik dari kalangan senior maupun generasi muda.

Apropriasi dan Pengarsipan Seni

Sejumlah seniman memilih untuk merespons karya-karya ikonik Teddy melalui teknik apropriasi. Asmudjo J. Irianto, misalnya, menampilkan patung Viva La Muerta (2026) yang mengambil inspirasi dari instalasi Teddy pada era awal milenium.

Di sisi lain, Iwan Effendi memindahkan energi karya tersebut ke dalam bidang kanvas. Ia menambahkan ikon boneka sebagai simbol baru dalam interpretasi visualnya terhadap warisan Teddy.

Mella Jaarsma, pendiri Cemeti Institute, turut berpartisipasi dengan menyajikan lima seri karya After Teddy's House/Head (2026). Ia mengenang Teddy sebagai figur yang sejak awal karirnya telah memilih jalur yang tidak biasa.

ÔÇ£Aku lupa pertama kali melihat karya Teddy di mana. Yang menariknya, dia selalu mencari di luar perbatasan,ÔÇØ ujar Mella Jaarsma.

Mella menilai bahwa bagi Teddy, teknik cetak atau printmaking bukan sekadar alat artistik. Medium tersebut digunakan sebagai sarana untuk membebaskan diri dari aturan-aturan kaku dalam seni lukis konvensional.

Isu mengenai dokumentasi juga diangkat oleh seniman Uji Hahan Handoko atau Hahan. Melalui karya media campuran yang memuat tangkapan layar media sosial Teddy, Hahan mengkritik lemahnya sistem pengarsipan seni rupa di tanah air.

ÔÇ£Padahal Mas Teddy baru 10 tahun meninggal, lantas bagaimana dengan seniman sebelumnya?ÔÇØ ujar Hahan.

Hahan menyayangkan kenyataan bahwa banyak pencapaian besar seniman Indonesia justru lebih terdokumentasi dengan baik di museum-museum luar negeri dibandingkan di institusi dalam negeri.

Metafora Sejarah Melalui Performans

Momen pembukaan pameran ARTi Teddy juga diwarnai oleh aksi performans dari Tisna Sanjaya yang menarik perhatian pengunjung. Selama hampir tujuh menit, Tisna melakukan aksi mencuci pakaian dan mengepel lantai.

Karya performans bertajuk Cleaning Service & Laundry (2026) tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Tisna menjelaskan bahwa tindakannya merupakan sebuah metafora mendalam tentang sejarah dan penggambaran tokoh.

ÔÇ£Mesin cuci ini juga bisa menjadi metafora seolah-olah dosa-dosa itu sudah dicuci bersih ketika seseorang dijadikan pahlawan. Padahal sejarahnya tidak sesederhana itu,ÔÇØ tutur Tisna Sanjaya.

Artikel terkait

Rekomendasi