Sani B Hermawan Paparkan Metode Membangun Minat Baca Anak

Sani B Hermawan Paparkan Metode Membangun Minat Baca Anak
Foto: Ilustrasi Sani B Hermawan Paparkan Metode Membangun Minat Baca Anak.

Minat baca pada anak dapat dibangun sejak usia dini tanpa paksaan melalui penciptaan suasana harian yang menyenangkan dan mendekatkan mereka dengan buku. Langkah ini menjadi solusi bagi para orang tua di tengah maraknya penggunaan gawai dan hiburan digital, seperti dilansir dari Lifestyle pada Senin (18/5/2026).

Budaya literasi tersebut perlu diperkenalkan dalam lingkungan keluarga agar anak tidak merasa asing terhadap buku. Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan fasilitas penunjang yang mudah diakses di dalam rumah.

"Jadi, culture atau budaya baca bisa dikenalkan sejak dini, sehingga anak sudah familier dan merasa dekat dengan buku," ujar Sani B. Hermawan, Psikolog Anak dan Keluarga.

Penyediaan sudut baca khusus yang nyaman dan mudah dijangkau menjadi salah satu metode sederhana di rumah. Area ini tidak memerlukan ruang besar atau mewah, melainkan cukup ditata dengan rak kecil berwarna menarik, karpet, atau bantal duduk agar anak merasa betah.

"Misalnya ada sudut baca anak, ditaruh rak-rak buku yang menyenangkan yang anak gampang baca dan ambilnya," kata Sani B. Hermawan, Psikolog Anak dan Keluarga.

Kehadiran fasilitas tersebut berfungsi membiasakan anak melihat buku sebagai bagian dari aktivitas harian, bukan sekadar sarana belajar sekolah. Selain itu, pemilihan jenis bacaan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan usia dan minat anak.

Anak usia prasekolah lebih tertarik pada buku bergambar besar, buku pop-up, atau buku interaktif dengan suara dan warna cerah. Sementara itu, anak yang lebih besar dapat mulai dikenalkan pada komik edukatif, buku cerita petualangan, hingga buku pengetahuan sesuai ketertarikan mereka.

Keterlibatan orang tua juga memegang peran krusial melalui penyediaan waktu rutin untuk membaca bersama atau mendiskusikan isi buku. Aktivitas membaca bagi anak kecil dapat dibuat interaktif seperti mengajak menebak cerita, mencari perbedaan gambar, atau menjawab teka-teki.

"Disesuaikan dengan usia anak, terpenting sebenarnya anak merasa nyaman, enak, ada interaksi antara orangtua dan anak dalam membaca, misalnya dibacakan waktu sebelum tidur, jadi bahan interaksi dengan orang tua," kata Sani B. Hermawan, Psikolog Anak dan Keluarga.

Rutinitas membacakan cerita sebelum tidur sekaligus berfungsi mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Di sisi lain, penggunaan buku fisik dinilai memberikan dampak perkembangan yang lebih baik bagi anak usia dini dibandingkan buku digital.

Pengalaman sensorik dari buku fisik dapat melatih fokus, stimulasi saat menyentuh halaman, dan melihat ilustrasi secara langsung. Meskipun demikian, gawai atau buku elektronik tetap bisa menjadi alternatif yang praktis bagi anak yang berusia lebih dewasa.

"Secara isi, kalau untuk anak-anak lebih menarik buku fisik, dan dampak secara fisik dan perkembangan anak juga lebih bagus buku fisik daripada buku digital," ungkap Sani B. Hermawan, Psikolog Anak dan Keluarga.

Pembiasaan membaca buku secara konsisten juga efektif mengurangi ketergantungan anak pada layar gawai. Selain itu, aktivitas literasi ini bermanfaat melatih kemampuan berpikir mendalam, mengasah imajinasi, serta membantu anak memahami emosi dan berinteraksi sosial.

Artikel terkait

Rekomendasi