Museum Nasional Indonesia meluncurkan pameran bertajuk "Pendar" dan "Numismatik" untuk memperingati hari ulang tahun lembaga tersebut yang ke-248 di Jakarta mulai akhir pekan ini, 24 April 2026. Pameran ini bertujuan memperkenalkan kembali koleksi bersejarah kepada masyarakat melalui narasi teknologi dan budaya yang lebih mendalam.
Dilansir dari Lifestyle, pameran "Pendar" memfokuskan pada koleksi alat penerang sejak abad ke-9 Masehi yang menggambarkan perkembangan estetika serta nilai spiritual masyarakat masa lalu. Selain aspek fungsional, pameran ini menonjolkan kemajuan teknik metalurgi pada era kolonial yang memengaruhi gaya hidup dan identitas sosial.
Sementara itu, pameran "Numismatik" menampilkan transformasi mata uang di Indonesia yang diposisikan sebagai artefak budaya, bukan sekadar alat tukar. Koleksi yang dihadirkan mencakup periode Hindu-Buddha, kesultanan Islam, masa kolonial Eropa dan Jepang, hingga periode kemerdekaan Indonesia.
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menjelaskan bahwa kedua eksibisi ini merupakan upaya untuk membuat koleksi museum memiliki makna yang lebih kuat bagi pengunjung kontemporer.
"Melalui pendekatan ini, diharapkan museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat. Ke depan, Museum Nasional Indonesia akan terus menghadirkan berbagai pameran dan program yang edukatif serta inovatif, sehingga pengunjung dapat memperoleh pengalaman yang beragam," ujar Esti Nurjadin, Kepala Museum dan Cagar Budaya.
Langkah ini diambil guna merespons perubahan minat masyarakat terhadap ruang edukasi yang lebih kontekstual. Beberapa koleksi unggulan yang dapat disaksikan publik meliputi uang kasha Banten beraksara Arab, koin emas Syailendra, mohur, doit, hingga uang gobog wayang.
Perayaan hari jadi ini berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (24/4) hingga Minggu (26/4). Agenda hari pertama mencakup pembukaan pameran di Gedung A serta kegiatan Yoga Night at the Museum di Gedung B pada waktu malam.
Kegiatan berlanjut pada Sabtu (25/4) dengan lokakarya clay painting, kelas tari tradisional, dan booth konservasi. Penutup rangkaian acara pada Minggu (26/4) akan diisi dengan diskusi sejarah mengenai Java Man serta sesi bincang santai di area kedai kopi museum.