Masalah aroma tidak sedap dari mulut anjing peliharaan kerap menjadi keluhan utama para pemilik saat berkonsultasi dengan dokter hewan. Penanganan umum biasanya melibatkan penyikatan gigi, pemberian antibiotik, atau penggunaan cairan kimia.
Dikutip dari Media Indonesia, sebuah penelitian terbaru menawarkan solusi yang lebih praktis menggunakan senyawa dari molase atau tetes tebu. Riset dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry ini digagas oleh Hongye Li bersama tim ilmuwan pangan dari Universitas Jiangnan di Wuxi, Tiongkok.
Para peneliti memanfaatkan limbah industri pemurnian tebu tersebut karena kaya akan polifenol. Senyawa tanaman ini juga jamak ditemukan dalam teh hijau dan anggur merah.
Aroma tidak sedap pada mulut anjing umumnya dipicu oleh ketidakseimbangan mikrobioma, khususnya bakteri Porphyromonas dan Fusobacterium yang berkembang biak di plak gigi. Bakteri-bakteri tersebut mengeluarkan gas sulfur yang memicu bau.
Dalam uji coba tersebut, tim peneliti melibatkan sepuluh anjing peliharaan yang sehat namun memiliki masalah bau mulut. Peneliti menyemprotkan ekstrak molase langsung ke dalam mulut anjing, lalu memeriksa sampel air liur serta mengukur kadar kimianya.
Hasilnya, perubahan drastis langsung terasa hanya dalam waktu satu jam. Tim penilai melaporkan bau mulut anjing hampir tidak terdeteksi lagi.
Alat laboratorium juga menunjukkan bahwa senyawa bau tersebut bukan sekadar ditutupi oleh wangi semprotan. Senyawa tersebut benar-benar dipecah atau dihentikan produksinya.
"Semprotan itu sendiri memiliki aroma ringan seperti tanaman dan molase, tetapi tidak kuat atau tidak menyenangkan," ujar Li.
Efek Jangka Panjang dan Cara Kerja Polifenol
Setelah penggunaan rutin setiap hari selama satu bulan, hasil yang lebih mendalam mulai terlihat. Komposisi bakteri dalam mulut anjing berubah, di mana populasi bakteri Porphyromonas dan Fusobacterium berkurang drastis.
Melalui simulasi komputer, peneliti menemukan tiga cara kerja polifenol molase. Pertama, mengikat langsung senyawa bau di air liur sebelum menguap.
Kedua, masuk ke dalam enzim bakteri dan menghentikan produksi gas bau. Ketiga, mengurangi populasi bakteri jahat secara bertahap dalam hitungan minggu.
Meski uji coba ini masih berskala kecil, temuan ini memberikan alternatif yang jauh lebih praktis dan ramah bagi pemilik yang kesulitan menyikat gigi anjingnya. Di masa depan, pendekatan multi-fungsi ini bahkan dinilai berpotensi untuk diadaptasi ke dalam produk perawatan gigi manusia.