Berbagai otoritas sensor di sejumlah negara memberlakukan pelarangan tayang terhadap sederet film populer global karena alasan politik, agama, hingga detail visual tertentu pada Senin (20/4/2026). Kebijakan ini menyasar film-film besar seperti Barbie hingga The Simpsons Movie akibat pertimbangan sensitivitas lokal.
Penyensoran tersebut sering kali didasari oleh motif moralitas dan kedaulatan negara. Dilansir dari Detikcom, film The Simpsons Movie (2007) dilarang di Myanmar karena aturan spesifik yang melarang penggunaan kombinasi warna kuning dan merah di media massa, sementara karakter film tersebut identik dengan warna kuning.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia melarang peredaran film komedi Zoolander (2001) yang dibintangi Ben Stiller. Langkah ini diambil otoritas setempat karena alur cerita film tersebut memuat plot upaya pembunuhan terhadap Perdana Menteri Malaysia yang dianggap tidak pantas untuk ditonton publik domestik.
Vietnam juga mengambil langkah serupa terhadap film Barbie (2023) meski karya tersebut menjadi fenomena global. Pemerintah Vietnam melarang penayangannya karena terdapat adegan yang menampilkan peta dengan "sembilan garis putus-putus" yang merupakan simbol klaim teritorial Tiongkok di Laut China Selatan.
Otoritas sensor di Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, turut membatalkan penayangan film animasi Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023). Keputusan ini dipicu oleh kemunculan poster di latar belakang yang memuat pesan dukungan terhadap anak-anak transgender yang dinilai melanggar norma sensor di wilayah tersebut.
Sentimen keagamaan menjadi alasan utama Mesir melarang film Bruce Almighty (2003). Karakter Jim Carrey yang memerankan sosok berkekuatan Tuhan dianggap sebagai penistaan agama oleh otoritas Mesir, sementara Jerman dan Korea Selatan pernah melarang Battle Royale (2000) karena kekhawatiran terhadap aksi peniruan kekerasan ekstrem anak sekolah.
Larangan unik lainnya terjadi di Korea Utara terhadap film bencana 2012 (2009). Pemerintah setempat melarang film tersebut karena tahun 2012 bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Kim Il-sung, sehingga penggambaran kiamat pada tahun tersebut dianggap sebagai pertanda buruk bagi negara.