Pakar IPB Luruskan Mitos Lele Makan Kotoran dan Standar Higienitas

Pakar IPB Luruskan Mitos Lele Makan Kotoran dan Standar Higienitas
Foto: Ilustrasi Pakar IPB Luruskan Mitos Lele Makan Kotoran dan Standar Higienitas.

Stigma mengenai ikan lele sebagai konsumsi yang tidak higienis karena dianggap memakan kotoran masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Dilansir dari Detik Health, persepsi negatif ini membuat sebagian orang ragu untuk mengonsumsi ikan tersebut karena dianggap kurang bersih.

Padahal metode pemeliharaan ikan kumis ini telah mengalami transformasi signifikan menuju sistem yang lebih modern dan terkontrol. Praktik budidaya saat ini sangat memperhatikan aspek kualitas air serta asupan nutrisi yang diberikan kepada ikan.

"Anggapan tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi budidaya saat ini. Budidaya saat ini lele dipelihara dengan menggunakan air bersih secara intensif dengan berbagai macam metode teknologi," ujar pakar budidaya perikanan dari IPB University, Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si.

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa sistem tradisional yang tidak terstandar mulai ditinggalkan oleh para pembudidaya. Pengelolaan lingkungan hidup ikan kini menjadi prioritas utama untuk menghasilkan produk perikanan bermutu tinggi.

Pemanfaatan teknologi perikanan terkini memungkinkan pemeliharaan lele dilakukan secara lebih intensif dan terukur. Pengawasan ketat terhadap lingkungan hidup ikan memastikan kualitas daging lele tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.

Dalam operasional skala industri, penggunaan pakan telah beralih sepenuhnya pada produk yang memiliki standar nutrisi jelas. Hal ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan optimal sekaligus menjaga kestabilan ekosistem di dalam kolam budidaya.

"Sudah jarang sekali bahkan tidak ada, untuk budidaya lele skala industri, rata-rata petani sudah memelihara secara intensif dengan menggunakan pakan pabrikan atau pakan mandiri," ujar Cecilia.

Perubahan pola asuh ikan ini menjamin kualitas hasil panen yang lebih layak dikonsumsi masyarakat luas. Penggunaan pakan pabrikan meminimalkan risiko kontaminasi yang dahulu sering dikaitkan dengan metode pemeliharaan tradisional.

Risiko Keamanan Pangan dan Kontaminasi

Meskipun mayoritas pembudidaya sudah menerapkan standar modern, kewaspadaan terhadap kualitas pakan dan lingkungan tetap diperlukan. Cecilia mengingatkan bahwa pemberian pakan yang tidak sesuai standar dapat memicu masalah pada keamanan pangan.

Kondisi lingkungan kolam yang kotor berisiko menimbulkan berbagai jenis kontaminasi yang berbahaya bagi kesehatan. Masalah ini bisa muncul dalam bentuk gangguan biologi, kimia, maupun fisika pada daging ikan.

"Dari sisi keamanan pangan tidak dibenarkan. Pakan yang diberikan dan lingkungan yang kotor dapat menyebabkan kontaminasi baik secara kimia, biologi maupun fisika," jelas Cecilia.

Ia juga menambahkan bahwa secara fisik ikan dari lingkungan tidak higienis tetap bisa berubah menjadi daging untuk dikonsumsi. Namun, kekhawatiran utama terletak pada potensi bakteri yang melekat pada produk tersebut.

"Sebenarnya bisa saja dikonsumsi, karena sudah menjadi daging, namun dikhawatirkan daging tersebut terkontaminasi bakteri dan secara keamanan pangan tidak higienis," lanjutnya.

Edukasi mengenai cara budidaya ikan yang baik terus dilakukan secara masif untuk memberikan pemahaman benar kepada publik. Masyarakat diharapkan lebih percaya diri dalam memilih lele sebagai sumber nutrisi karena proses produksinya kini telah mengikuti standar kesehatan baku.

"Secara terus menerus dan masif dilakukan edukasi bahwa ikan lele sekarang sudah dibudidaya dengan benar sesuai dengan cara budidaya ikan yang baik," tutup Cecilia.

Artikel terkait

Rekomendasi